
Emily Volker berasal dari Jerman, dia pindah ke London untuk menghindari Hans Lorenz, salah satu keluarga konglomerat yang tidak jauh berbeda dengan keluarga Sanders. Hans dan Emily adalah teman masa kecil dan Hans sudah menyukai Emily sejak mereka kecil hingga sekarang. Emily putus dengan Hans karna laki-laki itu posesif terhadapnya dan bahkan tidak mengizinkannya berteman dengan siapapun saja dan Hans Lorenz yang saat itu mengikuti Emily sampai ke London pun disuruh kembali oleh ayahnya ke Jerman hingga akhirnya sekarang dia datang kembali lagi ke London.
Rika pernah memberikan informasi yang dia tau tentang Hans Lorenz kepada Devian karna Rika tau keluarga Lorenz bukan keluarga biasa melainkan bisnis yang mereka jalankan bersifat ilegal sehingga penghasilan mereka setahun sangat besar tanpa harus membayar pajak.
&&&
"Jadi katakan kenapa kau tangkap Lisa?" tanya Devian tidak sabaran. "Oke.. tenang Devian, aku akan mengatakannya. Biarkan aku membunuhmu disini dan aku akan melepaskan dia. Kau cinta dia kan?" ucap Hans lalu menunjuk ke Lisa. "Jangan omong kosong Hans!" seru Devian. "Devian Dakota Oscar.. sekarang namamu hanya Devian Dakota tanpa Oscar." ucap Hans mengabaikan perkataan Devian tadi. "Biar kujelaskan... Kenapa? Kenapa kau harus berpacaran dengan Emily? Kau tidak mencintainya dan kau memacarinya? Kau kira Emily perempuan murahan yang bisa kau pacari seperti perempuan lain?" ucap Hans lagi dengan nada meninggi dan menghakimi. "Jangan sembarangan berbicara Hans!" seru Devian mulai kesal. Kesal karna Lisa menjadi korban dari semuanya ini. Lisa tidak bersalah dan dia terluka karna kesalahan Devian sendiri.
"Aku salah lagi? Emily yang mengatakannya kalau Devian mungkin menyukai Je'nne Lisa. Dan disinilah aku, aku berhak membantunya menyingkirkan penganggu hubungannya! Dan satu lagi aku juga berhak menghancurkanmu. Kau sudah membohonginya kau melukainya dasar sialan!" seru Hans lalu meninju pipi Devian. Yah.. Hans benar, Devian tidak mencintai Emily. Terlebih dari itu dia juga tidak tau hatinya untuk siapa.
"Baiklah.. bunuh saja aku. Tapi tolong lepaskan Lisa, dia tidak ada hubungannya dengan ini." ucap Devian pasrah pada akhirnya. Dia pasrah akan keadaan, dia takut Lisa kenapa-kenapa karna dialah penyebab Lisa begini. "Oke.. Rudolk, lepaskan Je'nne tapi jangan biarkan dia keluar sampai kita membunuh keparat ini." ucap Hans lalu mendekati Devian. Dia memukul perut Devian dan itu membuat Devian jatuh kesakitan. Lalu Hans menginjak lengan Devian sehingga mungkin hampir patah.
KREKK...
Oh! Sudah patah dan Devian mulai merasakan semuanya gelap hingga suatu suara menyadarkannya.
"Tolong hentikan ini! Apa Emily akan senang? Kau kira Emily akan senang melihat ini semua? Hah?" ucap Lisa dengan histeris, Devian dapat melihat Lisa menangis. Kenapa dia menangis? Apa dia menangisinya? Tidak mungkin, Lisa membencinya. Apakah dia sendiri menyukai Lisa? Hm.. dia memang pernah menyukai Lisa dan Lisa adalah cinta pertamanya tapi kenapa setiap kali Lisa terluka atau terkena masalah rasanya dia ingin membantu perempuan itu dan dia tidak bisa meninggalkan Lisa.
"Su-dahlah.. Li---" ucapan Devian terhenti karna yang dilakukan Hans adalah.. menikam perutnya hingga mulutnya mengeluarkan darah. Kini semuanya benar-benar gelap dan dia tidak bisa membukanya lagi. Rasanya semua tubuhnya tegang, sakit oh! Satu lagi dia tidak bisa merasakan lengan kanannya lagi. Rasanya mati rasa..
&&&
Hanya suara itu yang berdengung di telinga Devian, apa dia masih hidup? Tapi bagaimana bisa? Atau dia sedang bermimpi? Yah... sedih juga kalau dia bermimpi dia masih hidup.
"Dok! Dok!" seru seseorang, kali ini Devian membuka matanya dan melihat ke sekitar. Dia masih hidup! Dia tidak percaya ini... Tapi.. Devian tidak bisa bergerak, rasanya dia seperti diikat kain. Oke.. fix dia tidak bisa bergerak sama sekali.
"tuan Devian, anda sudah bangun?" tanya seseorang dan Devian bisa melihatnya dengan jelas. Pria tua di depannya dan dia mengenalnya, itu Dr. Stuart dokter keluarganya. "hmm.." hanya itu saja yang mampu dijawab Devian, wajahnya tidak bisa bergerak. Sepertinya dia perlu kaca untuk melihat penampilannya sekarang. "Dr. Stuart, berarti dia baik-baik saja kan??" tanya seorang perempuan, samar-samar Devian mengenal suara itu. Lisa. Lisa berdiri di sisi dokter lalu matanya berkaca-kaca.
"Aku akan memanggil orang tuanya." ucap Lisa lalu keluar dari ruangan sementara dokter mengatakan sesuatu yang membuat Devian tidak percaya sama sekali. "Gadis itu.. dia yang menyelamatkanmu. Dia yang mengabarkan orang tuamu tentang dirimu dan semua orang yang terlibat sudah ditangkap. Gadis itu juga yang menjagamu hingga kamu sadar. Kamu tertidur seminggu dan gadis itu tidak mau meninggalkan sisimu sampai dipaksa kedua orang tuamu yang berjanji akan menjagamu. Dia gadis yang baik. Apa dia pacarmu?" ucap dr. Stuart panjang lebar. Devian ingin mengeleng namun kepalanya digips jadi dia tidak bisa menggerakkan kepalanya sama sekali. "Oh maaf kau masih digips dan belum bisa dibuka sampai mungkin seminggu lebih. Tapi kalau kamu berusaha mungkin bisa dibuka secepat mungkin." ujarnya lalu keluar dari ruangan.
Lalu masuklah mommy dan daddy, Daddy yang dengan tatapan stressnya itu dan mommy yang dengan mata pandanya itu. Devian menyesal melakukan hal bodoh yang membuat kedua orangtuanya menjadi separah ini. Ini pertama kalinya dia begini dan akan menjadi terakhir kalinya. Dia berjanji.
"Sayang.. kau baik-baik saja? Untunglah kamu bangun, mommy tidak tahan melihatmu yang sudah tidak bangun seminggu." ucap Rika dan matanya berkaca-kaca lagi. "I'm sorry mom." itu yang ingin dikatakan Devian tapi tidak bisa. "Kalau saja tidak ada ibumu, mungkin aku sudah membiarkan mereka membunuhmu dasar anak bodoh." ujar Steven kasar. Yah seperti biasa ayahnya itu kasar namun berhati baik.
"tante, om. Aku balek dulu ya." ucap Lisa lalu mengusap air matanya dan mengelus tangan Devian yang digips dengan halus. Yah walaupun digips, Devian bisa merasakan sentuhan tangan Lisa.