That Idiot Jerk Loves Me (Oscar Series)

That Idiot Jerk Loves Me (Oscar Series)
Episode 27



"Tadi menangis sekarang tidur?" tanya Devian dengan suara yang halus lalu pria itu tersenyum sedikit. Rasanya Lisa sudah tidak membencinya lagi dan itu membuat Devian sedikit senang, kalau tau akan begitu maka sebaiknya Devian melakukannya sejak awal. Tapi tidak apalah.. Lisa sudah tidak membencinya, itu yang terpenting. Bukan apa-apa tapi rasanya hatinya berat jika Lisa menjauhinya. Apakah dia masih menyukai Lisa? Rasanya lucu ketika kau sudah berhenti mencintai seseorang dan kemudian kamu kembali mencintai dan orangnya adalah orang yang sama.


"I really damn love you." bisik Devian lalu mencium ubun-ubun Lisa dan mengangkatnya ke ruangannya. Lebih tepatnya di kamarnya di lantai bawah. "Guren, tolong jaga dia. Jangan biarkan siapapun masuk kamar ini." tegas Devian dengan serius. "jadi tuan mau tidur dimana?" tanya Guren ketika melihat Devian malah keluar dari ruangan itu. "Aku akan pesan kamar lain." jawab Devian enteng lalu menutup pintu kamar dan menyuruh Guren untuk menjaga di luar kamar yang ditempati Lisa. Guren sendiri sudah terbiasa dengan sikap tuannya, apa yang disayangi tuannya itu akan dijaganya dengan segenap hati. Guren sudah terbiasa tidak tidur begini dan keesokan harinya pun tuannya juga akan memberikannya waktu istirahat jadi itu setimpal.


&&&


Alasan Devian tidak sekamar dengan Lisa adalah satu hal, dia tidak ingin Lisa membencinya. Lisa biasanya disentuh begini ketika dia sedih atau dalam keadaan rapuh. Jika perempuan itu sedang tidak rapuh? Mungkin tangan Devian sudah patah. Er.. membayangkan begitu Lisa bangun dan mendapati Devian di sampingnya membuatnya merasakan dua hal, pertama yaitu senang karna mampu melihat wajah bangun tidur milik Lisa dan kedua adalah merinding karna menyangka Lisa akan menendangnya hingga dia jatuh tersungkul di lantai. Ouch! Rasanya tulang punggungnya bisa-bisa patah.


Devian ingin mengantarkan Lisa ke kamar perempuan itu tapi tentunya Devian tidak tau nomor kamar Lisa mengingat sejak Lisa menjauhinya bodyguard yang biasa diutus Devian perlahan-perlahan tidak ada lagi. Mengingat Lisa juga membencinya membuat hatinya terlalu sakit untuk tau kemana saja perempuan itu pergi, bagaimana keadaannya. Setiap pikiran tentang Lisa membuatnya sakit hati sehingga sebaiknya dia berfoya-foya dan melupakan Lisa namun perempuan itu muncul dan dia dengan yakin harus mengatakan seluruh isi hatinya yang sudah dia dapatkan jawabannya sekarang.


Sekarang Devian sudah berada di kamar barunya dan dirinya merasa tidak nyaman. Lebih tepatnya dia sendiri tidak bisa tidur karna mengingat Lisa yang sudah jujur seluruhnya padanya rasanya itu membuatnya senang bukan main. Rasanya seperti mimpi saja karna teringat Lisa yang selalu cuek dengannya sejak kecil. Ingin sekali dia tetap berada di sisi Lisa namun tentunya Lisa pasti tidak suka hal seperti begini.


&&&


Lisa pun bangun lalu bermalas-malasan mengambil tas tangannya dan keluar dari kamarnya. Betapa terkejutnya dia ketika Guren tangan kanan Devian ada di depan pintunya. "Guren? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Lisa sempat kaget. "Aku disuruh tuan muda untuk menjaga disini nona." jawab Guren dan tampak sekali matanya itu sudah seperti panda. "Ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Aku akan pulang." ucap Lisa lalu menghempaskan rambutnya. "Tapi tuan muda menyuruhku untuk menjaga nona jadi biar aku yang mengantar nona pulang ke rumah saja." ucap Guren menawarkan. "Emm.. tidak usah." balas Lisa. "Tapi nona." ucapan Guren dipotong oleh Lisa. "Dia juga tidur disini?" tanya Lisa. "Iya." balas Guren singkat. "Dimana kamarnya?" tanya Lisa kembali. "Ohh di sebelah ujung bagian kanan." ucap Guren lalu mengarahkan menggunakan tangannya. "Baiklah, kau istirahatlah." ucap Lisa dan Lisa tau Guren bukan tangan kanan yang menurut kecuali kepada tuannya. Guren malah mengikuti Lisa seperti bodyguard Lisa sendiri.


*tok*tok.


Lisa mengetuk untuk ke sepuluh kalinya dan barulah pintu kamar Devian terbuka. Disana Devian keluar dengan mengenakan hanya celana boxer sambil mengenakan handuk pada rambutnya yang basah. "A--ak.. aa." Lisa hanya tergagap melihat tatapan di depannya. "Kenapa? Aku baru selesai mandi." ucap Devian datar. Mungkin Devian sudah biasa membiarkan banyak perempuan melihatnya bertelanjang dada namun ini hal baru untuk Lisa. "Guren, kamu istirahatlah. Biar kuurus dia." ucap Devian sambil menunjuk ke Lisa dengan santai. Setelah Guren membungkuk lalu pamit, Devian pun tersenyum lebar lalu menarik Lisa. "Ayo." bisiknya lalu menarik Lisa ke dalam kamarnya. "Hey! Apa yang kamu lakukan?" tanya Lisa geram. Memang Devian kurus namun tubuhnya ramping dan juga apa pula dengan tubuh ramping ini? Apakah Devian perenang?


"Apa yang kamu lihat?" tanya Devian iseng. Menyadari pertanyaan Devian, Lisa dengan segera membalikkan tubuhnya. "Kamu suka berenang ya?" tanya Lisa. "emm.. sedikit. Kenapa?" tanya Devian balik. "Tidak, tubuhmu ramping seperti perenang." jawab Lisa terang-terangan. "Kalau begitu kenapa kamu berbalik?" tanya Devian dan itu membuat Lisa malu sendiri. Benar juga.. kenapa Lisa harus berbalik seakan-akan dia malu dengan Devian.


"Maaf." ucap Lisa lalu berbalik dan menatap Devian. "Jadi ada apa kamu kemari?" tanya Devian kemudian. "Aku.. mau pulang jadi aku mau pamit. Sampai jumpa." ucap Lisa dan dia pun bergegas ingin menuju pintu kamar yang berada di dekat Devian. "Cuma itu?" tanya Devian dan terdengar nada kecewa dari ucapannya. "emm.. iya." jawab Lisa lalu dia pun melewati Devian namun langkahnya terhenti karna Devian menahan lengannya. "kamu yakin mau keluar dengan penampilan seperti itu?" tanya Devian lalu menarik lengan Lisa dan membantingnya di tempat tidur Devian.