That Idiot Jerk Loves Me (Oscar Series)

That Idiot Jerk Loves Me (Oscar Series)
Episode 29



"A--aku.. sebelumnya aku mau minta maaf, karna aku sudah menganggapmu seperti kakakku sendiri. Dan.. untuk masalah Devian--" ucapan Lisa terpotong oleh Jevan. "Cukup! Aku kakakmu? Aku belum pernah sekalipun menganggapmu itu! Kau ini sungguh sangat menyebalkan!!!" seru Jevan yang membuat Lisa terdiam, Jevan benar-benar berbeda dari sebelumnya. "Dengar Lisa, aku sangat menyukaimu bahkan sebelum kamu tumbuh menjadi wanita remaja yang cantik. Tapi sialnya Oscar sialan itu merebutmu dariku. Dan yang paling menyebalkan kau bilang kau membenci Oscar tapi sekarang kau malah mengencaninya!!!" seru Jevan dengan suara keras dan itu membuat Lisa memejamkan matanya.


"Tunggu! Aku mengencaninya karna----" ucapan Lisa lagi-lagi terpotong oleh Jevan. "Tidak usah ba bi bu Lisa! Sekarang aku akan menjadikan kamu milikku supaya Oscar menyesal!!!!!! Karna kelemahannya adalah sesuatu yang menjadi miliknya dirusaki orang lain. Hahahahahahaha!!!!!" seru Jevan lalu tertawa bagai.. bagai.. bagai orang gila! Devian benar soal Jevan yang gila. Lisa baru kali ini menyangka Jevan memang sedikit gila.


*BUKK


Lisa menendang tulang kering Jevan dan membuat Jevan meringis sakit. Lisa dengan segera menuju pintu kamarnya yang sayangnya sangat luas dan langkah tergesa-gesanya itu membuatnya terpeleset dan jatuh.


"Lihatlah! Bahkan Tuhan membuatmu jatuh agar kau menjadi milikku. Kemarilah..." ucap Jevan lalu menarik kaki Lisa yang sialnya sekarang dirinya sudah didekat Jevan. Wajah tampan Jevan seakan-akan berubah sedikit demi sedikit. Jevan pun mulai menyentuh rambut Lisa dan menyisirnya dengan jari-jarinya. "Sudah lama aku menunggu kau dewasa agar kita bisa bersama." bisik Jevan di telinga Lisa.


Jevan pun menarik leher Lisa untuk menciumnya namun Lisa menolehkan mukanya ke samping hingga ciuman Jevan jatuh pada pipi Lisa. Jevan malah tertawa melihat reaksi Lisa. "Kau sangat manis." ucap Jevan lalu menciumi leher Lisa. Lisa merasa geli namun dia tau Jevan ingin menggodanya agar menyerahkan diri padanya. Lisa sekarang malah memikirkan Devian, Devian yang tampan dengan tubuh rampingnya. Malah sekarang Lisa melihat kedepan dan dilihat Jevan bagai Devian dan Lisa pun tersenyum sedikit sedangkan Jevan malah menyeringai tajam. Jevan menyuntikkan cairan yang menghipnotis sehingga Lisa merasa Jevan adalah Devian saat ini.


Lisa masih terlelap dalam hipnotisnya sampai.. sampai Jevan menciumnya dan pelan-pelan melepaskan baju yang saat itu Lisa kenakan. Lisa tiba-tiba teringat Devian pernah mengatakan belum waktunya dia melakukan itu pada Lisa. Tapi kenapa Devian malah melakukannya sekarang??? Lisa pun menatap Devian yang didepannya itu dengan sangat lama lalu mendorong dada bidang Devian. Tidak! Ini tidak benar! Devian tidak mungkin melakukannya pada Lisa kan??


Ketika yang didorong itu jatuh, dia pun berdiri dan mendekati Lisa lagi dan kali ini langkahnya terganggu karna seseorang membanting pintu kamar Lisa dan itu membuat Lisa terkejut bukan main. Devian berdiri di depan pintu dengan ekspresi terkejut dan mata memerah. Kali ini Devian mirip dengan ayahnya yang saat sedang marah.


"Sial!" gumam Jevan dan Lisa menoleh ke arah Jevan dan betapa terkejutnya bahwa yang daritadi diciumnya adalah Jevan. "Kau... bagaimana bisa?" tanya Lisa lalu menoleh ke arah Jevan dan kemudian ke arah Devian yang di depan pintu. Lisa terkejut bukan main, dia takut Devian marah dengannya sehingga dia pun menjelaskannya pada Devian. "Dengar Dev.. aku tidak tau---" ucapannya terpotong oleh perkataan Devian. "Lisa keluar dari kamar ini sebelum kamu melihatku membunuh bedebah ini!" seru Devian tanpa melihat Lisa sama sekali.


What??? Membunuh? Devian serius akan membunuh Jevan? Di kamarnya pula?


"Aku tidak akan mengotori kamarmu." ucap Devian lalu tersenyum. "Kau yakin? Tadi katamu akan membunuhnya." ucap Lisa mulai bingung.


"Aku akan menyingkirkannya sekarang juga." jawab Devian ketus lalu berjalan mendekati Jevan namun Lisa dengan segera menepiskan badan Devian pelan. "Bukan itu maksudku! Emm.. aku baik-baik saja. Hanya itu yang ingin kukatakan." ucap Lisa lalu menatap Jevan tajam yang memiliki arti "kau boleh pergi sekarang" dan Jevan pun menyadarinya sehingga berdiri lalu keluar meninggalkan mereka berdua di kamar.


Lisa lega Jevan sudah keluar, kini Lisa menatap Devian dengan niat ingin menegurnya agar tidak melakukan hal seperti itu. Namun sayangnya niatnya terurung karna Devian dengan sigap langsung memeluknya.


"Jangan.. biarkan dia menginjakkan kaki di rumah ini lagi." gumam Devian di dalam pelukannya. Lisa bisa mendengarnya jelas karna Devian membisikkannya tepat di telinga Lisa.


"Boleh aku menciummu?" tanya Devian masih dalam pelukan. "Hmm." hanya itu gumam Lisa dan artinya "ya".


Devian pun melepaskan pelukannya pelan dan menatap Lisa, menaikkan dagunya pelan dan ******* bibir itu.


Tercium bau rokok dan Devian dengan segera melepaskan ciumannya. "Dia menciummu?" tanya Devian dengan emosi tertahan.


"Aku akan membunuhnya!!!" seru Devian hendak berjalan keluar namun Lisa segera menahannya. "Biarlah, itu bukan ciuman pertamaku dan kukira itu kau makanya aku menerimanya. Maaf." ucap Lisa lalu mengenggam kedua tangan Devian.


Devian luluh, sungguh! Perempuan di depannya ini benar-benar membuatnya luluh hingga sekarang yang ingin Devian lakukan adalah bersama dengannya. Selamanya.