
"Tunggu! Lantai atas maksudmu lantai 7??" tanya Lisa mulai panik. Lisa tau lantai 7 adalah tempat menginap tepatnya hotel. Hell! No! "Tidak di lantai 8." Devian lalu menekan nomor 8 dan menscan kartunya. Lisa tidak tau kartu apa itu. "Jangan bilang tempat ini milik kalian?" tanya Lisa curiga. "Hmm.. kakekku." aku Devian. "Lagipula tidak ada yang tau." ucapnya lagi. "Lalu kartu itu?" tanya Lisa lalu menunjuk ke saku celana tempat pria itu meletakkan kartunya tadi. "Ini akses ke lantai 8 hingga 10, dan juga tidak memperbolehkan orang lain masuk." ucapnya dan tanpa Lisa sadari mereka sudah tiba. "Ikuti aku, ada yang ingin kubicarakan." ucap Devian kemudian. Lisa bingung harus bagaimana sehingga dia memilih untuk mengikuti Devian ke sebuah ruangan kaca. Syukurlah kalau itu ruangan kaca jadi Lisa aman jika Devian mencoba melakukan sesuatu padanya.
"Kenapa kau membenciku?" tanya Devian tanpa basa basi dan itu membuat Lisa mematung sesaat. Haruskah Lisa jujur? Atau tidak? "Kenapa kau bertanya begitu?" tanya Lisa kemudian. "Jawab pertanyaanku Je'nne." jelas Devian tegas. "Tidak, untuk apa kau tau?" balas Lisa kembali. Siapa Devian sehingga membuat Lisa harus menuruti jawabannya? Enak saja! "Kalau kau tidak mau menjawabku, akan kupaksa." jawab Devian. "Coba saja kalau bisa." tantang Lisa tanpa memikirkan sama sekali. Lagipula jika Devian akan memukulnya, ini ruangan berkaca jadi bisa dengan mudah terlihat. Ugh! Kenapa Lisa malah berpikir Devian akan memukulnya? Well.. ini karna tatapannya mirip dengan ayah Devian yang pernah Lisa dengar pernah membunuh orang. Tapi sayangnya bukan perempuan melainkan pembunuh kakek dan nenek Devian dan Lisa sendiri.
Devian lalu berjalan mendekat selangkah, selangkah lagi diikuti dengan langkah mundur Lisa yang tampak semakin bergetar. "Mau apa sih cowok satu ini???" gumam Lisa dalam hati dan matanya mulai mencari-cari pintu.. pintu keluar. Shit! Pintu keluar ada di ujung dan Lisa berada di tengah, harusnya dia tadi tidak masuk terlalu dalam dan tetap berada di dekat pintu. Sekarang matilah dia.
"Apa yang akan kau lakukan? Mundur Dakota!" seru Lisa mulai takut. "Memaksamu mengatakannya, Je'nne." jawab Devian enteng. "Tidak, kau tidak bisa memaksaku Dakota! Kuingatkan sekali lagi!" seru Lisa mulai frustasi, Devian semakin mendekat dengannya dan langkah mundurnya rasanya semakin sempit hingga dia menabrak kaca di belakangnya. "Aku bisa melakukan apapun Je'nne, seperti ini." jawab Devian lalu mencium Lisa. Sentuhan bibir dan lidah milik Devian tampak sangat berpengalaman? Apakah pria keparat ini sudah mencium banyak perempuan? Memikirkannya saja membuat mata Lisa pedih. "Lepaskan bajingan!" seru Lisa mendorong Devian dengan kasar dan dia mulai merasa matanya pasti merah sekarang. "Kau.. kau.. pasti sudah banyak mencium perempuan kan! Jangan samakan aku dengan perempuan yang pernah kau cium sialan!" seru Lisa tanpa berpikir karna sekarang dia mengeluarkan isi hatinya dan dia menyeka air matanya yang sempat tumpah. "2." jawab Devian singkat dan sedikit terkejut karna Lisa menangis. "Cuma 2 kali aku mencium orang lain, Emily dan Rihanna. Tentunya kalau kamu menghitung dirimu jadinya 3." jawab Devian lagi dan dia menggunakan "kamu".
"Dan dari mereka hanya kamu yang benar-benar ingin kucium." ucap Devian lagi dan itu membuat kekesalan Lisa menjadi.. menjadi.. tidak tau. Dia tidak tau perasaan apa ini.. kenapa rasanya dia membenci laki-laki ini tapi hatinya sakit ketika laki-laki ini mencintainya. Devian pun mendekati Lisa dan menyeka air matanya lalu menariknya ke dalam pelukan. "Kenapa kamu membenciku Lisa?" tanya Devian pelan. Lisa tidak menjawab melainkan dirinya menangis lebih parah lagi. Kenapa laki-laki yang dibencinya itu memiliki pelukan hangat dan baik hati ini? Meskipun memang alasan dia membenci Devian adalah karna orang tua Devian.
"Jangan menangis lagi, kalau tidak kucium lagi nanti." ucap Devian lalu mengusap rambut Lisa. "A..aku.." ucap Lisa terbata-bata sambil menangis. Devian memgerti keadaan Lisa sehingga Devian membawa Lisa duduk di sofa sambil memeluknya dan mencium aroma rambutnya. Baunya seperti buah stroberi, apakah ini bau shampo Lisa? Namun Devian penasaran sehingga dia mencium leher Lisa dan ternyata itu bau parfumnya. "Jangan menjauh dariku, aku akan ke sekolah besok." ucap Devian masih memeluk Lisa.
&&&
"Aku tidak tau mau menjawab apa. Tapi kita tidak bisa memaksakan cinta dan seperti tante Flo, terkadang cinta harus melepaskan bukan?" ucap Devian ketika Lisa selesai menceritakan alasan dia membenci Devian. "Lagipula, bagaimana kalau kita carikan pria untuk dia?" tanya Devian kemudian dan itu membuat Lisa terdiam bahkan mungkin jadi ragu-ragu. Devian seharusnya merasa Lisa itu konyol, kekanak-kanakkan ataupun bodoh bahkan egois tapi ini tidak malah Devian ingin membantunya. Apakah Devian benar-benar sebaik itukah?
"Tapi bagaimana kita carikan pasangan?" tanya Lisa ketika melihat Devian menunggu jawabannya. "Mudah saja, berapa umur tante flo?" tanya Devian balik. "35." jawab Lisa sambil menghitung-hitung. "Bagaimana dengan yang lebih tua seperti 37?" tanya Devian mulai ragu-ragu. "Emangnya kamu ada pria seperti itu yang masih single?" tanya Lisa sambil menatap Devian. Lisa baru menyadari jarak mereka sangat dekat daritadi. "Ada, tapi aku pilihkan yang dijamin baik deh. Pamanku, sepupu jauh dari ibuku." ucap Devian sambil balik menatap Lisa, jarak mereka hanya lima sentimeter. "Dia bekerja di Brazil, mungkin akan balik bulan ini karna urusannya sudah mau selesai." Bisik Devian lalu menarik Lisa ke dalam pelukannya. "Sudah pukul 11 tidak mau tidur?" tanya Devian dengan nada lembut. "Hmm.." hanya itu jawaban Lisa sebelum kemudian dia terlelap dalam pelukan Devian.
Pelukan Devian benar-benar hangat, meskipun tubuhnya kurus namun masih bisa dirasakan ototnya di beberapa tempat seperti lengan yang merangkupnya, dada yang bisa dibilang cukup berisi padahal tubuhnya tidak gemuk.