
Kekesalannya memuncak ketika suatu pesan masuk, dari Devian.
"Hey, gimana? Apa masih berani pakai piyamamu yang aneh itu lagi?" isi pesan dari Devian itu terkesan sangat mengejek.
"DIAM! KEMARI KAU!" balas Lisa lalu membanting ponselnya. Namun tak lama kemudian, Tifanny masuk.
"Nona, ada tamu. Itu tuan Devian." ucap Tifanny dengan gugup karena di jam malam seperti ini dia tau nonanya itu tidak suka diganggu.
"SURUH DIA TUNGGU DI RUANG TAMU JANGAN KASIH DIA MASUK KESINI!" seru Lisa emosian, dia sadar dirinya memang salah melampiaskan pada Tifanny namun dia tidak bisa menahannya lagi.
"Ba-baik.." ucap Tifanny terkejut dan tergagap namun saat Tifanny berbalik, Devian sudah ada di pintu dan masuk lalu menyuruh Tifanny meninggalkan mereka berdua.
"Hey." ucap Devian lalu menatap Lisa dengan dress panjangnya. "Kau!" seru Lisa sambil menunjuk dan tanpa dia bisa melanjutkannya Devian sudah maju dan menangkap jari Lisa.
"you are so cute in that dress." bisik Devian di telinga Lisa ketika memeluknya. Lisa yang tadinya berjanji tidak akan memarahi Devian pun menjadi ciut sejenak. Ia tidak paham bagaimana Devian bisa menerima diri Lisa dan menenangkannya dengan semudah itu.
"Lepaskan.." ucap Lisa lemah karena dia merasa kakinya sudah seperti jelly. "Aku tidak suka jika kau memakai pakaian itu sembarangan." bisik Devian kemudian.
"You know like.. aku juga seperti laki-laki buaya diluar sana yang memiliki nafsu normal." ucap Devian lemah, iya dia mengakuinya dan sadar bahwa dirinya bisa tidak menahan nafsunya jika membayangkan Lisa memakai lingerie di depannya itu.
"Jadi.. i like what you wear now." ucap Devian lalu tersenyum. "Then.. do it." ucap Lisa tanpa sadar dan ketika Devian melepaskan pelukannya untuk memastikan ia tidak salah dengar, Lisa sudah dalam keadaan tertidur dan muka merah.
"SHOOT!" seru Devian lalu dengan segera mengangkat Lisa ala princess style dan menyuruh Tifanny membantunya.
Ternyata Lisa demam dan sekarang suhunya sangat tinggi. Mereka sedang berada di rumah keluarga Oscar dimana kedua orang tua Edgar sudah dihubungi namun seperti biasa mereka tidak bisa langsung pulang jadi Devian memutuskan untuk membawa Lisa ke keluarganya.
"Astaga, tinggi sekali demamnya!" seru Rika ketika mereka selesai mengambil suhunya dan dokter keluarga sedang menuju ke kediaman Oscar.
"Momm, Dr. Ed belum tiba juga??? Sudah berapa lama iniiii." ucap Devian panik. "Tenang Devian, kita kan baru menghubunginya 1 menit yang lalu." jelas Rika menenangkan Devian dan sedikit kewalahan melihat anaknya ini padahal baru juga dihubungi.
"Kalau Lisa kenapa-napa gimana!!!" seru Devian dan sekarang Rika sangat terkejut karena seumur-umur anaknya itu tidak pernah bernada tinggi atau frustasi atau bahkan marah-marah begini.
"DEVIAN! CUKUP! Jangan kasar pada ibumu!." ucap seseorang yang masuk dari luar kamar tamu dan itu adalah Steven. Rahang Steven tampak mengeras namun tidak sampai ke matanya yang artinya dia belum marah sepenuhnya.
"Tuan, Nyonya. Dr. Ed sudah disini." ucap Angeline yang ikut masuk dari belakang Steven.
"Dia hanya kelelahan, makan dia tidak teratur jadi membuat tubuhnya tidak sehat. Ada baiknya jika pola makannya dijaga. Dia juga sepertinya butuh liburan." ucap Dr. Ed lalu dengan segera mencatat beberapa hal.
"Jadi untuk obatnya?" tanya Rika karena Devian hanya terdiam sambil mengenggam tangan Lisa yang terlelap.
"Tidak perlu ada obat, biarkan anak itu terus ada di sisinya. Dan ingatkan dia jangan terlalu ganas takutnya tubuh Nona Jen'ne yang masih muda itu tidak bisa menerimanya." ucap Dr. Ed sambil berbisik kepada Rika dan itu langsung seketika membuat Rika malu tak tertolongkan.
***
"Devian, Mommy mau ngomong." ucap Rika ketika Dr. Ed sudah pulang dan Devian masih disana menemani Lisa.
"Nanti." balas Devian mengabaikan ibunya. "Mommy bilang sekarang!" ucap Rika dengan nada agak meninggi namun masih dengan suara kecil.
Devian terkejut dan dengan terpaksa mengikuti ibunya,
"Bahkan Dr. Ed mengetahuinya, mau sejauh mana kau lakukan hah?" ucap Rika ketika dia dan Devian sudah di balkon tengah.
"I'm sorry. Tapi sepertinya yang seperti begitu masih normal untuk orang yang berpacaran." ucap Devian kemudian.
"Bagimu tentu normal, pikirkan Lisa. Kalau Mommy jadi Lisa, Mommy lebih memilih untuk tidak berpacaran denganmu. Coba pikirkan perasaan dia." ucap Rika lalu meninggalkan Devian.
Devian merenung sejenak dan kemudian kembali ke kamar tempat Lisa tidur. Tak lama kemudian, Rika masuk dengan membawakan bubur karena dia tau Lisa pasti belum makan meskipun sudah sangat larut.
"Bangunkan dia, Lisa harus makan." ucap Rika dengan nada datar akibat masalah tadi. Rika merasa Devian sedikit keterlaluan dan merasa tidak becus mendidik anaknya.
Setelah Lisa dibangunkan dan makan, dia pun tertidur kembali tanpa banyak berkata karena kondisi tubuhnya memang sangat lemah.
&&&
Keesokan harinya..
"Aku ingin membawa Lisa ke Jepang." ucap Devian kepada kedua orang tuanya saat mereka sedang sarapan bersama.
Dan tentunya kedua orang tuanya terkejut, apa-apaan ini kenapa sangat tiba-tiba?