
"jadi gimana?" tanya Lisa kepada Devian. Mereka berdua sedang berada di sebuah restoran. Tapi... di belakang restoran mengintip ke arah restoran, mengingat restoran itu milik orang tua Lisa jadi dia bisa seenaknya.
Devian menepati kata-katanya tentang mencarikan jodoh untuk tante Flo dan sekarang paman Devian sudah duduk manis di meja makan menunggu.
Paman Devian sedikit tua namun masih tetap tampan dan mampu membuat wanita sebayanya terpesona. Rahangnya tegas dan menunjukkan sosok maskulin yang walaupun sudah agak tua namun masih tetap tampan.
"ya.. tunggu aja kan? Kamu udah hubungi tante Flo kan?" tanya Devian memastikan.
"Udah sih.. tapi pamanmu tidak akan marah kan menunggu segitu lama?" tanya Lisa memastikan.
"Ya enggak la, kalau kencan memang pria yang menunggu cewek.." ucap Devian santai sambil mengamat-amati dan matanya membesar ketika mendapati sosok yang dikenalnya muncul dibalik pintu masuk.
Dia masih mencari-cari tujuannya kemari, seseorang melambaikan tangan membuatnya melepaskan kacamata hitamnya lalu berjalan ke arah pria itu.
Devian sudah duluan mengatakan kepada pamannya agar menemui seorang wanita mengingat masih ada wanita mendekati usianya yang masih lajang. Bukannya tidak mau menikah, paman Devian lebih tepatnya sibuk bekerja dan tidak tertarik wanita brazil karna asalnya dari Inggris ditambah pekerjaannya seorang arsitek terkenal. Sekarang kariernya yang bisa dibilang sangat mapan bahkan melebihi itu bisa bertahan hingga 3 turunan. Pekerjaannya hanya memilih hasil karya anak buah dan mencocokkan dengan keinginan para investor atau melakukan pertemuan atau meeting.
&&&
"Emm.. hei." bisik paman Devian. "Michael." gumamnya lalu mengulurkan tangan pada Flo. "Florensia." jawab Flo singkat dan penuh sidik. Pria di depannya ini memang cukup menggoda dan sebenarnya lebih muda dari Steven. Tapi.. apa sebegitu mudahnya untuk berpindah hati?
Florensia datang naik taksi atas permintaan Lisa dan karna pastinya Lisa ingin paman Michael yang mengantar tantenya pulang dan karena sebenarnya tantenya itu menolak mentah-mentah permintaan Lisa dan menyetujuinya setelah Lisa memohon-mohon dan mengatakan apabila mereka tidak cocok maka tantenya tidak usah bertemu dengannya lagi. Selamanya.
&&&
2 jam berlalu...
Keduanya berjalan bersama keluar dari restoran setelah makan. Paman Michael cukup baik dengan membukakan pintu restoran dan pintu mobil untuk Flo dan nampaknya Paman Michael adalah pria yang gentle dan menghormati wanita.
Juga.. nampak dari sikapnya yang takut-takut melakukan kesalahan sehingga dia sering sedikit menundukkan kepalanya. Tapi itu hanya pertemuan pertama bukan? Pria akan selalu begitu demi mendapatkan wanita bukan?
&&&
"Dia tampan." gumam tante Flo ketika berada di kamarnya dan saat itu Lisa juga berbaring di sampingnya di tempat tidurnya. "Cuma itu?" tanya Lisa lalu mengerutkan keningnya. Aneh tapi yah.. hanya bisa berharap tantenya bisa sekedar menyukai paman Michael lebih dari itu.
"Hmm.. kaya. Dan mungkin mempesonakan. Jarang pria diusianya masih setampan itu. Apa dia perjaka?" tanya tante Flo dan itu lebih dimasukkan dalam gumaman.
Sayangnya gumamannya malah membuat Lisa memerah sambil memikirkan hal yang sama, apakah Devian masih perjaka?
Gila!! Memikirkannya saja membuat Lisa berdiri dari posisi berbaringnya dan keluar dari pintu kamar tantenya lalu membanting kembali pintunya.
Flo sendiri masih berada dalam pemikirannya dan tiba-tiba tersentak bukan karna bantingan pintu Lisa namun pesan masuk dari Michael.
"Terima kasih untuk makan siangnya." begitu pesan Michael. Cukup sopan dan singkat.
&&&
Begitu Lisa membanting pintu, dia berlari ke kamarnya dan dengan segera menekan nomor yang diam-diam sudah dihafalnya. Milik Devian Dakota Oscar.
"hai ada apa?" tanya Devian diseberang sana. "A.. aku ingin tanya!" ucap Lisa yang awalnya ragu namun akhirnya berusaha tegas dan yang ada malah kedengaran galak untuk Devian.
"Kau marah? Ada apa? Jevan menganggumu?" tanya Devian khawatir walau ada nada kemarahan di belakangnya.
"Tidak bukan! Aku ingin menanyakan sesuatu tapi kau harus jujur." ucap Lisa tanpa berpikir lagi dan kali ini pipinya sudah memerah.
"Ya? Apa?" tanya Devian santai. Semua akan ia katakan untuk Lisa, apapun. Karna selama ini tidak ada yang dia tutupi untuk gadis itu.
"E.. itu.. perempuan yang mendekatimu di bar..." ucapan Lisa terbata-bata karna gugup. "Rihanna? Ada apa?" tanya Devian sambil mengerutkan kening. Lisa seharusnya jelas tau kan kalau Rihanna dan Devian sudah tidak berhubungan sama sekali.
"Apa.. apa kalian melakukannya? Emm.. maksudku apa kalian pernah melakukan itu?" tanya Lisa mulai bisa bernafas. Memalukan sekali!!!! Er...
Devian tersenyum ketika ternyata Lisa menanyakan hal itu padanya. "Menurutmu?" tanya Devian lalu tanpa ia sadari dirinya sedang tersenyum.
"Apanya? Mana aku tau." jawab Lisa singkat. Apa Devian tidak bisa menjawabnya saja? Kenapa harus tanya balik?
"Kalau kubilang iya, apa yang akan kamu lakukan? Membunuh Rihanna?" tanya Devian sambil tersenyum lebar. Devian rasanya gemes ingin melihat wajah cemburu dari Lisa meskipun sekarang memang tidak bisa.
"tentu saja tidak! Aku hanya ingin tau apa kau sudah berpengalaman atau tidak!" seru Lisa karna dia merasa sekujur tubuhnya panas.
"Jadi kamu mengode untuk melakukannya?" tanya Devian dengan nada mengejek. "Tidak idiot! Tidak mungkin aku mengode hal gila seperti itu!" seru Lisa keras-keras dan itu membuat tante Flo keluar dari kamarnya lalu menanyakan keadaan Lisa.
"Baik-baik maaf, jangan galak gitu dong. Cuman nanya." ucap Devian menenangkan Lisa yang sebenarnya sangat ampuh karna Lisa sudah mati kutu sekarang.