
Gista turun dari motor Ragas. "Thank's," ucapnya sembari memberikan helem pada cowok itu.
Gista langsung berbalik menuju gerbang, mengabaikan Ragas yang terdiam menatapnya. Hingga suara Ragas menginterupsi langkahnya.
"Nama lo siapa?" Gista berbalik menghadap Ragas.
"Gak perlu tahu," kata Gista. Gadis itu tersenyum tipis lalu berbalik masuk gerbang.
Gista tak peduli apa reaksi Ragas. Meski dia hutang budi pada cowok itu. Jika tidak ada Ragas, mungkin Gista sudah luntang lantung di jalanan. Dan itu semua karena ulah papanya.
Emosi Gista kembali mencuat, mengingat hal itu. Gista langsung masuk ke ruang kerja papanya. Gadis itu membuka pintu dengan kasar, membuat orang yang ada di dalam terkejut.
"Papa keterlaluan!" teriak Gista, menatap nyalang papanya.
"Kebetulan kamu sudah pulang, ada yang perlu Papa sampaikan." Pria paruh baya itu terlihat sangat tenang. Sementara istrinya, tampak tersenyum sinis kepada Gista.
Gista tahu jika papanya pasti akan memberikan hukuman lagi. Persetan! Gista mencengkram erat tali tasnya. Menyalurkan semua emosi yang menggebu di hati.
"Pak Kim, tolong sampaikan yang tadi," perintah papa Gista.
"Baik, Tuan." Pak Kim berdiri menghadap Gista. "Karena tindakan melanggar aturan oleh Nona Gabriella Gista Andromeda. Mulai hari ini, semua faslitas Nona Gista dicabut ...."
"What?" pekik Gista tak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya. "Pa!" hardik Gista. Tapi pria paruh baya itu tak peduli, dia justru menyuruh pak Kim kembali melanjutkan ucapannya.
"Kartu kredit, ATM, kartu access VIP, semua ditangguhkan hingga waktu yang tak di tentukan. Tidak ada layanan antar jemput, maupun kendaraan yang boleh dipakai oleh Nona Gista ...." Gista menggeram, papanya sungguh keterlaluan!
"Semua berlaku mulai hari ini, hanya Tuan Andromeda yang punya wewenang mencabut semua hukuman ini. Sesuai syarat dan ketentuan, sekian terimakasih." Pak Kim menutup kembali tab-nya.
Gista tertawa sinis, berkacak pinggang menantang papanya. "Anda menghukum saya?" Gista berdecih. "SAYA TIDAK PEDULI!!" Gista berbalik menutup kembali pintu dengan kencang.
Mereka semua menyebalkan!! jerit Gista dalam hati.
———————
Gista berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya. Gista tersenyum kecut. Bagaimana bisa papanya memperlakukan dia seperti ini. Sementara saudara tirinya ....
Gista mendengkus, bahkan mereka jauh lebih baik dari dirinya. Mendapatkan kasih sayang utuh, fasilitas terjamin tanpa pernah merasa resah akan dibuang.
"Ma, Gista kangen," gumam Gista. Jangan cengeng ****!
Gista menyeka air matanya. Benar, dia gak boleh cengeng. Dia harus kuat, buktikan pada papanya jika dia tak selemah yang dipikirkan si tua bangka itu.
Gista meraih tasnya, hari ini dia memulai semua dengan cara yang berbeda.
Terdengar suara cengkrama dari meja makan. Gista berjalan menuruni tangga, matanya tak pernah lepas dari orang-orang yang tengah bersenda gurau sambil sarapan.
"GISTA!"
Suara bariton itu menghentikan langkah Gista. Gadis itu berbalik, memasang senyum lebar. "Pagi," sapa Gista.
"Mau ke mana kamu!" tanya sang papa.
"Sekolah," jawab Gista.
"Apa kamu tidak tau aturan di rumah ini? Kenapa kamu langsung menyelonong pergi seperti itu?" Gista mengumpat dalam hati, mendengarkan ocehan papanya.
"Aku pikir gak ada orang, lagi pula aku harus segera berangkat sebelum ketinggalan busway. Byee ...." Gista mengibaskan tangannya, lalu berbalik melangkah keluar.
"Gista!"
Persetan dengan teriakan papanya. Bukankah ini yang dia mau. Menghukum Gista. Dia pikir hukuman itu akan membuatnya jera salah, Gista justru semakin berulah.
Gista berdecak, seumur-umur baru kali ini dia harus berhimpitan naik kendaraan umum. Entah sudah berapa kali dia menghela napas lelah, pegal rasanya harus berdiri dengan kondisi bus yang sesak.
Tak lama busway yang dinaikinya berhenti di halte. Sungguh melelahkan, karena Gista masih harus berjalan menuju sekolahnya. Astaga. Bisa gila dia harus begini setiap hari.
Gista terus menggerutu, mengumpat, menyumpah serapah takdirnya. Mengutuk papanya yang membuat dia harus seperti ini. Gista menendang apapun yang ada di depannya, menyalurkan semua rasa kesal.
"****!" umpat Gista, mengayunkan kaki menendang kaleng di depannya.
Bugh! Gubrak!
Gista membungkam mulutnya, mengerjapkan mata berulang kali. Sial!
Kaleng yang dia tendang barusan mengenai kepala seorang pengendara motor, bahkan orang itu sampai terjatuh.
"Mati gue!" Gista memegangi kepalanya. Dia harus kabur, tapi bagaimana dengan orang itu.
Terdengar suara ringisan dari pengendara motor itu. "Eh tolongin ****!" teriak orang itu.
Gista celingukan, beruntung tak ada siapapun yang melihat. Dia segera berlari menghampiri cowok itu. "Mas gak apa-apa?" tanya Gista.
"Mas-mas, Mas! Emang gue Mas-mas apa?" gerutu orang dibalik helem fullface.
"Kok malah ngomel si!" gumam Gista.
"Woy! Bantuin. Ngapain lo bengong?!" Suara bass itu menyadarkan Gista.
"Eh, iya!"
Gista langsung mengangkat motor gede, meminggirkannya ke tepi jalan.
"Bantuin, kaki gue sakit!" ucap orang itu.
Gista membantunya berdiri, memapah cowok itu ke bahu jalan. "Aeww ... pelan-pelan!"
Gista mendengkus, orang ini sangat bawel dan menyebalkan! Dia terus merapalkan doa, semoga orang itu tidak menuntutnya. Karena jujur Gista tak ada uang untuk mengganti rugi kerusakannya. Sumber uangnya semua di tarik oleh sang papa.
"Maaf," kata Gista.
Cowok itu mendengkus, lalu membuka helemnya. "Makanya gak usah petakilan di jalan!" gerutu si cowok.
"Hm." Gista beranjak berdiri, membuat cowok itu mengerutkan dahinya bingung.
"Ke mana lo?" tanya cowok itu. Gista menundukkan kepalanya, menatap cowok itu.
"Sekolah."
"Terus gue gimana?" Gista tak menyahut dia hanya mengedikkan bahunya, enggan peduli. "Eh, tanggung jawab ini semua 'kan gara-gara lo!" sarkas cowok itu.
"Bodo!" Gista melangkahkan kakinya. Tak peduli lagi dengan teriakan cowok itu.
Namun baru beberapa langkah dia berhenti. Berpikir sejenak, lalu kembali berbalik menghampiri cowok itu. Sepertinya dia berubah pikiran.
"Ayo," kata Gista, mengulurkan tangannya pada cowok itu.
"Gak usah!" Cowok itu memalingkan wajahnya.
Sok jual mahal! batin Gista. Tak ingin berdebat, Gista langsung menyeret lengan cowok itu.
"Aw! Aduh ... sakit peak!!" Cowok itu meringis, memegangi kakinya.
Gista menghela napas panjang. "Nyusahin banget si lo!" Mau tak mau dia harus memapah cowok itu. Tak mungkin dia menyeret cowok itu dalam kondisi seperti itu.
Gista memutar bola matanya, semenjak memasuki gerbang sekolah mereka jadi pusat perhatian. Banyak cewek histeris, para cowok pun tak kalah saling berbisik.
Dasar bucin! Alay!
Gista menggerakkan bahunya yang terasa pegal, setelah membantu cowok itu berbaring di ranjang UKS.
"Eh! Lo mau ke mana?" teriak cowok itu saat Gista berjalan menuju pintu.
"Kelas! Lagian tugas gue udah kelar 'kan."
Gista kembali berbalik, tapi suara cowok itu menginterupsinya.
"Obatin dulu!" perintah cowok itu.
Gista memutar bola matanya. Namun dia tak membantah, karena pagi ini belum ada petugas PMR juga. Jadi, sebagai bentuk tanggung jawabnya dia mau mengobati cowok itu.
"Nama lo siapa?" Gista tak menyahut meski cowok itu terus menanyakan namanya sedari tadi. Gista tetap fokus mengobati lutut dan siku cowok itu.
Terdengar helaan napas berat dari cowok itu. "Nama lo Gabriella?" Gista masih membisu. "Ok. Gue panggil lo Ella." Gista melotot, menghentikan aktivitasnya. "Kenapa? Bener 'kan? Gabriella, dipanggil Ella."
"Serah! Obati sendiri!" Gista mendengkus, melempar kapas yang dipegangnya ke cowok itu. Gista langsung melangkah keluar. Lagi-lagi suara bass cowok itu menghentikannya di ambang pintu.
"Nama gue Tara!" seru cowok itu.
GUE GAK PEDULI! Pekik Gista dalam hati.
Gista mengerutkan kening, ketika melihat anak-anak berlarian menuju lapangan. Ada apa?
"Parah ada polisi segala!" seru seorang gadis yang melewati Gista.
"Katanya si kak Rico yang bunuh."
"Terus sekarang dia mau bunuh diri di atap gedung."
Gista mengikuti langkah gerombolan itu, dia berjalan ke depan barisan. Mendongak menatap ke atap gedung. Di sana seorang cowok berdiri.
Cowok itu?
Gista ingat dengan cowok itu. Cowok yang tempo hari memberinya kotak kado berisi kartu merah.
Ngapain dia?
"Rico turun!" teriak kepala sekolah lewat pengeras suara.
"Jangan gegabah Rico, pikirkan baik-baik. Kita bisa selesaikan ini." Para guru pun ikut membujuk cowok itu.
Namun cowok itu terlihat menggelengkan kepala. Para polisi dan beberapa staf keamanan berlarian menuju ke atap gedung. Sementara anak-anak saling berbisik membicarakan perihal hubungan Rico dengan Alisya, pelaku bunuh diri tempo hari.
"Gue denger kak Rico pacaran sama kak Alisya." Krasak krusuk suara bisikan itu terus mengganggu Gista. Mereka tak berhenti membicarakan keduanya.
Gista mengamati cowok itu, tampak takut dan ragu. Gista tersenyum. "Dia gak bakal berani loncat!" tukas Gista. Dia berbalik, hendak pergi namun pekikan anak-anak dan suara dentuman di belakangnya membuat Gista berhenti melangkah.
Dengan gerakan perlahan dia menoleh ke belakang. Matanya seketika melotot saat melihat darah segar itu mengalir lewat kepala yang berbenturan dengan paving blok.
Lagi! Gista menyaksikan hal mengerikan itu.