
Namun ketika dirinya ingin dengan segera berjalan ke walk in closet untuk mengganti baju, dia merasa ada yang bergerak di sofa dan itu adalah Devian.
"Morning, beautiful." ucap Devian seperti kumur-kumur karena masih setengah bangun dan mungkin dia belum sadar dengan pakaian Lisa.
"Mo-morning." balas Lisa sedikit gugup dan merasa pipinya sudah merah. Dan dirinya dengan segera hendak pergi ke walk in closetnya namun Devian sudah memanggilnya terlebih dahulu.
Lingerie yang dikenakan Lisa pada saat itu berwarna putih terbuat dari sutra dengan renda di sekitar dada namun agak rendah dan itu membuat dada Lisa kelihatan bentuknya beserta ada cardigan yang terbuat dari renda tipis dengan warna senada.
"Hey, where are you going?" tanya Devian lalu dia pun duduk dan melihat ke Lisa. Lalu ketika dia sudah sadar, dia menatap Lisa dengan datar.
Lisa yang menyadarinya dengan segera menutup bagian dadanya dengan cardigan. "Jangan bilang setiap malam kau selalu memakai pakaian yang begituan?" tanya Devian dengan ekspresi yang masih sama.
"E.. ini diberikan oleh tanteku dan aku nyaman mengg----" ucapan Lisa terpotong oleh Devian. "Bagaimana jika laki-laki lain melihatnya????" tanya Devian frustasi lalu sekarang ekspresinya sudah jelas yaitu Devian seperti anak laki-laki yang ingin mendapat perhatian ibunya seorang.
Lisa akan tertawa apabila Devian tidak melihatnya namun sayang sekali dia tidak bisa karena Devian sedang melihatnya sehingga ia hanya mampu menahannya. Devian sangat menggemaskan sekali, dan Lisa kemudian hanya tersenyum.
"Yahh.. begitulah, kalau keliatan gimana dong?" ucap Lisa dengan santai, sebenarnya dirumahnya tidak ada laki-laki selain ayahnya dan mungkin 1 lagi yaitu tukang kebunnya namun dia ingin mengisengi Devian karena reaksi lelaki itu cute banget.
"HAA??? Nanti setelah pulang sekolah ikut aku, kita beli baju tidur yang lebih layak pakai!" ucap Devian dengan nada serius dan sempat shock. Mana bisa dia membiarkan Lisa memakai pakaian seperti ini untuk dilihat orang lain.
"Hey! Tenanglah, dirumahku tidak ada laki-laki." Lisa tidak jadi mengisengi Devian karena ternyata lelaki itu menganggap serius perkataan Lisa.
Karena raut wajah Devian masih serius, Lisa pun berjalan mendekati Devian dan memegang pipinya. "You're jealous aren't you?" bisik Lisa di telinga Devian.
"I'm.... not.." jawab Devian putus-putus karena Devian sebenarnya tidak menyangka akan tertangkap basah begini dan dirinya tidak ingin mengakuinya.
"Hahahahaha you are!" seru Lisa jahil dan tertawa karena Devian benar sangat menggemaskan.
"Hey!" ucap Devian dan lelaki itu dengan segera menarik bahu Lisa lalu membuka cardigan Lisa dan kemudian dia membuat ****** di atas dada Lisa yang terpapar karena lingerienya terlalu rendah.
Awalnya Lisa terkejut apa yang Devian lakukan namun dia lebih shock lagi ketika Devian sudah selesai dan melihat ada bekas di kulitnya. Melihat itu Lisa ingin sekali meneriaki Devian namun terhenti karena Devian langsung ******* bibirnya itu.
Dan setelah itu mereka berhenti dimana Lisa ngos-ngosan mencari nafas dikarenakan cara Devian menciumnya kali ini tanpa ampun, ditambah lagi Devian mengucapkan kata yang membuat Lisa ingin menghajarnya namun tidak bisa.
"Rasakan." ucap Devian lalu menjauhi Lisa dan keluar dari kamar Lisa. Devian pun menitipkan pesan kepada Tifanny kalau dia akan pulang ke mansion orang tuanya dan akan datang menjemput Lisa nantinya.
***
"Rumah Lisa, sleepover." jawab Devian santai seolah-olah dia tidak melakukan keanehan sama sekali.
"WHAT??? Steven! Kemari lihat anakmu." ucap Rika setengah berteriak. Tentunya shock, dia mungkin tidak tau apa yang Devian lakukan sehingga pemikiran orang pada umumnya adalah making out (sex).
Yang dipanggil pun masuk ke ruang makan dan melihat anaknya dengan tatapan datar. Memang ayah dan anak sama saja. "He didn't do it." ucap Steven lalu mengencangkan dasinya yang tidak rapi dan duduk di meja makan. Rika hanya terdiam melihat suaminya lalu berjalan mendekati Steven dan merapikan dasinya. "Really?" tanya ibunya lagi memastikan.
"Yeah, dia tidak mungkin melakukannya kalau aku masih belum memasuki kuburanku." ucap Steven sarkas, seperti biasa.
"Dad! Aku hanya menemani dia karena Aunt dan Uncle sedang berada di Scotlandia." ucap Devian menjelaskan.
"Bohong! Kalian pasti sekamar!" ucap Rika tidak setuju. "A.." Devian berusaha membuka mulutnya namun menutupnya lagi.
"Aku tidur di sofa." jawab Devian setelah menenangkan dirinya, awalnya hampir panik karena tertangkap basah.
"Ya sudah makan dulu, lalu siap-siap. Mau jemput Lisa juga kan?" ucap Rika sambil tersenyum dan menyuruh Angeline menyiapkan satu lagi sarapan untuk Devian.
***
"Stev, you really think they will be together?" tanya Rika ketika keduanya sedang dalam perjalanan menuju ke kantor.
"Yah, itu kan keinginan keluarga kita sejak dulu?" ucap Steven sambil membanting setirnya.
"Hmm, kuharap begitu." ucap Rika lagi dan kemudian memandang keluar jendela mobil.
"Hey, tenanglah." ucap Steven lalu memegang tangan Rika dan meremasnya pelan.
Dan keduanya pun tiba di kantor dan melakukan kegiatan sehari-hari yaitu bekerja. Di sisi lain, Devian dan Lisa melakukan kegiatan seperti biasa yaitu mengikuti kelas.
***
"Stupid! Bagaimana aku bisa mengenakan piyamaku lagi kalau begini!!!" sebel Lisa malamnya, seharian ini dia hanya mendiami Devian yang menjemput dan mengantarnya pulang. Dan karena tidak tega dia pun berbicara kepada Devian saat Devian menurunkannya tadi dan itu hanya sebatas "Aku masuk dulu", namun sekarang dia menyesal melakukannya karena Devian tidak pantas mengingat sekarang dirinya tidak bisa tidur dengan nyaman.