TARGET

TARGET
BAB 30



Waktu sudah petang saat Ragas dan Gista keluar dari restoran. Ketika sampai di parkiran, Gista tiba-tiba berhenti membuat Ragas menoleh.


"Ada apa?" tanya Ragas saat melihat Gista kebingungan seperti mencari sesuatu.


"Tas gue." Gista meringis. "Ketinggalan di dalam, boleh minta tolong ambilin gak?"


Ragas menghela napasnya lalu mengangguk sembari mengacak-ngacak rambut Gista, saking gemasnya. "Ceroboh banget si, untung masih di sini. Yaudah tunggu sini, gue ambil dulu."


Gista mengangguk, melambaikan tangannya. "Makasih!" teriak Gista.


Setelah memastikan Ragas masuk, Gista berbalik ke arah lain. Pandangannya tertuju ke salah satu mobil mercedes-benz warna hitam yang terparkir tak jauh dari mobil Ragas.


"Kena kau." Gista menyeringai, ia berjalan cepat menghampiri mobil itu sambil meremas kesepuluh jarinya. "Oke, kita liat siapa yang nyuruh lo ngikutin gue!"


Gista berhenti di depan mobil itu, mengamati pria berjas hitam yang tengah memunggunginya. Sepertinya pria itu sedang menerima telepon.


Gista bergerak cepat merebut ponsel dari tangan pria itu, dia mendecih saat melihat nama yang tertera di layar ponsel.


"Kembalikan!" seru pria itu, tampak terkejut dengan kehadiran Gista.


Gista tak menggubrisnya, dia mendekatkan ponsel itu ke telinganya.


"Halo! Halo! Apa yang terjadi? Kamu sudah menemukan di mana Gista tinggal sekarang?"


Gista tersenyum sinis, matanya menatap tajam pria berjas di depannya. "Why? Papa khawatir?"


Papa Gista terdiam saat Gista bersuara. "Bukankah papa udah usir Gista? Bahkan  udah gak mau ngakuin Gista anak. Terus ngapain nyuruh orang buat ngikutin Gista? Ah, atau papa takut aku buka mulut?" Gista menyeringai.


"Aku gak mau tau, ini terakhir kalinya aku liat orang suruhan papa di sekitarku. Atau ...." Gista menggantungkan ucapannya, menatap tajam anak buah papanya. "Orang suruhan papa akan mati."


Mendengar ucapan Gista, pria itu langsung bergidik wajahnya berubah jadi pucat.


Gista mematikan sambungan telepon tanpa berniat mengdengar jawaban papanya. Dia melemparkan ponsel itu ke pria di hadapannya.


"Kalau lo masih mau hidup, jangan pernah muncul di dekat gue. Ngerti!!" Gista langsung berbalik melangkah pergi meninggalkan pria itu.


——————


Gista beruntung saat ia diusir ada keluarga Ragas yang mau menampungnya. Memperlakukan ia seperti keluarga sendiri, terutama mama Ragas yang sangat perhatian. Rasanya Gista seolah merasakan kembali kasih sayang seorang ibu.


"Makasih Tante," ucap Gista setelah menerima piring berisi nasi goreng yang diambilkan mama Ragas.


"Zee juga dong Ma, masa Gista doang yang diambilin," protes Zee sambil menyodorkan piringnya.


"Lebay lo! Biasanya juga ngambil sendiri," cibir Ragas.


"Apaan si lo Kak, rese deh."


"Lo tuh lebay! Dasar manja."


"Rese!"


"Manja!"


"Issh, Mama. Kak Ragas ngeselin!"


"Sudah-sudah, kalian ini kebiasaan deh berantem." Sang mama geleng-geleng kepala melihat kedua anaknya yang selalu berdebat.


Sementara Gista tersenyum tipis melihat Ragas dan Zee, dia jadi iri. Seandainya ia punya saudara pasti hidupnya tak akan sesepi ini. Mungkin dia juga tidak akan ditinggalkan  seorang diri.


"Oh ya, Gis. Terus lo hari ini mau ngapain? Enak banget ya, bisa rebahan seharian." Gista menoleh pada Zee, dia mengedikkan bahunya.


"Gak tahu, gue belom ada planning," jawab Gista.


"Kalau kamu bosen di rumah, kamu boleh ikut tante ke rumah sakit," usul mama Ragas.


"Bener tuh Gis, gue juga gak khawatir kalo lo sama Mama," sahut Ragas.


"Em ... boleh." Gista tersenyum lebar lalu kembali melanjutkan makannya.


Setelah sarapan, Gista dan mama Ragas langsung meluncur ke rumah sakit. Gista berjalan di belakang mama Ragas saat memasuki rumah sakit.


"Bu Dokter." Gista dan mama Ragas refleks menoleh. "Selamat pagi Bu Dokter."


"Pagi Ibu. Mau ke mana?" tanya mama Ragas.


"Saya mau pulang, ada sedikit masalah di panti. Apa saya boleh titip Richo sebentar?"


"Tentu saja, Ibu tenang saja. Richo aman di sini," jawab mama Ragas, mengusap bahu mama Richo agar tidak perlu khawatir.


"Terimakasih Bu Dokter, kalo begitu saya permisi." Setelah berpamitan mama Richo langsung pergi.


"Kamu mau ikut Tante ke ruangan Richo?" tanya mama Ragas.


"Iya Tante." Gista pun mengikuti mama Ragas menuju ruangan Richo.


Tapi ditengah jalan ponsel mama Ragas berbunyi, wanita itu berhenti dan segera mengangkatnya. Ternyata telepon dari ruang UGD.


"Gista, tante harus ke UGD ...." mama Ragas tampak cemas.


"Tante pergi aja, biar aku yang jagain Richo."


"Makasih ya." Gista mengangguk, menatap kepergian mama Ragas.


Gista menghela napasnya, ia kembali berjalan  menuju kamar Richo. Ketika sudah sampai di depan ruangan Richo, Gista berpapasan dengan seseorang yang baru saja keluar dari ruang itu.


"Woy!" teriak Gista karena orang itu berlari dan sangat mencurigakan. "Woy, jangan kabur lo!" Gista terus berlari mengejar cowok itu. "Woy!! Berhenti!!!"


Gista berlari di sepanjang koridor, tak peduli dengan gerutuan orang-orang yang ia tabrak. Cowok berhodie itu terus berlari, berusaha kabur dari kejaran Gista. Cowok itu keluar lewat tangga darurat.


Shit! Umpat Gista karena baru saja menabrak cleaning service. Tak ingin ketinggalan jejak, dia kembali memacu langkahnya mengejar cowok itu.


"Kyaaa!!!" Gista berlari menuruni tangga, napasnya mulai tersenggal.


Jika begini, dia akan kehilangan jejak cowok itu. Akhirnya Gista nekad naik ke pembatas tangga, dia melompat dari atas terjun ke tangga bawah. Gista mendarat tepat di depan cowok itu, jarak mereka hanya terpaut tiga anak tangga.


"Mau ke mana lo?!" Gista mendecih. "Kyaaa!!" Gista langsung bergerak cepat saat cowok itu berbalik hendak kabur. "Mau ke mana lo?" Gista menarik hodie cowok itu, menyeretnya ke bawah.


"Ampun, ampun jangan pukul gue," cicit cowok itu.


"Ngapain lo ke kamar Richo?" Gista memperhatikan cowok itu, tampak tidak asing. "Apa yang lo ambil?"


"Gak ambil apa-apa," jawabnya.


"Bohong!"


Gista terus berpikir, mengingat-ingat wajah cowok itu. Dilihat dari seragam sekolahnya, cowok itu dari SMA Pelita. Mata Gista membola, ia ingat. Bukankah cowok itu suruhannya Olan.


"Lo gak mau jawab? Gue bakal seret lo ke polisi. Gue tahu lo udah sering menyelinap ke ruangan Richo bukan?" ancam Gista.


"Jangan!" pekik cowok itu. "Oke, gue ngaku. Gue emang ambil sesuatu dari sana." Cowok itu mengambil sesuatu dari saku hodienya dan memberikannya pada Gista.


Buku diari? Buku diari yang sempat Gista lihat di atas nakas. Kenapa cowok itu bersikeras untuk mengambilnya? Memangnya ada apa dengan diari ini? Gista memandangi buku kecil berwarna biru di tangannya.


"Siapa yang suruh lo?" tanya Gista.


"Gak ada."


"Yakin?"


"Iya."


Gista memutar bola matanya, cowok itu berusaha menutup-nutupi orang yang telah menyuruhnya. Padahal Gista juga tahu siapa orangnya.


"Bohong! Apa Olan yang suruh?" Cowok itu refleks mendongak saat Gista menyebut nama Olan. Dia tampak terkejut, bola matanya melebar.


"Olan yang nyuruh lo? Jawab? Atau gue seret lo ke polisi!" hardik Gista.


Cowok itu mengembuskan napasnya, kasar lalu mengangguk pelan. "Iya, Olan yang nyuruh."


Apa hubungan Olan dengan bukunya diari ini?