
Setelah Emily mengangguk enggan dan keluar dari kamarnya, mata Devian beralih ke Lisa. Oke.. Lisa merasakan tatapan mematikan itu akan membunuhnya. Rasanya dia merinding lagi. "Kenapa kamu menghindariku?" tanya Devian secara langsung. "Tidak.. aku.. tid-----" kata-kata Lisa dipotong oleh Devian. "Jangan berbohong Je'nne Lisa." ucap Devian dan Lisa bisa merasakan rahangnya tegang. Oke.. Devian hanya memanggilnya begitu ketika dia marah dan itu hanya sekali saat mereka berusia 10 tahun dimana saat itu Lisa tidak ingin mendengarkannya dan sekarang ini terjadi lagi.
"i'm not!" seru Lisa membantah. "yes you are." jawab Devian gemas lalu menurunkan kakinya dan duduk di tempat tidurnya. "terserah padamu. kalau cuma itu yang ingin kamu katakan aku panggil Emily dulu." ucap Lisa lalu hendak berjalan menjauhi tempat tidur Devian untuk keluar. Namun tentunya Devian tidak menginginkan itu. "Aku bukan mau Emily. Aku mau kamu." ucap Devian menarik lengan Lisa. Oke... sedetik dua detik dia baru sadar yang dia katakan tadi. "emm.. maksudku aku mau bicara sama kamu bukan Emily." ucapnya dengan wajah merah padam. Kalau Lisa? Dia sudah merah padam sejak Devian mengatakannya. "Apa lagi?" tanya Lisa datar. "Nothing.. just.. suruh Emily pulang. Aku sedang tidak mood punya pengunjung." ucap Devian lalu melepaskan lengannya dan membiarkan Lisa keluar.
Tak sampai semenit, Lisa kembali ke kamar Devian dengan membawa sebotol minuman isotonik. "ini dari Emily. Dia sudah pulang." ucapnya lalu menyodorkan minuman itu pada Devian yang sedang melihat tv. "oh. taruh saja." ucap Devian dingin lalu menunjuk nakas di sampingnya dengan dagunya. Lalu Lisa pun mengikuti kemauannya dan duduk di samping tempat tidur.
"Jadi katakan alasannya sekarang." ucap Devian memecah keheningan. "alasan apa lagi? Aku tidak menghindarimu oke?" jawab Lisa keras kepala. "aku tidak bicarain itu. Tapi boleh juga kalau kamu mau bilang alasannya." ucap Devian lalu terkekeh. "nah coba tatap aku.." goda Devian kemudian. Lisa memang tidak berani menatap Devian daritadi. Bagaimana bisa dia tatap Devian sedangkan pria itu terus menatapnya daritadi. "ngapain juga aku tatap kamu! Gak ada ganteng-gantengnya." celetuk Lisa karna dia benar-benar tidak tau menjawab apa. "oh? jadi Jevan laki-laki yang ganteng begitu?" tanya Devian dan dirinya benar-benar ingin segera menghilang saja mengingat dia baru menyebutkan nama laki-laki gila itu!!! "kamu yang mengatakannya sendiri bukan aku." jawab Lisa lalu menghadap ke jendela. Hem.. dia memang melihat jendela daritadi namun itu posisi setengah menghadap ke jendela dan kali ini dia menghadap penuh ke arah jendela. Lalu keadaan pun hening hingga seperti biasa Rika datang menjaga anaknya itu.
&&&
"Hai Dev! Selamat kembali dari rumah sakit!! Maaf kami tidak bisa menjenguk." ucap Peter lalu menoleh ke belakang Devian. "Yah.. tidak masalah. Maaf itu pengawal pribadiku." ucap Devian tidak enak karna mengingat memang kamar rumah sakit itu hanya bisa diakses kartu oleh orang terdekat dan Lisa? Peter bahkan takut dengan perempuan aneh dan galak itu jadi apa boleh buat. "No prob bro! Ohya kau ketinggalan banyak, aku Filicia dan Randolf sudah meminjam dari kelasmu untukmu. Kemarilah ke kelas kita, aku akan menyerahkannya padamu." tawar Peter. "oke baiklah. Jordan aku akan ke kelasku." ucap Devian lalu melambaikan tangannya pada bodyguard itu tanda ingin mengucapkan selamat tinggal. Jordan hanya menunduk dan berjalan keluar dari gerbang sekolah. Satu lagi.. Rika sudah memberikan Jordan seluruh jadwal Devian seharian ini jadi Devian akan diikuti seharian.
Ketika Devian tiba di kelas Peter, disana ternyata sudah direncanakan. Mereka membuang kembang api tali dan juga memberikan kue serta merayakan kepulihan Devian. Oh! Satu hal yang menjadikannya sama dengan ayahnya Steven, dia tidak suka kejutan dan dia baru saja diberikan itu. "Oh! Terima kasih semuanya." ucapnya singkat lalu tersenyum paksa. "dia tidak suka kejutan." suara seseorang terdengar dari belakang dan itu membuatnya tersentak. Semuanya menoleh ke belakang kecuali Emily yang duduk di kursinya setelah menyodorkan kue kepada Devian. Lisa berdiri di belakang Devian dan itu membuat Devian tampak besar sekali sehingga di harus sedikit menunduk untuk melihat Lisa. "Minggir, aku tidak bisa masuk." ucapnya dingin.
"benarkah itu Dev?" tanya Filicia mulai khawatir diikuti Peter dan lainnya. Devian tak bisa menjawab dan dia memilih diam daripada menjawab iya atau berbohong. Ketika menyadari Emily tidak ada, Devian menoleh dan mendapatkan Emily duduk menghadap jendela. Ada yang dengan cewek itu. Tapi apa? Sebagai pacar Devian harus memghampirinya tak peduli dia ingin atau tidak.
Devian mengabaikan temannya dan berjalan mendekati Emily. "Kau baik-baik saja?" tanya Devian kepada Emily yang masih mengabaikannya. "Tidak, aku tidak baik-baik. Terima kasih sudah menerima kueku walau kau tidak suka kejutan." ucap Emily tanpa menoleh dan itu membuat Devian memilih duduk di sampingnya dan menarik bahu Emily untuk menghadapnya. Emily sempat tidak ingin peduli namun setidaknya dia akan menghargai usaha Devian yang memberikannya perhatian walau itu sedikit. Tunggu.. Sedikit? Apa maksudnya itu? Lalu perhatian Devian jatuh sepenuhnya ke siapa???