
Devian membanting Lisa pelan di tempat tidurnya dan kemudian dia pun sekarang berada di atas Lisa. "Siapapun akan melakukan ini jika kamu keluar dengan penampilan seperti ini." bisik Devian di telinga Lisa. Devian mengenggam kedua tangan Lisa dengan tangannya dan kemudian satu tangan lagi menyentuh pipi Lisa. "Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Lisa tanpa merasa takut sedikitpun. "Kamu masih bertanya? Kamu tidak takut?" tanya Devian lalu tersenyum miring. "Tidak, kamu tidak akan melakukannya." jelas Lisa tajam. Er.. Lisa benar, Devian memang tidak akan melakukannya. Devian memang suka dengan Lisa dan mungkin cinta tapi Devian tidak ingin benda yang dimilikinya itu rusak sebelum waktunya.
"Jangan pernah datang ke tempat ini lagi." bisik Devian lagi lalu menatap Lisa. Keduanya saling menatap hingga kemudian Lisa mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Apa bedanya denganmu? Kamu selalu datang kesini bukan? Menggoda perempuan manapun." ucap Lisa kesal mengingat Devian mencium wanita cantik yang baru dikenalnya sehari itu dimana saat Lisa menyuruhnya mencari wanita lain. "Aku tidak akan melakukannya lagi asal kamu katakan kalau kamu cemburu." ucap Devian lalu tersenyum. "Aku tidak cemburu." balas Lisa lalu kembali menatap Devian.
&&&
Bau tubuh Devian ketika baru mandi sangat segar, bau citrus dan tercium seperti shampo pria biasa. Rasanya Lisa ingin menjambak rambut Devian lalu menariknya hingga hidung Lisa mengenai rambutnya itu dan Lisa ingin mencium dalam-dalam bau itu selamanya.
"... asal kamu katakan kalau kamu cemburu." Kata-kata Devian membuyarkan fantasi Lisa. Lisa memang cemburu, bagaimana Devian dengan senang hati menerima ciuman wanita jalang itu. Argh!!! "Aku tidak cemburu." Lisa buru-buru menjawab. "Kamu sedang tidak fokus. Sepertinya ada yang ingin kamu lakukan." ucap Devian itu membuat hati Lisa berdegup kencang. Devian seperti mampu membaca pikiran fantasinya itu. "A.. aku.. kamu pake shampo apa?" Lisa ingin sekarang juga menghilang dari muka bumi ini. Kenapa pula dia bertanya hal aneh itu? Pasti tidak ada perempuan manapun yang menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu. "Entah, mungkin shampo murah dari hotel. Kenapa?" ucap Devian enteng. Devian sepertinya tidak membaca pikiran Lisa namun hanya sekedar kebetulan saja.
"Kamu mandilah disini dan setelah itu aku akan mengantarmu pulang." ucap Devian lalu melepaskan genggaman tangannya pada Lisa dan berdiri. "Aku tidak bisa mandi disini, barang-barangku semua di rumah." ucap Lisa jujur. Dan Lisa memang tidak nyaman dimanapun kecuali rumah dan kamar mandi di kamarnya sehingga tidak heran Lisa sama sekali belum pernah menginjakkan kaki dari rumahnya untuk tidur di rumah lain. "Ya sudah pakai ini sebelum keluar dari sini." ucap Devian lalu menyodorkan jasnya namun menariknya kembali ketika melihat Lisa kelihatan kebingungan. "Itu ada kaca, lihatlah dirimu." ucap Devian lalu menunjuk ke kaca di sisi ruangan. Lisa menurut dan menatap dirinya di kaca sambil melongo dan terkejut. Keadaannya kacau, mascaranya luntur dan matanya bengkak bajunya yang tampaknya sedikit kotor dan berantakan. Terkejut dengan itu, Lisa hanya bisa membeku di depan kaca.
Lisa tiba di rumah pukul 10 dimana kedua orangtuanya sudah keluar bekerja pada saat itu dan dirumahnya hanya ada dia dan pelayan. Sebenarnya jika tadi penampilan Lisa tidak seburuk ini, dia tidak akan mau pulang dulu dan memilih untuk bersama Devian sejenak. Eh? Devian? Yah.. sejak kejadian tadi malam membuat Lisa jadi tidak berhenti memikirkan Devian. Devian kini di mata Lisa adalah laki-laki yang ternyata baik dan peduli walau kadang-kadang menyebalkan. Terlebih lagi laki-laki menyebalkan ini mencintainya? Ini bahkan lebih dari sekedar senang.
Kesenangan sederhana yang dirasakan mampu membuat orang bahagia. Rasanya Lisa tidak mampu bertemu dengan Devian karna mengingat yang pernah Devian lakukan terhadapnya. Tentunya hari ini dia akan cuti dan besok akan masuk ke sekolah.
&&&
"Nona, ada tamu." ucap Tifanny yang membuat Lisa tersentak. "Kan sudah kubilang untuk mengetuk dulu, tidak seperti biasanya kamu lupa." jawab Lisa sambil berbalik menghadap pelayannya itu. "Aku sudah mengetuk tadi nona." ucap Tifanny lalu menunduk. Belum selesai Lisa bersiap-siap agar membiarkan tamu masuk, sosok yang dikenalnya muncul. "Jev? Ada apa?" tanya Lisa lalu mengerutkan alisnya. "Kenapa? Kamu pikir aku Devian?" ucap Jevan secara terang-terangan. Kini giliran Lisa yang merasa aneh, Jevan seperti memendam emosinya. "Ti-tidak, hanya saja kenapa kamu datang pagi-pagi?" tanya Lisa berusaha bersikap sewajar mungkin. "Sungguh? Kamu hanya berpikir seperti itu? Oh Je'nne Lisa kamu sangat polos." ucap Jevan dengan nada yang dibuat berlebihan. Lalu Jevan berjalan mendekati Lisa dan Lisa masih terpaku karna dia sudah biasa dekat dengan Jevan.
"Kamu tidak jelaskan kenapa kamu semalaman dengan Oscar dan belum menerimaku?" tanya Jevan dan itu membuat Lisa merinding. Sekarang dia tau kenapa Jevan menahan emosi. Matilah dia...