That Idiot Jerk Loves Me (Oscar Series)

That Idiot Jerk Loves Me (Oscar Series)
Episode 7



"Katakan itu setelah kau tidak sembarangan mencium orang lain dan memacarinya." ucap Jevan sinis. "Ohya tambahkan lagi perlukah aku yang mengecek keadaan mentalmu?" ucap Jevan lagi lalu berjalan mendekati Lisa. "Setidaknya aku masih normal berpacaran diusiaku dan tidak sepertimu yang pacaran saja belum pernah!" ucap Devian egois. "Begitu? Bagaimana kalau aku bilang alasan aku belum punya pacar karna Lisa?" ucapnya lalu mengecup Lisa singkat dan itu membuat Lisa kaget sejadi-jadinya dan juga tambahkan kalau Devian juga merasa sekujur tubuhnya panas.


"Ayo keluar dari rumah sakit gila ini." ucap Devian lalu menarik Lisa dengan kasar dan keluar dari klinik itu. "Hey! Lepaskan aku! Kenapa kau harus kesini? Ini gara-gara kamu!" seru Lisa dengan nada menuduh. Oke.. Sekali lagi Devian katakan dia benci dituduh. "Apa kau mau pacaran dengan dia?" tanya Devian pada akhirnya dan tidak dijawab karna Lisa tampaknya sedang berpikir keras. "Kalau tidak tau jawabannya lebih gak usah datang kesini lagi kalau kau tidak ingin diapa-apakan." ucap Devian lalu membukakan pintu mobilnya yang langsung ditolak oleh Lisa. Lalu Lisa menunjuk ke sebuah mobil BMW yang diparkir tidak jauh dari mobilnya. "Aku membawa kendaraan." ucapnya singkat. "Oke." hanya itu yang dikatakan Devian namun dia dengan segera mengambil ponselnya begitu Lisa memasuki mobilnya. "ikuti dia." ucap Devian lalu masuk ke mobilnya sendiri dan melaju pulang ke penthousenya.


&&&


Bagi Lisa, Jevan sebenarnya adalah kakak sekaligus sahabat untuknya. Kenapa? Lisa masih ingat ketika dia dan Devian masih kecil dan Devian sering ke rumahnya, Jevan juga datang beberapa kali dan yah.. untuk menjaga mereka sesekali. Sampai saat Jevan mengatakan alasan dia tidak punya pacar karna Lisa hm.. belum pernah terpikir di benaknya untuk pertama kali ada yang menyatakan cintanya. Setaunya tidak ada yang berani mendekatinya mengingat sikap judesnya itu yang sulit dimengerti.


"nona, sepertinya ada yang mengikuti kita." ucap supir yang membawa mobil Lisa. Lisa pun berbalik untuk melihat dan dia tau itu siapa. Siapa pula yang tidak mengenal mobil bodyguard cowok bodoh itu?


"biarkan saja, dia bukan orang yang berbahaya." jawab Lisa lalu mengambil iphone dan mengetikkan sesuatu.


"Hai em! Mau minum kopi?" tanya Lisa setelah ia melihat jam tangannya yang menunjukkan waktu pukul 4 sore itu. "tentu." balas Emily dengan cepat. "meet di kafe biasa ya atau perlu kujemput?" tanya Lisa lagi. "Tidak usah, kita ketemu disana saja." balas Emily kemudian.


"Damian, kita ke kafe London Street." ucap Lisa kepada supirnya dan yang dipanggil pun mengatakan baik nona.


&&&


"Maaf karna aku kasar dengan pacarmu Em. Aku tidak bermaksud." ucap Lisa pada akhirnya karna keadaan sangat canggung. "tidak apa-apa kok." jawab Emily cuek. Hm.. Emily ingin menanyakan sesuatu pada Lisa. "Je'nne.. kamu menyukai Devian ya?" tanya Emily pada akhirnya dan itu membuat Lisa tersentak. "Tentu saja tidak em. Aku senang kamu akhirnya punya pacar tapi sayangnya merupakan orang menyebalkan itu. Tapi selagi kamu bahagia aku juga turut bahagia kok!" ucap Lisa menjelaskan. "Ohh.. baiklah terima kasih Je'nne i love you dan juga kamu sudah kenal Devian dari kecil kan? Boleh cerita tentang dia??" ucap Emily lalu mereka pun larut dalam percakapan para gadis remaja pada umumnya.


"Halo mom ada apa?" tanya Devian begitu tiba dirumah dan mendapati ponselnya berbunyi. "Malam ini pulang ya sayang, Mi'lley akan kembali ke Berlin besok." ucap Rika ramah. "oke.. mom." jawab Devian lalu mematikan ponselnya. Ibunya selalu mengutamakan keluarga daripada hal lain jadi Devian tau itu. Karna keluarga Edgar sudah hampir sama sekali keluarganya bagi ibunya.


&&&


"Jadi.. je'nne ini sudah jam 7 malam kamu tidak balik? Bukannya Kak Mi'lley akan pergi lagi besok?" tanya Emily di tengah pembincangan mereka. "oh.. hmm.. entahlah aku malas saja." jawab Lisa dengan cuek. "kau yakin? Nanti seperti yang kau ceritakan kalau Devian akan kesini menjemputmu?" tanya Emily lagi. "emm.. baiklah sebaikny aku pulang sebelum si idiot itu datang kesini." ucap Lisa pada akhirnya. Dia tidak ingin Devian datang dan menyeretnya di depan Emily, teman sekolahnya yang tidak lebih dari itu. Emily pun mengangguk dan tersenyum lalu keduanya berdiri keluar dari kafe dan masuk ke mobil masing-masing.


"Damian, ke rumah." ucap Lisa lalu menatap ke jendela, ia suka pemandangan malam hari kota London. Yah.. setidaknya tenang sekali, ia suka ketenangan yang jarang ia dapatkan seperti ini sampai ponsel dia kemudian berdering lagi. Yang menelepon adalah Devian, dengan nama "idiot jerk" di layarnya dia langsung memutuskan hubungan.


Terdengar lagi bunyi dering dan terus menerus hingga Lisa kesal dan memilih mengangkatnya. "Halo Lisa." ucap Devian dengan nada tenang. Lisa mengangkat sebelah alisnya, hmm si idiot iti tidak menyadari kalau dirinya ditolak saat menelepon. "apa." balas Lisa singkat. "em.. hanya ingin memastikan kau sedang perjalanan pulang?" tanya cowok di ujung situ dengan nada ragu. "jangan menanyakan jawaban yang seharusnya sudah kau ketahui." ucap Lisa lalu berbalik, melihat mobil bodyguard Devian masih mengikutinya. "kau yakin? Gps di mobilmu bukan ke rumah." ucap Devian dengan nada yakin. "Tunggu! Kau menaruh GPS di mobilku???" tanya Lisa tersinggung. "yah.. siapa tau berfungsi dan tunggu dulu aku serius kau tidak salah jalan?" tanya Devian sekali lagi. Lisa curiga sehingga dia menatap sekitar jalan yang mulai tidak ia kenali. "Damian, kita kemana?" tanya Lisa dan tidak dijawab. Ketika Lisa menatap Damian, supirnya lama-lama. Itu bukan supirnya, itu.. dia tidak tau siapa yang jelas pakaiannya sama seperti Damian tapi wajahnya berbeda.


"hey! Siapa kau?" tanya Lisa kemudian. "Diamlah nona sebelum aku mengoyak mulutmu." ucap pria itu dan mempercepat kecepatan mobilnya.


&&&


"Sepertinya dia memang bukan supirnya tuan." ucap bodyguard Devian kepada Devian. "Sial!" seru Devian lalu berlari keluar rumah dan menaiki Audinya untuk mengikuti Lisa. Dia tidak peduli lagi dengan peraturan kedua orang tuanya, masa bodoh yang penting keselamatan Lisa.