TARGET

TARGET
BAB 34



Gista menghela napas berulang kali sebelum ia turun dari mobil. Ragas yang membukakan pintu untuknya tersenyum lebar, mengulurkan tangan.


"Silahkan Tuan Putri."


Gista memutar bola matanya. "Gak usah lebay, Gas."


Ragas terkekeh saat tangan Gista menepis tangannya. "Gitu aja ngambek." Ragas merangkul bahu Gista. "Abisnya malam ini lo cantik banget, serius. Cinderbelek liat lo juga langsung insecure."


Gista mencebikkan bibirnya, Ragas terlalu berlebihan menyanjung dirinya. Kini keduanya memasuki tempat pesta digelar.


"Selamat malam Tante, selamat ulang tahun." Ragas memeluk wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik.


"Terima kasih Gas, mama kamu mana?" tanya wanita itu.


"Ada masih di belakang Tante," jawab Ragas.


"Oh." Wanita itu menatap Gista yang berdiri di belakang Ragas, ia beralih menatap Ragas kembali. "Pacar?" tanyanya.


Ragas tampak tersenyum malu-malu, mengusap tengkuknya, merasa kikuk. "Masih calon Tante, do'ain ya," bisik Ragas.


"Pasti." Wanita itu terkekeh lalu melemparkan senyumnya pada Gista.


Gista membalasnya dengan senyuman kaku. Dia tidak kenal dengan wanita itu, bahkan Gista tidak tahu acara apa ini. Dia dipaksa Ragas untuk menemaninya.


"Kalo gitu Ragas ke sana dulu ya Tante." Tunjuk Ragas pada gerombolan teman-temannya. Wanita itu mengangguk.


Ragas menggandeng lengan Gista, dia tahu Gista kesusahan berjalan karena harus mengenakan heels. Tentu saja Zee yang memaksanya, jika tidak mungkin Gista akan memakai sepatu boots.


"Dia siapa?" tanya Gista saat jarak mereka sudah jauh.


"Mamanya Olan."


"Apa?" Gista tercengang, tak menyangka jika ini acara ulang tahun mamanya Olan. Itu artinya akan ada Alastor.


Dugaan Gista benar, dia mendecih saat suara-suara mulut liar itu menerpa gendang telinganya. Muak melihat para cowok itu menatapnya dengan lapar.


Apa mereka tak pernah melihat gadis cantik dan seksi? NORAK!


"Wuih, Gis ... makin cantik aja," celetuk Alfa saat Gista tiba di depan mereka.


"Dan seksi," sahut Tara yang terus menggulum bibirnya. Matanya tak lepas menatap dada Gista.


"Mata lo minta dicungkil?" sarkas Gista, melototi Tara.


"Eh, ketahuan." Tara tampak salah tingkah menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Lo cantik Gis," ucap Arka.


"Baru nyadar?" balas Gista tampak tak peduli dengan tatapan penuh damba dari Arka.


"Gis, kayanya gue mulai suka deh sama lo." Kini giliran Saga mengeluarkan mantranya.


Gista memutar bola matanya, jengah. "Sayangnya gue gak suka sama lo!"


"Belom aja, nanti juga suka." Saga tampak tak peduli dengan penolakan Gista yang terang-terangan.


"Lo semua apaan si?" Ragas menatap sebal teman-temannya. "Gista gak suka sama lo,lo pada." Ragas menunjuk wajah teman-temanya satu persatu. "Dia sukanya sama gue."


Keempat cowok itu sontak menyoraki Ragas. Hanya Leon yang diam dan tak mau ikut-ikutan. Matanya terus melirik Gista yang sedari tadi melihat ke arah lain. Entah apa yang sedang Leon rasakan.


Fokus mereka pun teralihkan oleh suara mic dari pembawa acara yang mulai membuka acara perayaan ulang tahun itu. Acara yang sangat meriah dihadiri oleh orang-orang penting, sepertinya orangtua Olan memang orang yang berpengaruh.


Gista menatap lurus ke depan, matanya tak pernah lepas menyorot sosok yang tengah berdiri di atas panggung. Pria paruh baya yang sedang berbicara, pria itu mirip sekali dengan Olan.


Entah kenapa Gista merasakan aura yang berbeda dari pria itu. Ucapannya terdengar tidak tulus, mimik mukanya seolah sedang memainkan peran. Apa mereka sedang berpura-pura.


Pura-pura menjadi keluarga bahagia?


Wajar saja Qween tergila-gila pada Olan. Gista tak memungkiri ketampann Olan, sebelas dua belas dengan Ragas. Gista menoleh ke Ragas, cowok itu mengedipkan sebelah matanya tersenyum manis pada Gista lalu mulutnya terbuka.


I love you.


Gista menyunggingkan senyumnya. Ia kembali menatap ke depan. Kini giliran Olan melakukan sambutan. Dia tampak berkarisma, elegan dan berwibawa.


"Bertepatan di acara ulang tahun istri saya." Papa Olan mengambil alih mic-nya. "Saya akan mengumumkan, bahwa Olander william Tan akan menjadi penerus saya, memimpin yayasan Tan."


Semua orang bertepuk tangan untuk Olan. Decak kagum berkumandang, pujian saling bersahut. Semua orang kini membicarakan Olan.


"Dan satu lagi, saya juga akan mengumumkan tentang pertunangan Olan dengan————"


"Dengan pacar saya," potong Olan membuat papanya melotot.


"Olan!" hardik papanya, menekan suaranya agar tidak didengar para hadirin.


"Saya akan bertunangan dengan pacar saya." Olan tak peduli dengan sorotan mata papanya yang tajam. Olan tersenyum tipis, seolah memang ini yang sudah ia rencanakan. Menabuh genderang perang dengan papanya sendiri.


"Gabriella Gista Andromeda."


Gista mengerjapkan matanya, mulutnya menganga saat Olan menunjuk ke arahnya. Semua tamu kini beralih menatap dirinya. Gista melirik Ragas, menggelengkan kepalanya.


Ragas mengetatkan rahangnya, kedua tangannya terkepal sempurna. Dalam hati dia menyumpah serapah Olan yang berani mengklaim sepihak Gista. Ragas berusaha menekan emosinya, ketika sorot mata Gista memohon kepadanya untuk tetap tenang.


"Lagu lama." Tara berdecak, menghela napas kasar.


"Tahun lalu dia nembak Alisya di acara ulang tahunnya. Sekarang dia gunain cara yang sama," sahut Saga, tersenyum kecut.


"Apa gue musti bawa palang pintu ke rumah Gista, buat klaim dia jadi istri gue," timpal Alfa.


————————


Gista menghempas tangan Olan dari lengannya. Kini keduanya berada di kamar Olan. Cowok itu sengaja menyeret Gista dari kerumunan pesta yang masih berlangsung.


"Lo gila?" Gista mendecih, memalingkan wajahnya dari hadapan Olan.


"Ya, gue emang gila. Dan itu lo penyebabnya," jawab Olan, merenggangkan ikatan dasi yang serasa mencekiknya.


"Harusnya lo gak tarik gue ke dalam masalah keluarga lo!" ketus Gista.


"Bokap lo santai aja tuh, kayanya dia juga setuju-setuju aja. Apalagi kakak lo. Gimana dia kegirangan banget," ucap Olan di depan wajah Gista.


Gista mundur, menjaga jarak aman. Dia merutuki situasi yang tak berpihak padanya. Kenapa juga harus ada papanya di acara itu, terlebih si penjilat itu. Secara terang-terangan mengikrarkan dukungannya.


Sial!


"Jadi ...." Olan menggantunkan ucapannya, matanya mengamati penampilan Gista yang sangat memancingnya sejak tadi.


Gista mendongak, matanya bertemu dengan mata biru milik Olan. "Jadi apa?" Olan tak menyahut, dia melangkah maju semakin mendekat.


Gista refleks mundur, tapi sialnya punggung Gista menabrak dinding. Dia terkurung, tak lagi berjarak dengan Olan ketika cowok itu menghimpitnya.


Olan menunduk, kedua tangannya berada di sebelah kepala Gista. Embusan napas Olan menerpa wajah Gista, mengalirkan sengatan disekujur tubuhnya. Menyalakan alarm tanda bahaya.


"Mau apa lo?" Gista melotot. "Jangan macem-macem," hardik Gista.


Olan tak menggubris, telunjuknya terangkat menyentuh pipi Gista, menariknya turun ke dagu lalu menaikkan dagu Gista hingga mata mereka saling bersitatap. Olan mendekat.


Mau apa si berengsek ini? Gista panik, otaknya tak mampu berpikir jernih. Situasi yang sangat buruk baginya. Kenapa tubuhnya harus berkhianat, ada apa dengan kakinya yang tak bisa bergerak?


Gista terus merutuki diri, tak mampu lagi mengelak kenyataan. Dia tak bisa lari.


"Mulai saat ini lo TUNANGAN gue," ucap Olan menekankan status mereka.