
Lisa hanya acuh tak acuh ketika melihat kejadian di depan matanya. Tentu saja wajar kalau kau begitu dengan pacarmu bukan?
Tapi rasanya Lisa jadi kesal sendiri, aneh sekali. Seharusnya dia menerima pernyataan Jevan saat itu karna dengan begitu maka tidak akan terjadi kejadian buruk yang menimpa Devian. Oke! Sudah diputuskan oleh Lisa untuk menerima pernyataan Jevan dan dia akan pergi setelah pulang sekolah ke rumah sakit klinik milik Jevan.
&&&
Setelah akhirnya Emily tampak tidak ngambek tak jelas Devian pun membuat jaraknya dengan Emily. Sebenarnya Devian tidak pernah bahkan pacaran sungguhan dengan perempuan karna selama ini rata-rata dia hanya menjalani hubungan yang dekat namun berstatus teman atau teman dekat saja yang walau terkadang mereka lebih banyak menganggap Devian sedang berpacarannya. Tentu saja begitu! Paras tampan Steven menular di Devian dan satu hal yang berbeda. Devian memiliki wajah yang mirip ibunya yaitu sedikit berisi yah hanya sedikit yang membuat dirinya tampan dan manis.
Saat bel masuk berbunyi pun Devian beranjak dari sisi Emily, Emily menyadari laki-laki itu akan pergi dan memilih menarik tangannya hingga Devian menoleh untuk melihatnya. "Ad---" ucapan Devian malah dihentikan oleh ciuman Emily yang mendadak. Hanya kecupan singkat bukan ciuman mesra dan diikuti oleh siulan dan bisikan sekitar lalu tatapan membelalak teman Emily termasuk Lisa yang membesarkan matanya. Ups! Emily menatap Lisa tajam, tunggu.. tatapan apa itu? Lisa bahkan tidak cemburu yah! Jangan dia kira Lisa cemburu!
&&&
Saat lonceng berbunyi, Lisa pun pamit dengan gengnya dan Emily karna dia akan mengunjungi big bronya yang tentunya adalah Jevan. "aku juga mau izin guys.. ada urusan ni.. Peet.. Tolong bilang ke Dev kalau aku ada urusan jadi tidak ikut dia hari ini." ucap Emily dan membuatnya temannya itu sedikit tertegun. Tidak pernah Emily begitu, garis bawahi kata tidak pernah. Sejak memasuki highschool dia selalu bersama dengan Devian dan membuat banyak perempuan sempat membenci Emily karna itu.
"tentu, em." ucap Lisa menyetujuinya dan keluar dari lift diikuti Emily dan mereka berada di lantai blok A-C. "Mobilku di blok A. Kamu menyetir kan? Akan kusuruh supirku membawa mobilmu ke tempat kita nanti bagaimana?" tanya Emily yang diikuti oleh gelengan dari Lisa. "Aku punya supir, kusuruh dia pulang saja. Nanti aku sendiri pulang saja." ucap Lisa tenang. Lisa tidak suka menyusahkan supirnya tentunya dan dia memilih menaiki taksi ke tempat Jevan dan akan menyuruh supirnya menjemput ketika dia selesai dari klinik Jevan. Itu rencananya.
&&&
Mereka pun masuk ke Mercedes milik Emily dan kali ini Emily hanya duduk tenang tanpa mengatakan arah tujuan dan supir pun melajukan mobilnya. "Aku mau menunjukkan sesuatu padamu." ucap Emily ketika mereka hampir tiba tampaknya karna mereka sudah ada di sebuah villa perumahan yang tampaknya sudah cukup lama. Lalu mereka berhenti di salah satu bangunan besar itu yang sepertinya adalah mansion namun sudah hancur setengah terkena... entahlah mungkin api karna berwarna hitam pekat bangunan itu. Emily pun turun begitu juga Lisa yang sekarang kebingungan. Emily pun masuk ke bangunan itu lalu berhenti di depan pintu yang sudah sudah berwarna hitam itu namun masih berfungsi dan membuka pintu itu. Lisa pun mengikutinya dan ikut masuk ke ruangan itu. Ruangan itu berisi tempat tidur dengan bekas terbakar yang sudah berlubang di tengahnya. Emily berdiri tepat di depan tempat tidur itu dan menunjuk ke lubang itu.
"Itu tempat nenekku meninggal, dia terbakar." ucap Emily datar. Lisa pun berdiri di sisi Emily lalu ikut menatap lubang kosong itu. "Aku dan nenekku sangat dekat waktu itu tapi.. nenekku tidak suka dengan ibuku dan dia memaksaku untuk tinggal dengannya hingga dia mengurungku. Kuakui nenekku memang sedikit protektif dan hampir gila karna ayahku menolak menikahi wanita yang dipilih nenekku." ucap Emily lagi. "Aku turut berduka Em." ucap Lisa maklum. Lisa senang Emily terbuka dengannya dan dia yakin temannya yang lain itu tidak tau tentang ini. "Nenekku mati karna aku membakarnya." ucap Emily kemudian dan itu membuat Lisa terkejut. "Aku sayang pada ibuku dan kenapa nenekku harus memisahkanku dengan ibuku? Dan juga.. seperti aku dan Devian." ucap Emily lalu meneteskan air matanya. "Aku sungguh tidak ingin melakukannya. Aku tidak ingin membakarnya tapi aku bisa apa kalau dikurung seperti nara pidana?" ucap Emily lalu terus meneteskan air matanya. Lisa mendekati Emily untuk mengusap punggungnya namun tangan Lisa yang hendak mengusap punggung Emily ditarik dengan kasar dan Lisa dijatuhkan ke lubang tempat tidur itu.
Lisa merasa kakinya tertusuk kayu bekas terbakar itu dan itu membuatnya meringis kesakitan. "Maafkan aku Je'nne Lisa atau perlu kusebut Je'nne Lisa Edgar? Kau bahkan tidak sudi menggunakan marga itu di nama belakangnya. Dan kini kamu hanya Je'nne Lisa karna kamu tidak bisa menggunakan kekuasaan Edgar untuk menolongmu. Sungguh! Maafkan aku Je'nne Lisa, aku tidak menginginkan ini tapi apa boleh buat? Devian masih peduli padamu dan tidak mau menoleh kepadaku." ucap Emily lalu mundur beberapa langkah dan dikeluarkannya korek api dari kantongnya dan melemparnya di lantai lalu dia pun keluar dari ruangan itu. Emily pun keluar dari mansion itu yang hanya dalam hitungan menit akan ludes terbakar. Kenapa? Korek api yang Emily gunakan bukan korek api biasa.