
"iya terima kasih banyak ya Lisa.. kamu udah jagain Devian." ucap Rika dengan mata yang berkaca-kaca. Entah apa yang ditangisi ibu Devian, "i'm here mom. I'm not gonna die." ingin sekali Devian mengatakan itu. Kalau ibunya terus menangis maka dia sendiri tidak bisa berhenti merasa bersalah.
&&&
Keesokan harinya, Emily dan Lisa datang melihat Devian pada siang hari setelah pulang dari sekolah.
"Je'nne boleh tinggalkan kami sebentar?" tanya Emily menoleh ke Lisa yang ikut masuk bersamanya. "tentu." jawab Lisa lalu keluar dari kamar Devian.
"Dev.. i'm sorry really. Ini karna aku.., minggu lalu Hans memang bertanya dan.. awalnya aku mengira dia berada di Jerman dan mungkin hanya menanyakan kabarku jadi aku mengatakan semua yang ada di hatiku.." ucap Emily dengan nada menyesal. Oke.. Devian bisa melihat ketulusan di mata Emily namun satu hal yang membuatnya bingung. Mengapa Emily mengatakan dirinya menyukai Lisa? Dan jika memang begitu kenapa Emily harus menyatakan perasaan walaupun tau akan kebenarannya? Lagipula.. Devian sendiri tidak tau dia suka atau tidak dengan Lisa. Dia hanya mungkin peduli pada Lisa.
"Itu saja yang ingin aku katakan Dev. Aku tau kamu gak bisa bicara tapi saat kamu belum sadar aku mencoba menjengukmu dan ditolak oleh pihak rumah sakit yang mengizinkan keluarga yang boleh melihatmu." jelas Emily. "Maaf.. aku baru datang hari ini. Aku mungkin bukan pacar yang baik, tapi aku janji akan jadi pacar yang baik." ucap Emily lagi.
Pertama, Devian sama sekali tidak masalah dengan itu menengoknya atau apapun, Emily hanya pacarnya. Bagi Devian seorang pacar bukan segala-galanya dalam hidup karna bahkan pacar pun tidak diperbolehkan masuk karna kau orang luar. Kedua, Devian merasa ini bukan salah Emily karna justru ini salahnya yang berbohong pada Emily tapi tidak sepenuhnya berbohong karna Devian juga tidak menyukai Lisa. Dia hanya peduli kan dengan Lisa? Jadi itu salahkah sebagai teman yang baik?
&&&
"Aku akan mengunjungimu hingga kamu sembuh Dev, aku janji akan perbaiki semua ini dan satu lagi.. aku gak mau putus denganmu Dev. Aku.. aku.. masih suka sama kamu dan aku gak peduli kamu suka Je'nne atau tidak tapi aku akan buat kamu lihat ke aku. Siapa aku ini? Dan juga aku akan membuat kamu melihat kediriku saja." ucap Emily panjang lebar lalu memegang kepala Devian yang digips itu lalu mencium keningnya. Oke.. satu hal yang Devian benci, dia merasa paling lemah disini. Dia bahkan hanya bisa melihat mengingat seluruh tubuhnya digips kecuali wajahnya. Dia seperti mumi berwajah saja sekarang. Dia bahkan tidak tersenyum karna rahangnya yang ternyata juga patah akibat terbanting ketika dipukul Hans. Hebat! Pria bertubuh kekar itu benar-benar hampir membunuh dirinya.
Hans memang bertubuh kekar bahkan usianya yang lebih tua beberapa tahun itu menunjukkan dirinya yang tampak lebih dewasa. Kalau Devian? Jangan salahkan dirinya yang juga bertubuh setengah kekar karna dia juga jarang gym di rumah walaupun alat gym lengkap. Dia malas sekali melakukan latihan setiap hari sehingga dia melakukannya jarang sekali. Kalau saja dia rajin gym mungkin dia mampu menahan seluruh serangan Hans tanpa patah tulang seperti ini. Rasanya tubuhnya itu seperti lembek bagai jelly versi laki-laki. Kalau versi perempuan mungkin sekarang tulangnya benar-benar patah dan tidak bisa diperbaiki lagi.
"kau ingin minum?" tanya Emily kemudian. "oh maaf aku lupa kau digips. Ini kuberi minum pakai sedotan ya." ucap Emily lalu menyodorkan gelas berisi air dengan sedotan. Oke.. Devian benar-benar merasa seperti tak berdaya sampai-sampai untuk minum saja tidak bisa atau bahkan menjawab ya atau tidak pun tidak bisa.
Setelah Devian minum dan sedikit menjauhkan kepalanya, Emily pun mengerti dan menaruh gelasnya di nakas samping tempat tidur. Setelah itu mereka tidak mengatakan apapun, apa ini yang disebut canggung? Entahlah.. mungkin ini karna keadaannya yang begini. Setelah itu Devian memilih tidur dengan tujuan tidak ingin menyusahkan Emily, alhasil ternyata Emily menjaganya hingga jam menjenguk habis. Kenapa dia bisa tau? Karena ketika dia bangun dan itu sudah pukul 7 malam, Emily terlelap di sisi tempat tidur. Wajah Emily sungguh bersih saat itu, lebih tepatnya kosong. Berbeda dengan Lisa, Lisa sedikit berekspresi seakan dia menunjukkan apapun yang ada di pikirannya saat tidur. Mimpi buruk, mimpi indah akan terpancar di wajah Lisa. Itu yang diingat Devian ketika dia melihat Emily tidur. Sial! Seharusnya dia tidak mengingat Lisa karna Lisa bahkan tidak ada disini.
Lalu Emily pulang karna Rika menggantikan untuk menjaga Devian.. Rika pun menginap pada malam itu di rumah sakit.
&&&
Keesokan harinya...
Hari ini Devian sedikit senang dengan kehadiran Lisa namun.. Lisa membawa Jevan, dokter psikolog gila itu! Kalau saja Devian tidak digips, mungkin ekspresinya sekarang mirip seperti ayahnya ketika marah. Mengerikan.
"terima kasih sudah melindungi Lisa, kuhargai usahamu itu." ucap Jevan dengan lembut. Dia memang tampak tulus tapi kenapa kata-katanya seakan menganggap Lisa miliknya? Apa-apaan orang ini!
Shit! Andai saja dia bisa bergerak, ingin sekali Devian merobek mulut Jevan yang tidak berotak itu dan yang parahnya Lisa tidak masalah dengan itu??? Apa Lisa menyukai Jevan??? Oh no! Ini tidak boleh terjadi. "Dokter psikolog itu gila Lisa! Sadarlah!!" itu yang ingin dikatakan Devian namun tentunya tidak bisa.