TARGET

TARGET
BAB 35



Ragas mengetatkan rahangnya, ia sudah tidak bisa bersabar lagi ketika melihat Olan membawa Gista pergi. Kurang ajar Olan memang, teman gak ada ahlak! Bisa-bisanya dia nikung dari belakang begini, padahal Olan jelas tahu bagaimana hubungannya dengan Gista.


"Gas, mau ke mana?" Arka mencekal lengan Ragas saat cowok itu hendak pergi.


"Iya Gas, udahlah di sini aja. Kita nangis bareng-bareng," celetuk Tara.


"Nangisin Gista maksud lo?" Saga melirik sinis Tara, ia mencebikkan bibirnya. "Sad boy emang pantes si buat jomblo ngenes kaya lo," cibir Saga.


"Kambing lo!" maki Tara yang tak Terima dengan cibiran Saga. "Lo sendiri kan jomblo!"


Saga mendengkus, ia menyalakan sepuntung rokok di tangan lalu menghisapnya sebelum membalas ucapan Tara. Saga sengaja mengembuskan asap rokok ke depan wajah Tara, membuat sang empu menyumpah serapah dirinya.


"Gue single elegan, beda kasta sama sama jones!" kata Saga dengan percaya diri.


"Alah banyak gaya lo, tetep aja jomblo mah jomblo aja. Pake segala kasta-kastaan!" Tara mencebikkan bibirnya.


Ragas memutar bola matanya, kenapa dia malah masih berdiam diri dan melihat dua orang temannya berdebat hal tak penting.


"Gas." Arka kembali menahan lengan Ragas yang akan beranjak pergi.


"Lepas!" Ragas menatap tajam Arka.


"Gue tahu perasaan lo, tapi kendaliin emosi lo saat ini. Jangan buat kekacauan atau lo justru akan kehilangan Gista," ujar Arka.


Ragas tak peduli, ia melepaskan cekalan tangan Arka di pergelangan tangannya lalu melangkah pergi mengabaikan panggilan teman-temannya.


Tangan Ragas terkepal, ia tak sabar ingin menghantam rahang dan wajah Olan. Membuat cowok itu babak belur, karena sudah berani mengklaim Gista secara sepihak. Sialnya, kenapa orangtua Gista malah menyutujuinya?


Berengsek!


Ragas mengatur napasnya, ia sudah berkeliling tempat sekitaran pesta tapi tak juga menemukan Gista dan Olan. Ia sudah kehilangan jejak. Ke mana Olan membawa Gista? Kini pikiran Ragas berkelana ke mana-mana, ia semakin gusar mengingat track record Olan bagaimana.


"Gista, angkat dong!" Ragas menyugarkan rambutnya, ia berkacak pinggang sambil mengedarkan matanya ke penjuru tempat pesta digelar. "Shit!" Ragas mengumpat saat panggilannya tak diangkat dan berakhir dengan suara operator yang menjawab.


"Awas aja lo Olan, sampai lo berani sentuh Gista seinci aja. Gue pastiin lo hancur ditangan gue!" Ragas mengetatkan rahang, emosinya sudah menggebu-gebu.


Ragas berkeliling ke semua ruangan di rumah Olan. Ia tak menemukan keberadaan Gista di lantai satu, lalu beralih menaiki tangga menuju lantai dua. Ragas pikir satu-satunya tempat yang paling mungkin adalah kamar Olan. Ya, Ragas yakin Olan membawa Gista ke kamarnya.


Emosi Ragas semakin mencuat ke ubun-ubun, ia benci dengan pikirannya yang menerka-nerka apa yang dilakukan Olan terhadap Gista di dalam kamarnya. Mengingat Olan begitu berengsek!


Ragas berhenti di depan kamar Olan, terdengar jelas suara ringtone panggilan dari dalam. Ragas menatap layar ponselnya yang masih menyala, ia meremas ponselnya saat panggilan pada Gista mati tak terjawab.


Setelah memasukkan ponselnya ke saku, Ragas langsung menggedor-gedor pintu kamar Olan. Tapi tak ada sahutan, yang ada malah terdengar suara benda jatuh. Ragas yang panik pun refleks mendobrak pintu, ia berusaha keras sampai akhirnya pintu terbuka lebar.


Ragas melotot, melihat posisi Olan menghimpit Gista di dinding. Ia menggeram mendengar Gista mencicitkan namanya.


"Berengsek!" Ragas menghambur ke Olan, menariknya lalu melayangkan pukulan bertubi-tubi pada Olan. "********, *******, kurang ajar!" Ragas semakin membabi buta menghajar Olan, sementara yang bersangkutan terkapar tak berdaya.


"Ragas, berhenti." Gista menarik tubuh Ragas dari atas tubuh Olan.


"Lepas! Biarin gue hajar si berengsek ini!" geram Ragas, kembali melayangkan tinjunya. Dengan cepat Gista menahan kepalan tangan Ragas. "Gas, dia bisa mati. Gue gak mau lo dipenjara gara-gara ini."


"Ragas! Lo gak mau dengerin gue, oke gue gak akan peduli lagi sama lo!"


Olan terkekeh, seolah menertawakan kebimbangan Ragas. Padahal ia sudah babak belur tapi masih sempat-sempatnya tertawa tanpa beban.


"Shit!" Ragas menghempas kerah baju Olan. "Gista tunggu!" Ia beranjak mengejar Gista.


Ragas meraih tangan Gista yang baru akan menuruni tangga, ia segera menarik Gista pergi meninggalkan pesta. Bahkan saat di bawah, ia tak menggubris teman-temannya. Ragas terus membawa Gista sampai ke mobilnya.


———————


Sepanjang perjalanan, tak ada satu pun yang membuka mulut. Keduanya saling diam dengan pikiran masing-masing. Gista menyenderkan kepalanya, menghadap kaca jendela samping.


Sementara Ragas masih fokus menatap lurus ke depan. Jalanan yang dilalui sangat sepi, hanya ada satu dua mobil yang melintas. Mengingat ini sudah menunjukkan pukul 23.00.


Dalam hati, Ragas terus merutuki Zee yang memaksa Gista memakai baju seksi berbelahan dada rendah dan punggung terbuka. Hal itu jelas saja mengundang para buaya lapar leluasa melakukan pelecehan terhadap Gista, termasuk yang dilakukan Olan tadi.


Entah bagaimana ceritanya, seandainya ia tidak datang tepat waktu. Melihat Gista tak berdaya dihimpit Olan seperti itu, membuat dadanya sesak luar biasa. Mungkin jika ia gelap mata, maka Olan sudah lenyap dari muka bumi.


"Ragas!"


Ragas tersentak ketika suara Gista yang lantang masuk ke gendang telinganya. Ia hanya menoleh sekilas lalu kembali fokus ke depan tanpa menyahut.


"Ragas, lo kenapa si?" tanya Gista yang tampak lelah, terlihat jelas dari raut wajahnya. "Lo marah? Mau sampai kapan lo diemin gue? Dari tadi gue panggil-panggil lo—————"


Gista langsung mengatupkan bibirnya ketika tubuhnya terdorong maju, karena Ragas ngerem mendadak. Gista mengusap jidatnya yang baru saja membentur dasbor, lalu menoleh pada Ragas.


Beruntung jalanan sangat sepi, karena Ragas menghentikan mobilnya di tengah jalan.


Ragas tampak diam, terdengar deru napas menggebu. Wajahnya pun tampak tegang. Ragas menoleh pada Gista.


"Lo tanya gue marah? Jelas gue marah Gista! Ngeliat lo sama Olan kaya tadi, lo pikir hati gue gak sakit. Jelas sakit, orang yang gue sayang seenak jidat diklaim sepihak sama si berengsek itu! Belum lagi dia yang ngela————"


Ragas seketika membisu, semua rangkaian kata yang siap meluncur tertahan di tenggorokan ketika Gista membungkam mulutnya. Ragas terpaku, sentuhan bibir Gista membuat tubuhnya membeku.


"Lo bawel banget si," ucap Gista setelah melepaskan ciumannya. Kedua tangannya masih menangkup pipi Ragas, Gista tersenyum manis. Memperhatikan setiap inci lekukan hidung dan mata Ragas yang terlihat sempurna. "Maaf," lirih Gista, sebelah tangannya merapikan poni Ragas yang menutupi mata.


Ragas tak bisa berkutik, matanya terkunci oleh sorot mata Gista yang seakan membiusnya. Pesona Gista begitu mematikan, sampai membuat semua sarafnya berhenti tak beroperasi sebagaimana mestinya.


Jantung Ragas dipaksa berpacu dengan cepat, jarak mereka yang sangat dekat membuat bayang-bayangan laknat bertebaran di otaknya. Ditambah setan-setan jahanam merongrong jiwa agar melakukan hal-hal yang tak semestinya.


"Maaf, udah bikin lo khawatir," ucap Gista.


Gista sudah akan beranjak ke posisinya semula, namun Ragas menahan tangan Gista. Ia tak membiarkan Gista melepaskan tangannya. Dengan gerakan cepat, Ragas memajukan tubuhnya mendekat ke depan Gista.


Gista mengerjapkan mata berkali-kali, ia tak menyangka akan mendapatkan balasan dari Ragas. Gista memejamkan matanya, menikmati sentuhan bibir Ragas. Membiarkan Ragas melakukannya.


"I love you," bisik Ragas, lalu kembali mencium Gista.


Embusan angin malam dan cahaya rembulan jadi saksi keduanya.