
"kamu benar-benar mirip ayahmu nak." jawab Rika singkat. Hanya itu? Wow.. mungkin kali ini Devian melakukan hal yang baik. Hore!!!
"bandel seperti ayahmu." ucap Rika kemudian. Ohh oke.. ini bukan hal yang baik. "Tapi.. setidaknya kamu melindungi Lisa. Mommy bangga padamu." ucap Rika lagi."maaf mom." ucap Devian meminta maaf. "Ayahmu saja tertawa ketika tau kamu melakukan ini. Katanya kamu memang anaknya." ucap Rika lagi. "Tapi aku menyusahkan kalian." bantah Devian. Entah kenapa dia yakin kalau ayahnya itu tidak akan menyusahkan kedua kakek neneknya yang di Manchester itu. Feelingnya kuat akan itu, ayahnya begitu dewasa kuat tangguh dan keren. Ayahnya seperti superhero beneran!
"kamu tidak akan tau sayang. Lagipula Mr dan Ms Dupond orang tua angkat ayah." ucap Rika lalu tersenyum. Dia masih ingat ketika dulunya dia pertama kali bertemu dengan kedua pasangan Dupond itu (baca My Boss And Me). Dia sempat tidak mempercayai kedua orang tua itu adalah orang tua angkat Steven karna mereka sungguh peduli dengan Steven bagai anak sendiri. Mungkin saja karna Ms. Dupond yang tidak bisa memiliki anak yah.. itu bisa saja. "benarkah? Jadi dimana orang tua Daddy?" tanya Devian penasaran. Rika tidak pernah menceritakan masalah ini karna Devian sendiri masih anak-anak di matanya hingga sekarang mungkin Devian sedikit dewasa. "Mereka.. dibunuh *******." ucap Rika. "Tentu saja, mereka terkenal dan baik. Para ******* membenci mereka." ucap Rika lagi. Oke.. Rika sedikit berbohong tentang mereka baik tapi kalau soal ******* membenci mereka itu iya benar sekali. Satu lagi, Rika tidak bilang mereka mati bersama orang tua Andy dan Flo. Oh! Flo.. bagaimana kabarnya sekarang? Mengingat kejadian setelah Rika dan Steven menikah membuat Rika merasa.. merasa...
"Mom!" seruan Devian menyadarkan ibunya yang melamun. "oh ya?" tanya Rika. "bagaimana kalau ******* mengincar daddy?" tanya Devian. "Mereka sudah dibunuh sayang, kau tau kan hukum di Jerman sangat ketat dan yah.. mereka menjalani hukum tembak mati." ucap Rika berbohong lagi, belum saat mengatakan yang sebenarnya. Belum karna Devian masih labil sehingga tidak baik memberitahukan bahwa ayahnya sendiri yang membunuh ******* itu demi Flo. Nama itu lagi, kalau Rika menyebut-nyebut nama Flo maka semuanya akan terbongkar... bukan terbongkar namun.. Rika tidak mau Devian dikatakan sebagai... anak... tidak! Rika tidak mau memikirkannya, rumor buruk ketika Devian dilahirkan itu sempat benar-benar membuatnya dan Steven stress.
Rika pun seperti biasa bersama dengan Devian hingga ada yang datang menengok Devian dan biasanya itu Lisa. Jangan katakan Emily karna gara-gara Emily, Devian jadi begitu sehingga Rika benar-benar tidak suka dengan Emily. Entah sejak kapan Rika menjadi mampu membenci orang. Lebih tepatnya orang yang menyakiti orang yang disayanginya.
Namun sejak Devian sadar, Lisa selalu datang tepat waktu lalu... menawarkan untuk menjaga Devian dan ketika Rika pamit pulang Lisa mempersilahkan Emily masuk.
Bukan sekuriti atau keamanan rumah sakit yang kurang bagus namun ruang VVIP itu punya akses kartu khusus untuk keluarga Oscar dan Edgar sehingga Emily bisa masuk karna Lisa.
"tapi.. aku ingin mengubah pandanganmu tentangku. Aku.." ucap Emily malu-malu lalu berjalan ke sisi tempat tidur Devian. "Hmm.. kau bisa lihat kan aku begini. Lain kali saja kita bahas." ucap Devian sambil geleng-geleng. Emily serasa ditolak tapi dia mencoba maklum dengan keadaan Devian sekarang ini.
Seperti itulah kebiasaan Lisa dan Emily, mereka muncul dari siang hari hingga sore hari tapi tidak bersama. Lisa lebih banyak menghabiskan waktu diluar kamarnya daripada di dalam. Devian curiga Emily pasti yang menyuruhnya tapi.. kalau benar apa Lisa benar-benar menyetujuinya?? Jadi selama ini Lisa hanya peduli padanya dan bukan...bukan... su...su... arghhh sial dia tidak bisa mengatakannya, membayangkannya saja membuatnya bergidik. Lalu ketika jam menunjukkan pukul 4 sore, Emily pamit duluan karna rumahnya jauh dari rumah sakit Devian. Sehingga Lisa menjaga Devian hingga pukul 6 dan Rika pun kembali ke rumah sakit pada saat itu. Intinya, mau bagaimana pun Rika tetap lebih nyaman mandi di rumah sendiri daripada di rumah sakit yang walau ruangannya super bagus.
&&&
Seminggu kemudian gips di tubuh Devian sudah terbuka. Kakinya juga dan tinggal tangannya saja. Devian sudah boleh berjalan namun tangan kanannya masih digips, dokter menyarankan apabila tangan kanannya belum kunjung sembuh maka tidak apa-apa dia keluar dari rumah sakit namun harus sering rutin datang mengecek.
Sampai pada suatu sore ketika Emily pamit pulang dan Lisa yang mengantarnya hingga di depan pintu lalu masuk kembali untuk menjaga Devian. Keduanya hanya diam saat itu, mungkin karna adegan barusan. Lisa mendapati Emily mencium pipi Devian ketika Emily pamit pulang.
"Aku mau pipis." ucap Devian dengan nada datar. Biasanya Devian melakukannya dengan mudah karna ada penampung di bawah tempat tidurnya, namun karna hanya tinggal tangannya yang digips dokter pun menyarankan menggunakan kakinya untuk berjalan ke kamar mandi yang hanya beberapa langkah saja. "Tidakkah kau menggunakan penampung?" tanya Lisa yang membuka kain di bawah tempat tidur, pertama tempat tidur itu sudah diganti dan kedua tempat tidur itu tidak mempunyai lubang di bawah bahkan tidak ada penampung di sekitar tempat tidurnya. "Tidak, bantu aku ke toilet." pinta Devian...