
Victor yang sedang bersandar di dinding pun berdiri tegak ketika melihat Lisa keluar dari ruang Ms. Chapline.
"Hey.. bagaimana?" ucap Victor ketika Lisa kelihatan agak jengah. "Tidak apa-apa, hanya saja Ms. Chapline menyuruhku fokus." ucap Lisa lalu berjalan meninggalkan Victor.
"Kau bisa crita denganku, lagipula kita kan sekelas dan memiliki peran yang sama bukan?" ucap Victor dan itu membuat Lisa berbalik. Memang benar, di A Class Lisa dan Victor serta.. Emily memiliki peran penting bagi kelasnya. Mereka memiliki peringkat tertinggi di kelasnya dan itu tidak tergantikan selama 2 tahun.
"Thanks, Vic." ucap Lisa dan tidak lama kemudian terdengar suara orang berjalan dengan santai mendekatinya dari belakang.
"Ok, bye vic." ucap Lisa lalu berbalik dan menghadap Devian. "Aku dengar Ms. Chapline memanggilmu ya." ucap Devian lalu menatap Lisa dengan ekspresi datar.
"Iya." ucap Lisa singkat dan berjalan melewati Devian menuju ke parkiran. Lisa sekarang sudah sangat ingin pulang dan melayangkan tubuhnya itu di bantalnya.
"Grab a bite?" tanya Devian menawarkan untuk makan siang bersama namun ditolak oleh Lisa.
"Ok then." jawab Devian singkat tanpa perlawanan dan menurunkan Lisa di mansionnya dan dia pun pulang bukan di penthousenya namun di mansion orang tuanya.
***
"Ataukah aku harus mengurungnya mom agar dia menjadi milikku seutuhnya?" tanya Devian kepada ibunya.
Ibunya hanya terkekeh ketika mendengar cerita yang daritadi Devian lontarkan tentang kejadian tadi pagi hingga saat selesai kelas.
"Kau cemburu, little boy." ucap Rika, ibu Devian sambil terkekeh dan berdeham sedikit.
"Apa? Tidak mungkin mom, aku hanya tidak suka jika ada buaya yang datang menganggu Lisa." ucap Devian melakukan pembantahan.
"Lagipula Lisa dan aku kan sudah bersama. Kami tidak mungkin terpisahkan." ucap Devian lagi.
"Keh keh keh, kamu ini.. sama saja seperti ayahmu." ucap Rika sambil terkekeh lagi. Rasanya dia seperti melihat Steven saat masih belum menikah dengannya.
Yah walaupun Steven pada awalnya dingin mengingat Rika bekerja sebagai kepala pelayan di mansionnya.
"Ingat tanggal 30. Ibu sudah mengingatkan Guren untuk menjemputmu apabila kau lupa." ujar Rika yang masih dalam posisi duduk dengan buku resep di tangannya.
"Yes mom.." ujar Devian dengan nada malas. Ibunya berjanji akan memasakkan makan malam pada hari itu dan itu merupakan resep barunya. Bayangkan ketika wanita satu-satunya di dalam suatu keluarga memintamu melakukan sesuatu, kalian pasti berusaha menurutinya. Seperti Rika saat ini yang merupakan wanita satu-satunya dari keluarga Oscar bisa disebut sebagai Ratu dan ditemani oleh 2 kesatria yaitu Steven dan Devian.
***
"Hey.." ucap Devian ketika dia diperbolehkan masuk oleh Tifanny dan bertemu dengan Lisa di ruang makan. Lisa sedang makan selera dietnya, dan sebenarnya itu bukan waktu yang tepat bagi Lisa makan dan Devian tau betul. Tentang kejadian yang menimpa Lisa hari ini.
Dia menanyai information broker nya tentang kenapa Lisa dipanggil oleh Ms. Chapline hari ini. "What." ujar Lisa singkat dan lanjut memakan serealnya. Lisa sudah menyangka Devian akan datang ke rumahnya sebelum dia kembali ke penthousenya.
Devian pun meminta Tifanny untuk meninggalkan mereka berdua dan berjalan mendekati Lisa. "Ms. Chapline menegurmu karena dia takut kamu drop." bisik Devian karena Devian yakin apabila perkataan itu didengar Aunt dan Uncle akan gawat.
"Hey!" Lisa berteriak sambil memukul meja makan marmernya. Sakit sih sebenarnya. Tapi Lisa tidak ingin kehilangan sikap coolnya itu.
Devian hanya diam lalu ketika Lisa hendak memukulkan lagi tangannya di meja itu Devian meraih lengan Lisa. "Stop it, i know it's hurt." ucap Devian tenang.
Lisa kemudian menghentikan aktivitasnya dan melihat tangan Devian. "Let go." ucap Lisa dingin.
Jika kalian tidak mengenal Lisa, kalian akan berpikir kalau Lisa adalah wanita yang menyebalkan. Namun sebenarnya Lisa itu wanita yang hard working sekali, dia masuk ke A Class pun itu semua adalah hasil kerja kerasnya. Tapi sayangnya dia tempramen, sikap hardworking itu dia dapatkan dari ibunya, Berta Gaelle namun entah dari mana dia dapat sikap tempramen itu. Mungkin pengaruh alkohol yang bisa dibilang sering dia minum di usianya yang bahkan belum diatas 18 itu.
Berbeda dengan Devian, dia dikaruniai dengan bakat yang cepat tanggap tanpa harus berusaha keras. Terbukti dari ibunya yang cukup ahli hanya dengan sekali coba atau 2 kali belajar hal baru. Kalau ayahnya Steven? Tidak usah ditanyakan lagi, Oscar Company tidak jatuh sama sekali meskipun pemiliknya dibunuh dan itu semua berkat Steven yang langsung mengambil alih dimana begitu Steven lahir, kedua orang tuanya sudah membuat surat waris yang diserahkan 100% ke tangannya.
"Duduk dulu." ujar Devian lalu menunggu hingga Lisa duduk. Lalu Devian berdiri dan kemudian menarik Lisa lalu memeluknya.
"Kamu bisa menangis sesuka hati, tidak ada yang akan lihat. I'm here. I'm your boyfriend right?" ujar Devian dan Lisa masih dalam keadaan dipeluk.
Lama kelamaan, Lisa pun mulai meneteskan air matanya. Ya benar, dia sedikit shock dan tidak menyangka Devian akan mengatakan hal se-sweet ini disaat yang tidak tepat seperti ini.