
"Well.. thankyou Devian atas tumpangan kecilnya! Senang bertemu denganmu!" seru Filicia lalu keluar dari mobil Devian begitu juga Randolf dan pacarnya.
"Ini kita mau kemana? Rumahmu atau rumah sakit?" tanya Devian sambil memutarkan setirnya. "Rumah sakit saja, aku harus membantu Papa." jawab Emily santai dan mereka pun menuju ke rumah sakit. Oh! Emily adalah anak dokter, tepatnya ayahnya pemilik rumah sakit terkenal di London.
"Terima kasih Dev udah ngantarin." ucap Emily begitu mereka berhenti di rumah sakit. "Oke. no prob." jawab Devian lalu melajukan mobilnya ke.. ke penthousenya. Sejak diizinkan mengendarai mobil sendiri, Devian diberikan penthouse oleh Steven agar anak itu mandiri. Oke mandiri dan dengan dua pelayan, dua tukang kebun, tiga sekuriti dan empat bodyguard. Oke.. penthouse kini bahkan terisi meskipun Devian tidak ada di rumah. Ohya! Peraturannya yaitu Devian harus pulang tiap weekend untuk mengunjungi orang tuanya.
Berbeda dengan rumahnya di Egerton Crescent, penthousenya setidaknya lebih dekat dengan sekolah daripada rumahnya.
"Halo mom." ucap Devian ketika mendapat panggilan dari ibunya. "Halo sayang, sudah di rumah?" tanya Rika lalu tersenyum walaupun Devian tidak bisa melihatnya.
"Sudah, ini mau mandi mom. Daddy sudah pulang?" tanya Devian lagi. Meskipun di usianya yang 17 tahun itu, dia sendiri sangat anak mama dan sedikit manja. Ya sedikit manja, kekanak-kanakkan sekali bukan?
"Belum, kamu mandilah dulu." ucap Rika lalu mematikan telepon tanpa menunggu jawabannya.
&&&
Kegiatan Devian selama di penthouse hanya makan, minum, bermain game, mereview mata pelajarannya di sekolah dan tidur. Yah.. bolak balik hanya seperti begitu dan Devian sangat semangat kalau weekend karna dia bisa pulang dan bertemu.. ehm bertemu Lisa. Dia ingin menganggu Lisa setidaknya atau dia bahkan ingin membuat cewek itu marah karna cewek itu imut kalau marah.
Devian masih ingat ketika usianya baru empat tahun dan gurunya menyuruhnya mencari teman untuk melakukan kelompok bermain, disitu Devian hanya berdiri diam dan memperhatikan orang-orang mulai berpasang-pasangan. "Ehmm.. Miss.." ucapnya namun tampaknya gurunya sedang sibuk dan tidak mendengarkannya. Yah.. Devian sempat ingin menangis karna tidak punya teman dan setidaknya... setidaknya Lisa tiba-tiba datang dan menarik tangannya. "Aku berkelompok dengannya." ucap Lisa dingin pada temannya.
Devian tersenyum kecil mengingat setelah kejadian itu dia memberikan hadiah kertas bergambarkan dua orang yang berpegangan tangan yang langsung dikomentari oleh Lisa. "jelek sekali." ucapnya singkat. Namun Lisa tetap menerimanya dan apakah Lisa masih menyimpannya? Tapi tidak mungkin jadi mungkin tidak.
&&&
"Morning Dev." ucap Emily lalu memakai sabuk pengaman. "Morning." jawabnya singkat. "Dev, kamu tau kan.. kita udah lama temenan?" tanya Emily lalu menoleh ke Devian. "Hmm?" hanya itu gumam Devian yang sedang mengemudi. "Kamu mau melanjutkannya ke jenjang lebih serius?" tanya Emily dengan ragu-ragu. "Maksudmu?" tanya Devian dan menatap Emily, oh! Emily sepertinya serius, baiklah Devian akan menghargainya dengan memarkirkan mobil ke samping jalan.
"Begini.. aku mau... kita pa..pacaran bagaimana?" tanya Emily tergagap-gagap. "Emm.. kenapa harus pacaran? Ada ya bedanya dengan sekarang?" tanya Devian balik. Devian memang merasa hubungannya dan Emily itu sedikit lebih dari sekedar teman. Mereka selalu berdua dimanapun, bahkan mereka sudah pernah berpelukan disaat Emily menangis.
"Kau.. tidak mau?" tanya Emily yang mulai ragu. Oke dia ragu, pernyataan cintanya baru ditolak. "I don't know tapi aku suka hubungan kita sekarang." ucap Devian jujur. "Lalu.. bagaimana dengan Tiara dari kelasmu? Atau.. Cardi?" tanya Emily dengan hati-hati. Mereka itu sekelas dengan Devian dan mereka juga dekat dengan Devian. Tapi bukan hanya mereka, ada Drake dan Rery bersamanya juga bahkan Aaron juga!
"aku gak tau apa kamu bicarakan Emily atau mungkin apa yang orang katakan. Mereka itu temanku. Aku katakan lagi mereka temanku." ucapnya lalu geleng-geleng. Apakah Emily menyukainya? Apakah Emily cemburu?
"Ohya dan juga kalau kamu kira alasan mereka aku nolak kamu, no kamu salah. Alasannya tu Lisa." ucap pria itu tanpa berpikir lagi. Astaga... dia sudah salah bicara. Dia seakan-akan sedang bilang kalau dia suka Lisa. Tapi apakah itu benar? Tidak juga, Devian tidak suka Lisa dan dia hanya suka mengisengi Lisa.
"Lisa? Je'nne Lisa?" tanya Emily dengan nada tinggi. Ah.. Emily menyukainya, sudah jelas. "Jadi kalian sudah kenal ya?" tanya Emily lagi. "iya. dia teman sejak kecilku. Begitulah. Aku tidak menyukainya maksudku aku ingin dia duluan punya pacar barulah aku akan punya pacar." Ups! Devian terlalu banyak berkata-kata dan sekarang dia ingin menonjok kepalanya. Itu bukankah artinya Devian menunggu Lisa???
"Ohh baiklah kalau itu yang kamu inginkan Devian.. dan.. aku anggap kau belum menjawabku ya." ucap Emily lalu menghadap ke depan yang artinya dia tidak ingin bicara lagi. 'What? Tunggu Emily! Aku salah bicara... aku memang bilang menunggu Lisa maksudku itu yah.. sebenarnya aku tidak mau pacaran denganmuuuu..." benak Devian ingin sekali mengatakan itu tapi dia tidak bisa. "Tapi.." hanya itu yang dikatakan Devian ketika Emily langsung membungkam mulutnya dengan bibirnya. Yah... mereka berciuman, Emily mendekatkan bibirnya pada Devian dan itu membuat Devian menarik Emily lalu menciumnya kembali. Hmm.. Devian memang pernah berciuman tapi belum pernah selama ini. Mungkin setengah jam? Entah kenapa Emily seperti menyihir dirinya. Ini ciuman pertama versi lamanya. Rasanya gila, dia merasakan lidah lembut dan kecil Emily itu masuk ke dalam mulutnya. Oke.. cukup sudah dia tidak mau terus begini.
Devian lalu menghentikan ciumannya dengan Emily dan menjalankan mobilnya dengan canggung.