
Lisa sebenarnya sempat stress karena dia tidak pernah ditegur sebelumnya dan selalu belajar menjadi contoh baik di keluarga maupun di sekolahnya. Yah walaupun sebenarnya sikap dia tempramen namun bakat yang dia miliki terkadang membuat orang-orang segan dengannya.
Dan sekarang Lisa hanya menangis dalam diam dan Devian masih terus memeluk Lisa dan sesekali mengelus kepalanya. Itulah kesulitan Lisa dan Devian paham. Kalau Devian sekarang merasa sedih, ketika ternyata dia tidak peka kalau Lisa memiliki banyak sekali beban dimana itu semua tidak bisa dibandingkan dengan dirinya yang easy going tentunya. Devian memang pernah merasakan yang namanya memiliki beban, seperti dia dibesarkan oleh keluarga yang setengah lembut setengah keras. Ibunya slalu menjadi tempat dia menopang ketika sang ayah sedang mendidiknya. Mendidik dalam artian Devian itu diajarkan oleh ayahnya untuk bersikap tenang dan segala situasi karena kepanikan adalah kunci kehancuran. Memang terdengar biasa saja dan malah bagus untuk siapa saja, namun sayangnya Devian dididik demikian ketika dia masih berumur kurang dari 10 tahun. Dimana umur anak-anak yang pada umumnya bermain-main dan Devian sudah diajarkan cara berpikir yang bijaksana dan benar.
Devian sendiri tidak menyalahkan ayahnya, dia sendiri paham tujuan ayahnya melakukan ini. Itu semua terpakai di usianya yang sekarang, ketika menghadapi masalah dan lainnya. Mengingat Oscar Company sudah mendunia, musuh pun tentunya ada dimana-mana bahkan di sekolah Devian yang terbilang elite ini. Namun sikap Devian dalam menghadapi hal ini sangat tenang dan dia memiliki cara tersendiri untuk mengatasinya. Jadi bisa dibilang kalau Devian itu sekarang bertanggung jawab atas nyawanya sendiri dan masalah yang dia hadapi. Bukan berarti Steven tidak akan membantu Devian melainkan Steven ingin juga anaknya itu segera dewasa dan nantinya sanggup menjadi pewaris Oscar Company.
Ketika Devian sadar bahwa Lisa tidak menangis dan mendorongnya sedikit untuk lepas, Devian pun melepaskan Lisa dan memberikan jarak diantara mereka namun tangannya masih memegang bahu Lisa dan sekarang dia memberikan ciuman di dahi Lisa.
"Jen'ne Lisa, will you be my girlfriend?" ujar Devian dengan nada datar dan kemudian dia menaruh tangannya di leher Lisa. Sebuah kalung alexandrite yaitu birthstone Lisa sendiri.
Lisa merasakan ada benda dingin di lehernya dan setelah dia sadar, kalung itu sudah terpasang di lehernya.
"I'll take that as yes." ucap Devian lalu meletakkan kedua tangannya di pipi Lisa lalu menghapus air mata yang masih tersisa.
Lisa masih terus menatap Devian tanpa mengatakan apapun dan itu membuat Devian gemas. Ini kali kedua dia melihat Lisa menangis dan sekarang Lisa seperti orang yang dihipnotis setelah menangis, apakah Lisa selalu begitu setelah nangis? Kalau iya, Devian ingin Lisa menangis setiap hari hahahaha karena Lisa sangat menggemaskan dan Devian bisa melakukan apapun sebenarnya.
"Hmm.." hanya itu gumam Lisa dan kemudian dia menoleh ke bawah. Devian pun tersenyum sedikit melihat respon Lisa yang menggemaskan itu baginya.
"Where is aunt and uncle?" tanya Devian. "Scotlandia, new project." jawab Lisa malas.
"Tampaknya seseorang akan sendirian malam ini." ucap Devian sambil tersenyum dan menolehkan pipi Lisa ke arahnya.
"Aih.. padahal aku baru saja ingin menawarkan diri untuk menemanimu." ucap Devian lalu membuat ekspresi sok sedih. "But you sleep on guest room 'kay." jawab Lisa kemudian dan itu membuat Devian membesarkan bola matanya, tentu saja karena Lisa selalu menolak mentah-mentah dan sekarang Devian memikirkan cara untuk membuat Lisa menangis setiap hari agar Lisa bisa lebih bergantung pada dirinya. Gila bukan? Karena selama ini Lisa selalu melakukan semuanya sendirian dan ternyata titik lemah Lisa yaitu ketika dia menangis.
"Jadi untuk apa aku menemanimu kalau aku berada di ruangan lain? Couch? Please.." ucap Devian sambil memohon di akhir kata. Maksudnya adalah di kamar Lisa namun di sofanya.
"Hmm.. ya sudah, aku akan menyuruh Tifanny untuk menaruh selimut tambahan di kamarku nanti." ucap Lisa lalu hendak berdiri untuk memberitahu Tifanny namun langkahnya terhenti karena Devian menahannya.
"Nanti saja." ucap Devian lalu memeluk Lisa dan mencium rambutnya yang beraroma stroberi itu dari parfumnya itu. Tiba-tiba Devian merasa aroma stroberi itu bukan dari parfumnya namun memang kulit Lisa beraroma seperti itu.
Setelah selesai memeluk Lisa, Devian pun melepaskan pelukannya dan mencium Lisa. "I'm so damn love you, stay by my side." ucap Devian dalam hati.
Lisa yang awalnya shock bahwa Devian menciumnya pun lama kelamaan membalas ciuman itu, hmm dia suka ketika Devian mengerti dirinya dan peka terhadap apa yang ia rasakan. Lalu ciuman Devian beralih ke leher Lisa dan Lisa kembali merasakan kenikmatan yang pernah dia rasakan namun dia dengan segera menutup mulutnya karena takut keceplosan lagi.
"Ups.. okay we should stop here." ucap Devian ketika berhenti mencium leher Lisa. Lisa pun tiba-tiba merasa kecewa ketika Devian berhenti namun dia hanya bisa diam.
Dan keduanya pun bercerita hingga tengah malam dan memutuskan untuk beristirahat..
***
Pagi pun tiba dan Lisa bangun duluan lalu menyadari kalau Devian tidur di kamarnya pun dengan segera merapikan rambutnya. Dan sebenarnya tadi malam Devian duluan terlelap dan Lisa masih sempat pergi ke walk in closetnya untuk mengganti bajunya menjadi baju tidur mirip lingerie itu. Lisa nyaman tidur mengenakan lingerie maka dari itu dia selalu tidur mengenakan itu.