That Idiot Jerk Loves Me (Oscar Series)

That Idiot Jerk Loves Me (Oscar Series)
Episode 22



Seorang suster mengatakan ada pasien yang butuh pertolongannya sehingga Jevan pun terpaksa meninggalkan Lisa.


&&&


"kamu datang ke rumahku berarti kamu juga menginginkannya kan?" tanya Rihanna lalu mendekati Devian dan menempelkan dadanya di dada tegap Devian. Devian sudah sering berolahraga jadi tubuhnya sudah setidaknya berbentuk seperti ayahnya. "Nope. Berkencan tidak harus melakukan sex. Tapi kalau memang itu yang kamu inginkan, aku pulang saja." ucap Devian datar lalu menjauhkan tubuh Rihanna yang menimpa tubuhnya di dinding. "Tapi aku mau! Kita pasangan kamu harus dong puasin aku!" seru Rihanna mulai kesal. "Kamu benar-benar menginginkannya?" tanya Devian lalu mengangkat dagu Rihanna. "Sayangnya Kalau pasangan hanya untuk memuaskan diri sebaiknya kamu cari laki-laki lain saja. Dasar jalang." ucap Devian dingin lalu meninggalkan Rihanna.


Dasar perempuan gila! Sudah berapa banyak laki-laki yang dia goda? Rasanya Devian bisa kena penyakit kalau bersetubuh dengannya. "Ugh! Menjijikkan!" Setidaknya itu yang ada di batin Devian.


"Dimana dia?" tanya Devian di telepon. "baiklah." lalu dimatikannya ponsel itu dengan kesal, layar ponselnya bisa pecah kalau dia menekan lebih kuat lagi sedikit dan dia pun melajukan Audinya ke jalan raya.


&&&


"apa yang kau lakukan disini?" tanya Lisa dingin. "menjemputmu sebelum kamu jadi gila disini." jawab Devian kesal, dia bukan hanya kesal tapi juga tampaknya tidak berniat berbasa-basi lagi. "Akan kubawa kau keliling London. Sini." ucap Devian lalu menarik tangan Lisa dan membawanya masuk ke mobilnya.


"Halo? Jangan ikuti kami, pulang saja." ucap Devian lalu mematikan ponselnya. "Jangan katakan kalau selama ini ada yang mengikutiku??? Dan saat kebakaran itu juga??" tanya Lisa terkejut, pastinya terkejut. Untuk apa laki-laki itu melakukan hal sepele ini hanya untuknya?


"Karna kau menerima siapa saja yang mau mendekatimu! Sadarkah kau kalau dirimu itu seperti murah?" seru Lisa blak-blakan. Dia sendiri juga terkejut kenapa dia begitu jujur dengan Devian. Sialan! Rasanya seperti dia cemburu saja. "Jadi kamu sudah melihatnya?" tanya Devian datar. Lisa tidak mengerti ekspresi datar dan suara datar itu. Devian kemudian menghentikan mobilnya dan menatap Lisa. "Kalau gitu tidak akan kulakukan lagi, bagaimana?" tanya Devian lagi. "Apanya bagaimana?" tanya Lisa bingung dan kesal. "mau berikan aku kesempatan?" tanya Devian lalu tersenyum kecil. Ada nada kemenangan dari pertanyaannya itu. "Apakah kau gila? Kau kira aku mau denganmu?" jawab Lisa. Bukannya menolak, Lisa malah menuntut Devian yang kepedean. "Kuanggap itu jawaban. Ayo!" serunya lalu membuka pintu dan keluar dari mobilnya lalu membukakan pintu untuk Lisa.


Mereka sudah berada di St. Paul's Cathedral, dan disitu sudah ada banyak kerumunan yang tampaknya berjalan kaki, berkencan, dan bahkan ada yang terburu-buru entah mau kemana. "Untuk apa kita kesini?" tanya Lisa dingin dan dia memilih membiarkan Devian memegang tangannya karna jika dia menolak dan melonta-lonta maka orang-orang disekitar akan melihatnya. "Membawamu kencan." ucap Devian kemudian. Devian pun membawa Lisa berkeliling dan juga mampir di cafe terdekat untuk tea time lalu memesan gelato dan memakannya di salah satu kursi taman. "Ini enak." ucap Devian yang masih menjilat gelato rasa coklatnya itu. Devian memang mirip dengan anak laki-laki pada umumnya yang suka dengan coklat berbeda dengan Lisa yang malah menyukai kopi. Kopi segalanya untuk Lisa, sehari tanpa kopi? Dead rasanya.


"Cappucino mereka tidak selezat yang biasa kumakan." komentar Lisa sambil menjilati gelatonya, dia memilih rasa cappucino. "Benarkah?" tanya Devian. "biar kucoba." ucap Devian dan hendak menjilat gelato milik Lisa namun gagal karna Lisa dengan terburu-buru menjauhkan gelatonya. "Sial." ucap Devian lalu terkekeh kecil. Lisa tentu tau Devian sedang modus dengannya namun tidak begitu mudah untuk modus dengan seorang Je'nne Lisa tentunya. Lisa pun menatapnya dengan tatapan dingin lalu menjilat gelatonya. Devian tersenyum melihat Lisa lalu dengan cepat menarik dagu Lisa sebelum gadis itu menelan gelatonya dan menciumnya. Tidak mencium tapi memasukkan lidahnya untuk menyentuh lidah Lisa lalu mengeluarkannya. "Hmm.. rasanya biasa aja." ucap Devian sambil berpikir dan mencoba merasa-rasa. "Apa yang kau lakukan sialan?!?!!" seru Lisa dan kemudian dia malu sendiri melihat beberapa orang menatapnya aneh. Oke.. dia bukan hanya malu tapi dia merasa pastinya wajahnya sudah merah sekarang. Dia bisa gila kalau berdua dengan cowok ini lama-lama! Ugh!!!!!


"Mau mencoba gelatomu, kamu terlalu pelit tidak mengizinkanku mencobanya. Yah walaupun kamu juga yang membayarnya. Apakah perlu kubayar?" tanya Devian dengan santai. Ugh(2)!!! Rasanya emosi juga kenapa hanya Lisa yang malu begini dan Devian tidak sih!!!!!


"Sialan! Aku tidak mau makan lagi." ucap Lisa dingin lalu mencari-cari tong sampah untuk dibuang. Dia jijik setelah merasakan ciuman, ralat lidah cowok itu di mulutnya. Bukan jijik sih.. tapi entah kenapa dia jadi tidak selera makan. "Kenapa begitu? Kalau begitu nah makan punyaku. Sini berikan punyamu." ucap Devian dan menyodorkan gelato miliknya. 


"Apa hubungannya? Itu juga sudah kau makan idiot!" seru Lisa dengan nada kecil karna dia tidak mau lagi malu ditatap orang sekitar. Lisa benar-benar tidak tau cowok itu bodoh atau apa. Sudah jelas kan kalau Lisa memang tidak ingin memakan air liurnya? Jerk memang dasar jerk! Melakukan apapun yang mereka mau.