
Lalu dokter pun masuk untuk mengecek rutin,
"tuan Devian, gips pada rahangmu sudah boleh dibuka. Apa perlu dibuka sekarang atau nanti siang?" tanya sang dokter. Thankyou God, Lord, Jesus, Allah, Tuhan... Devian sudah boleh berbicara hore!!!! "Tapi kalau dibuka sekarang belum boleh bicara, jadi kalau dibuka siang sudah boleh bagaimana?" tanya sang dokter lalu menoleh ke Rika. "Dibuka nanti siang saja ya dok." ucap Rika singkat. Baiklah.. tinggal.. hmm.. 3 jam lagii untuk boleh berbicara.
"terima kasih ya Lisa sudah menjaga Devian selama ini." ucap Rika dan matanya berkaca-kaca lagi. Huh.. rasa bersalah menghantui Devian lagi. "Tidak masalah tante, Devian sudah melindungiku jadi aku hanya bisa melakukan ini." ucap Lisa lalu tersenyum. "Oh.. Jevan sudah lama tidak bertemu denganmu, bagaimana kabarmu nak?" tanya Rika yang kemudian menoleh ke arah Jevan. "Aku baik tante, senang bertemu dengan anda lagi. Maaf juga jarang datang karna sibuk." ucap Jevan lembut. "Tsk! Dasar tukang cari muka!" gumam Devian dalam hati.
"oh tidak apa-apa, pekerjaan dokter kan selalu sibuk." ucap Rika maklum hingga kemudian seseorang masuk yang membuat percakapan itu terhenti. Steven berhenti ketika melihat begitu banyak orang di ruangan anaknya itu. Oh! Cuma dua orang diluar keluarga kok. "Senang bertemu denganmu lagi Tuan." ucap Jevan yang sudah mengulurkan tangannya. "ya. senang bertemu dengan tuan Larnell." ucap Steven yang kemudian membalas salaman Jevan. Jevan dan Steven adalah rekan kerja, di usianya yang masih sangat muda pun. Jevan tetap disegani bahkan oleh Steven Oscar, salah satu orang terkaya di London.
"kami pamit ya tante om." ucap Lisa lalu menunduk dan mengajak Jevan keluar. Lisa memang peka, ini waktu keluarga mereka mengingat Steven yang selalu sibuk.
Setelah membicarakan keadaan Devian, Steven kemudian pamit untuk ke kantor karna ada rapat. Sejak Oscar Company terkenal mendunia, Steven selalu sibuk namun tetap memiliki waktu untuk keluarganya.
&&&
Siang hari pun tiba...
Dokter dan beberapa perawat masuk ke kamar Devian pukul 12.45 dan itu membuat Devian bosan menunggu.. meskipun hanya 45 menit. "Kita mulai saja ya proses pelepasannya ya, Ms. Oscar. Mohon anda menunggu di luar." ucap sang dokter yang direspon dengan anggukan senang lalu keluar dari kamar Devian.
Dokter keluar diikuti dengan dua perawat yang mengambil gips yang sudah dilepas. "Dia sudah boleh berbicara tapi masih tidak boleh makan makanan yang besar dan keras, itu bisa menghancurkan rahangnya lagi." ucap sang dokter. "Jadi sampai kapan dok?" tanya Rika. "Kalau itu.. mungkin sampai dua atau tiga hari pemulihan." ucap sang dokter lalu pamit pergi.
Rika pun masuk dan menyampaikan yang dokter katakan, "baiklah mom..." ucap Devian yang tampaknya ingin mengatakan sesuatu lagi. Menyadari itu, Rika diam lalu membiarkan anaknya itu berbicara lebih lanjut.
"i'm sorry untuk----" pembicaraan mereka terputus karna Andy Edgar dan Berta datang dengan bunga di pelukan Berta. "selamat atas pembukaan gips bagian rahang sayang." ucap Berta lembut. "Thankyou aunty.." ucap Devian lalu menerima bunga itu dan memberikannya pada Rika. "Sebelumnya kami ingin minta maaf, ini semua salah Lisa yang membuat kamu begini." ucap Berta lembut.
"oh tidak! Ini karna Devian, dia yang diincar orang itu. Yah.. karna berpacaran dengan sembarangan orang. Itulah! Masih tidak mau putusin dia? Hah?" ucap Rika ngomel-ngomel, khas seperti ibu-ibu pada umumnya. "Sudahlah.. Rika, Devian kan berhak suka siapa saja." ucap Berta sementara kedua cowok, yang satunya abg yaitu Devian dan satunya bapak-bapak yaitu Andy hanya diam dan mendengar kedua ibu-ibu itu saling membela Devian.
Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel Andy sehingga membuatnya izin keluar untuk mengangkat teleponnya.
"Berta, ibu menelepon." ucap Andy begitu dia masuk kembali. Mungkin hal yang penting, ibu yang dimaksud adalah ibu Berta karna Berta yang selalu lupa bawa ponselnya jadi ibunya menelepon Andy.
"Hmm.. baiklah. Aku pamit dulu ya Devian, Rika. Get well soon sayang." ucap Berta dengan nada lembut. Ada kesedihan di matanya, ibunya menderita kanker stadium 2 sekarang ini di Jerman dan ditangani oleh rumah sakit paling bagus disana. "kau juga Berta, untuk ibumu. Jika kau butuh bantuan untuk berobat ke Sydney hubungi saja kami." ucap Rika pelan. Rika tau keadaan ibunya yang menderita kanker payudara itu. "terima kasih tante sudah mau mengunjungiku padahal kalian sibuk." ucap Devian kemudian. "Terima kasih untuk bantuannya Rika." ucap Berta lalu Andy pun pamit dan mereka berdua pun keluar.
"tadi apa yang ingin kamu katakan sayang?" tanya Rika lalu tersenyum menghadap Devian. Putranya sudah 17 tahun! Sesuatu yang sungguh hebat mengingat putranya sudah hampir dewasa. "oh.. begini.. aku ingin minta maaf telah melibatkan kalian. Aku hanya tidak bisa membiarkan Lisa jadi aku ingin menjemput dia sehingga aku keluar dari rumah padahal malam itu Mi'lley akan terbang." ucap Devian dengan jelas karna ia tidak ingin rasa bersalah tetap menghantuinya. Meskipun masih remaja dan kekanak-kanakkan, Devian tidak suka berbohong apalagi kepada ibunya. Melihat ibunya menangis ketika nenek buyutnya, Astuti meninggal membuat hati tidak karuan. Kini tinggal kakek dan neneknya yaitu Katherine dan Jason yang berada di Berlin. Entah bagaimana ibunya itu jika mereka meninggal. Sanders Company juga mungkin akan diwariskan pada ibunya jadi apakah ibunya akan sibuk seperti ayahnya???