That Idiot Jerk Loves Me (Oscar Series)

That Idiot Jerk Loves Me (Oscar Series)
Episode 6



"ya sudah aku dengar perkataanmu. Tunggu aku kalau mau." ucap Devian menawarkan, sebenarnya bukan menawarkan tapi dia malas dengan sikap Emily yang keras kepala itu. Emily hanya tersenyum bahagia mendengar ucapan Devian tadinya.


Sekolah berakhir dan seperti biasa mereka makan di kantin duluan sambil berbincang-bincang. Kali ini Lisa duduk di meja yang sama namun tidak mendengarkan pembicaraan temannya sama sekali. Untuk apa dia mendengarkan kalau ada cowok itu? Menyebalkan sekali rasanya. "Jadi.. kalau Je'nne?" pertanyaan Peter membuat Lisa tersentak dan kemudian dia sudah batuk-batuk karna tersedak. Arghh... memalukan sekali! Ingin sekali dia menghilang saja.


"Makanya jangan cuma makan saja kerjaanmu." ucap Devian lalu menyodorkan segelas air putih. Oke.. Emily kaget kapan Devian hilang dari sisinya. "Je'nne kamu tidak apa-apa?" tanya Emily khawatir. Lisa masih terbatuk-batuk dan dia sama sekali tidak menerima gelas yang disodorkan Devian dan lebih memilih meminum minumannya yang sudah separuh itu.


Karna melihat Lisa yang masih terbatuk-batuk, Emily pun memilih membantu dan berjalan mendekati Lisa lalu menepuk punggungnya pelan. "aku tidak apa-apa em, kamu kembali aja sama dia." ucap Lisa lalu menunjuk ke arah Devian dengan dagunya. Oke.. apa maksud Lisa dari.. "kembali saja sama dia."  Hellow! Devian mengkhawatirkan Lisa dan Lisa malah menolaknya mentah-mentah. Oke.. Kejahatan akan dibalas dengan kejahatan. Devian meminum gelas yang masih tak tersentuh itu di tangannya dan kemudian menarik Emily dengan dekat dan menciumnya.. Lebih tepatnya memberi Emily minum namun melalui mulut. "Oke.. kamu sudah minum, aku terima kamu jadi pacarku." ucap Devian kepada Emily lalu melirik ke arah Lisa yang melongo melihatnya. Kali ini bukan Lisa yang melongo namun seluruh isi ruangan menatap mereka dan ada yang bersiul ada juga yang berbisik-bisik. "Really?" ucap Emily bersemangat. Devian yang melirik Lisa tadinya kembali menatap Emily dan tersenyum mengangguk. "Okay i will give you this as a token." ucap Emily berbahagia lalu mencium Devian dengan lembut dan itu membuat Lisa lalu berdiri dan meninggalkan kantin. Lisa bukan cemburu tapi Lisa jijik dengan adegan kiss yang menurut banyak orang romantis tapi tidak menurutnya.


"Wait here a bit." ucap Devian ketika mereka menghentikan ciumannya dan pergi meninggalkan Emily. "oke." ucap Emily yang masih berbahagia. Devian lalu dengan segera mencari Lisa dan ditemukannya Lisa sedang menuju lift parkir.


&&&


Lisa merasakan ada yang menarik lengannya ketika dia ingin masuk ke lift dan dia merasa genggaman itu tidak asing. Devian. Itu dia.


Lisa hanya menoleh ke belakang menatap Devian sedetik lalu menatap tangannya yang digenggam Devian. "where are you going?" tanya Devian yang sebenarnya sudah tau jawabannya. "pulang." jawab Lisa singkat. "Are you jealous?" tanya Devian lagi. Lisa yang mendengar itu dengan segera membalikkan badannya lalu bertatapan dengan Devian. "Jealous kau bilang? Mimpi deh! Kau kira kau seganteng apa sampai aku harus jealous? Aku malah jijik melihat kalian berciuman di depan banyak orang. Aku heran ya urat kemaluanmu masih utuh sekarang." ucap Lisa dengan miris dan sinis. Dia miris melihat Devian yang tidak tau malu itu, yah sangat muak!


"oke maaf kalau kau harus melihatnya tadi." ucap Devian yang langsung direspon oleh hentakan tangan Lisa yang ingin lepas dari genggamannya dan dia pun langsung masuk ke lift. Oke.. pertama dia menghina cowok itu dan kedua dia juga menghina sahabatnya berarti. Sial! Emily lah yang membawanya ke gengnya dan sekarang Lisa menghina dia. "Teman macam apa aku ini? " benak Lisa mengeluh dan dia tau apa yang akan dia lakukan.


Jevan Larnell, dokter ahli psikolog termuda di London berusia 21 tahun itu sukses di usianya yang teramat muda. Oh! Camkan dia lompat kelas saat sekolah dan memasuki jenjang kuliah dengan sangat cepat yaitu di usia 16 tahun dan wisuda saat 20 tahun.


"wah.. sudah berapa lama aku tidak melihatmu? setahun?" tanya laki-laki berkulit putih yang berkacamata itu. "yang penting aku sudah datang." jawab Lisa cuek. "Hey what's wrong?" tanya Jevan. "Nothing, aku menghina temanku. Hanya itu." jawab Lisa lalu mengambil gelas dan mengisi air dari dispenser, yah klinik itu seperti rumahnya saja.


&&&


"Dia bertemu dengan Jevan lagi?" tanya Devian setelah mendengar telepon dari ibunya. "iya.. bodyguard kamu nampak dan waktu dia hubungi kamu malah kamu gak angkat jadi mereka menghubungi Mommy." ucap Rika santai. "hmm.. apa gara-gara tadi ya?" gumam Devian yang disadari Rika. "Tadi kenapa sayang?" tanyanya. "Oh. tadi aku mengumumkan pacaran dengan Emily jadi kucium dia." jawab Devian dengan santai. "Ya ampun sayang... kau mencium orang lagi? Kau benar-benar suka dengan Emily ya?" omel Rika. Yah.. ibunya akan mengomel, ibunya selalu mengatakan cium atau pacari orang yang benar-benar kau sukai. "Enggak tapi kan dia suka, ya pacaran aja." jawab Devian sedikit ragu. Hmm.. apakah itu alasannya? Tapi iya atau tidak terserahlah yang terpenting adalah...


"Mom... sudahlah aku mau pergi dulu. See you again." ucap Devian sedikit terburu-buru dan dengan segera mengambil kunci Audinya. Oh! Tambahkan dia juga menginterogasi bodyguardnya untuk itu.


&&&


"Apa yang kau lakukan disini?!?" ucap Lisa kaget melihat yang baru saja ia ceritakan orang sudah disini. "Kau tidak boleh kesini, orang itu masih lajang nanti diapa-apain bagaimana?" ucap Devian menghakimi. Oke.. Devian tidak suka Lisa datang ke klinik psikolog itu. "Jevan tidak akan melakukan hal yang tidak senonoh itu dan catat kalau kamulah yang berpotensi melakukan hal seperti itu!" seru Lisa dengan kasar dan mata membesar menatap Devian. "Stop dulu, kau tau orang ini siapa? Dia dokter psikolog bisa saja kan dia punya masalah mental. Kau takkan tau itu!" jawab Devian yang menyebabkan yang sedang dibicarakan keluar dari ruangannya.