That Idiot Jerk Loves Me (Oscar Series)

That Idiot Jerk Loves Me (Oscar Series)
Episode 40



Anehnya Rika menambahkan lingerie sebagai baju dalam Lisa. Baju tidur yang disediakan Rika berbentuk dress kimono namun memiliki model formal sehingga tidak terlalu seperti baju tidur.


Sedangkan Devian juga dipaksa untuk memakai suit yang memiliki kesan santai namun tetap formal, tidak terlalu terlihat seperti baju tidur namun nyaman untuk dibawa tidur. Kedua baju itu adalah baju yang didesain Rika sendiri dan dibuat khusus.


"Mom, seriously? Aku pakai ini? Ini tidak seperti baju tidur." ucap Devian malas ketika ibunya itu tiba-tiba masuk ke kamarnya saat dirinya hendak memakai baju tidur. "Yes, kamu harus sering-sering perlihatkan tubuh kamu. Kamu masih muda." ucap Rika sambil menepuk dada Devian. Ia sangat bangga dan senang melihat Devian sudah tumbuh menjadi sosok pria dewasa walau hanya setengah tahun sejak ia melihat Devian.


"Lalu bagaimana dengan scriptku? Menjadi host tidak semudah itu. Aku masih harus latihan setidaknya mom." omel Devian mulai kesal karena ibunya ini mengatur seenaknya. "Tenang.. tenang. Scriptnya ada di kamar tamu lantai 2, pergilah ambil setelah kamu selesai berpakaian." ucap Rika sambil membantu merapikan baju yang ia bawa tadi.


Tanpa mengulur waktu lagi, Devian langsung memakai pakaian yang ibunya bawakan. Anehnya pas sekali ukurannya dengan Devian padahal dirinya saat di Inggris semakin berotot. Tapi mengingat ibunya adalah Rika Oscar tentu saja itu bukan hal yang mustahil, ia yakin ibunya itu memasang mata-mata di apartemennya di Inggris.


Setelah selesai dan puas dengan penampilannya, ia pun segera menuju ke kamar tamu yang ibunya sebutkan tadi tanpa merasa curiga karena yah ibunya itu kadang memang iseng.


Ketika Devian tiba, pintu tersebut dikunci dan tentu saja pintu di mansion Devian seluruhnya menggunakan pin dan Devian pun memasukkan sidik jarinya ke dalamnya dan pintu pun terbuka...


&&&


Ketika mendengar seseorang mencoba membuka pintunya, Lisa mencoba memastikannya karena dirinya baru hendak memakai pakaian yang diletakkan Rika barusan. Namun sayangnya ketika Lisa sekali lagi hendak memastikannya, pintu itu sudah dibuka dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat Devian dan sebaliknya Devian juga terkejut.


"E.. Maaf." ucap Devian lalu segera keluar begitu ia melihat Lisa dalam keadaan setengah naked. Lisa yang belum sempat berteriak pun akhirnya sadar ketika Devian keluar dari kamarnya.


Shit! Umpat Devian dalam hati karena dirinya sama sekali tidak menyangka kalau ibunya sejahil itu. Dan tanpa tunggu lama lagi, Devian langsung pergi mencari ibunya dan tentu saja begitu mendengar seseorang mengetuk Rika langsung tersenyum manis melihat anaknya itu.


"Mom!" ucap Devian hendak marah namun satu sisi ia teringat Lisa yang setengah telanjang. "Maaf mengejutkanmu sayang, tapi scriptmu memang terletak pada Lisa. Dia adalah pasanganmu untuk menjadi MC nanti." ucap Rika menjelaskan agar anaknya tidak salah paham namun reaksi Devian membuat Rika mencurigai sesuatu.


"Apa.. kamu melihat hal yang tidak seharusnya?" ucap Rika sambil menatap Devian sinis. Devian pun terkejut karena ibunya tau dan sempat megap-megap untuk menjawabnya.


"Ayo jawa---" ucapan Rika terpotong dengan tangisan Adele dari kamar bayi di sisi kamar Rika dan Steven. Tanpa menunggu lagi, ia langsung menuju ke ruang bayi itu.


"Arghh..l" keluh Devian dan ia pun berjalan keluar dan menuju ke kamar Lisa namun kali ini ia mengetuk terlebih dahulu. Tak lama kemudian, terdengar suara mendekat di pintu dan pintu pun dibukakan.


"Masuklah, aku sudah tau apa maksud tante." ucap Lisa mencoba mengontrol perasaannya karena tadi ketika Devian keluar barulah ia sadar dirinya setengah telanjang.


"Aku rasa.. itu bukan ide yang bagus." tolak Devian untuk memasuki kamar Lisa. "Kita bisa memikirkannya di ruang kerja atau bahkan ruang santai." lanjutnya.


"Kenapa? Memangnya kenapa memikirkannya disini?" tanya Lisa mulai bingung. Awalnya ia sempat merasakan pipinya memanas namun tentu saja ia mencoba untuk normal dan mengajukan untuk latihan menjadi pembawa acara nantinya.


&&&


Setelah selesai membahas script, setidaknya Devian lega karena walaupun Devian mampu mengimprovisasi dan sayangnya tidak jika dihadapan banyak orang sehingga ia memilih mempersiapkannya lebih dahulu.


Berbeda dengan Lisa, kemampuannya semakin lama semakin meningkat sehingga menjadi pembawa acara bukanlah hal yang besar baginya.


"Jadi... gimana Oxford?" tanya Lisa memecah keheningan karena mereka sudah kehabisan topik dan selesai membahas tentang script.


"Ya gitu." balas Devian singkat sambil melihat ke sekeliling kamar tamu yang sebenarnya tidak menarik perhatian kecuali.. baju tidur yang digantungkan Lisa.


"Lisa." panggil Devian.


"Hmm?" jawab Lisa tanpa menoleh karena dirinya sibuk dengan email yang masuk di ponselnya.


"Kau ini. Sudah kuperingatkan untuk tidak memakai itu kan??" ucap Devian dengan nada dingin dan mengancam.


"Apanya?" tanya Lisa dan kali ini ia menoleh, alangkah terkejutnya Lisa ketika ia melihat lingerie yang diberikan Rika tadi dan ia gantung lalu terlihat oleh Devian.


"Tunggu ini buk--" ucapan Lisa terpotong karena Devian semakin mendekat hingga kini ia menindih Lisa.


"Kenapa kamu bandel banget?" ucap Devian lebih seperti bisikan keluhan lalu ia mencium Lisa dengan lembut.


"Kau tau kan aku tidak bisa menahannya jika melihatnya? Bagaimana kalau laki-laki lain melihatnya?" ucap Devian lagi di sela ciumannya.


Lisa ingin membantah karena Devian salah paham namun tentunya ia terbuai dalam kecupan Devian yang sangat lembut. Berbeda dengan biasanya tentunya. Sepertinya Devian tidak akan memberi Lisa ampun karena ia tidak henti-hentinya mencium Lisa bahkan kini ia mengigit pelan salah satu sisi bibir Lisa.


Lisa yang terbuai itu pun pada akhirnya membiarkan Devian melakukan apa yang ia ingin lakukan. Lisa sendiri sangat benci harus berpisah dengan Devian dan mengingat Devian yang akan kembali setelah acara Adele adiknya itu membuatnya langsung mendorong Devian.


"Kau akan pergi lagi bukan?" ucap Lisa sambil mengusap bibirnya dengan punggung tangan dan menghadap ke arah lain. Seketika itu, Devian pun berdiri dan menjauh dri Lisa. Ia sadar ia harus kembali setelah ini dan tidak ingin memberikan harapan lebih lagi kepada Lisa.


Jujur rasanya sakit, tapi itu faktanya. Untuk meredam rasa sakit yang ia rasakan dulu, ia harus berpisah sejenak dengan orang yang sangat dicintainya itu dan mencoba menjalani hidupnya. Selama berada di Inggris, Devian sama sekali tidak menoleh ke para wanita yang mencoba mendekatinya. Dia rajin belajar dan sama sekali tidak pergi ke club untuk bersenang-senang. Ia sedang mencoba lari dari kenyataan bahwa Lisa merupakan bagian dari hidupnya.