
Ragas berdiri diambang pintu, matanya terus terfokus pada Gista yang sedang diperiksa mamanya. Gadis itu sudah terlelap.
"Gimana Ma?" tanya Ragas, tampak khawatir.
"Baik-baik aja, dia cuma butuh istirahat. Kamu tidur jangan begadang," jawab mamanya, mengusap lengan Ragas sebelum keluar dari kamar.
"Kak, Gista gak papa kan?" bisik Zee, menyembulkan kepalanya, melongok ke kamar Ragas.
"Gak papa. Lo tidur sono. Udah malem."
Zee mendengkus, padahal ia ingin tidur bersama Gista. Tapi kakaknya terlalu overprotectif. Sampai dirinya saja gak boleh masuk.
"Terus Kakak tidur di mana?" Zee memicingkan matanya. "Jangan macem-macem Kak! Anak orang ... mmmphbhb!!" Zee berontak ketika Ragas membekap mulutnya, menyeretnya masuk ke kamarnya.
"Dasar bocah!" Ragas menutup pintu kamar Zee cukup keras. Terdengar suara makian Zee dari dalam kamarnya.
Ragas hanya menggelengkan kepalanya pelan, ia kembali masuk ke kamarnya. Duduk di tepi ranjang, tangannya terulur mengusap kening Gista yang mengkerut.
"Mama."
"Mama." Gista terus bergumam, memanggil-manggil mamanya. Tampak gusar dalam tidurnya.
"Apa semenyakitkan itu masa lalu lo?" gumam Ragas, mengecup kening Gista. "Gue janji bakal jagain lo, apa pun yang terjadi." Ragas tersenyum tipis, melihat Gista mulai tenang kembali, meski bibirnya masih menggumam pelan.
Ragas sudah akan beranjak pergi, namun tiba-tiba Gista menahan tangannya. Refleks membuat Ragas menoleh, gadis itu masih terlelap. Namun genggamannya semakin kuat. Kepalanya menggeleng pelan.
"Jangan pergi, aku takut sendiri," gumam Gista dengan mata masih terpejam.
Ragas kembali duduk, ia mengusap kepala Gista————lembut. "Gue gak pergi, gue di sini. Gue bakal selalu disamping lo." Gue janji.
————🌰🌰🌰————
Gista membuka matanya perlahan, kepalanya masih berdenyut terasa berat sekali. Tapi ia memaksakan matanya terbuka lebar, memandangi ruangan serba hitam yang sangat asing.
Gista menoleh, ketika merasakan pergerakan di sampingnya. Ia melihat Ragas sedikit menggerakkan kepalanya, sepertinya semalaman cowok itu tidur sambil duduk.
"Gas." Gista mengusap kepala Ragas. "Ragas, bangun."
Ragas mulai membuka matanya perlahan, ia bangun mengucek-ngucek matanya. "Lo udah bangun?" Ragas menguap, rasa kantuk masih mendominasi.
"Lo semalaman tidur di sini?" tanya Gista, Ragas hanya mengangguk. "Yang lain ke mana, kok sepi?"
"Mama udah berangkat kerja, kalo Zee udah nyampai sekolah mungkin."
"Terus, lo gak sekolah?" Gista melebarkan matanya.
"Gak, lagian gak ada lo juga males gue. " Ragas bangun. "Gue mandi dulu, nanti kita sarapan. Kebetulan mama udah masak tadi."
Gista mengangguk, selepas kepergian Ragas ke kamar mandi. Gista meraih ponselnya, namun tak ada notifikasi apa pun. Gista menghela napasnya, pelan.
"Lo terlalu berharap Gis," gumamnya.
————————
"Jadi, lo gak tahu kalo Alisya pernah hamil?" tanya Gista di sela-sela makannya.
Uhuk!
Ragas segera meraih gelas minum di depannya. Menenggak habis isinya. Meski sejak tadi mereka memang tengah membahas Alisya, namun kata-kata hamil selalu membuat Ragas tersedak makanannya sendiri.
"Harus banget lo bahas ini di meja makan Gis?" Ragas menghala napasnya.
"Kenapa?" Gista menaikkan sebelah alisnya, mengamati ekspresi Ragas. "Bukan lo kan, yang ngehamilin Alisya?"
Ragas langsung terbatuk-batuk, hampir saja ia menyemburkan makanan yang tengah dikunyahnya. Gista menyodorkan gelas minum miliknya, Ragas langsung menerimanya, menghabiskan isinya.
"Gila lo, gue masih perjaka ting-ting. Gue gak suka asal celup sana sini, emangnya Saga," gerutu Ragas, mengusap bibirnya.
"Saga?" beo Gista. Pernyataan Ragas mengundang tanda tanya besar.
Gista mengerti, dia tak lagi bertanya keduanya makan dalam diam. Namun pikiran Gista justru berkelana, menerka-nerka kemungkinan yang terjadi. Pertanyaan yang cukup mengusiknya, mungkinkah Saga yang menghamili Alisya?
"Gis! Gista!!"
"Eh!" Gista mengerjapkan matanya, menoleh pada Ragas yang tengah memperhatikan dirinya. "Ada apa?"
"Lo ngelamun? Ngelamunin apa?" tanya Ragas penuh selidik.
"Gak, gak ada." Gista meggelengkan kepalanya. "Gue cuma kangen sama mama," gumamnya pelan, namun masih terdengar di telinga Ragas.
"Yaudah lo makan, abis ini kita ke sana," ucap Ragas, tersenyum manis pada Gista.
Senyum Ragas menular pada Gista, keduanya kembali makan. Selesai makan, keduanya bergegas pergi menggunakan mobil Ragas.
Perjalanan yang cukup memakan waktu, kini akhirnya mobil Ragas mulai memasuki area pemakaman. Gista terdiam, tatapannya kosong memandang sekitar. Sudah cukup lama ia tidak menginjakkan kaki di sini, meski banyak hal berubah namun ia masih hapal jalan menuju makam mendiang mamanya.
"Mama." Gista tersenyum kecut, mengusap batu nisan di hadapannya. Sementara Ragas berjongkok di sebelahnya, setelah meletakkan bunga di dekat batu nisan.
"Gista kangen," lirihnya.
Ragas menoleh, ketika melihat Gista meneteskan air matanya. Untuk kali pertama, ia melihat Gista secengeng ini. Ragas pun bangkit, ia ingin memberikan waktu bagi Gista mencurahkan kerinduannya pada sang mama.
Dia kembali berjalan menuju mobilnya, duduk di atas kap mobil sambil memantau Gista dari sini. Persis seperti dugaanya, Gista menangis pilu, terlihat dari tubuhnya yang bergetar.
Hal itu, membuat Ragas ikut merasakan sesak di dada. Ia tahu rasanya ditinggalkan, karena papanya juga sudah pergi terlebih dahulu. Semenjak saat itu sang mama harus menggantikan peran papanya, mengurus rumah sakit. Membuat mamanya sibuk dan tak ada waktu untuk Ragas dan Zee.
"Gas."
Ragas tersentak ketika mendengar suara memanggilnya, ternyata Gista sudah berdiri di depannya.
Apa selama itu dia melamun?
"Udah selesai?" Gista hanya mengangguk, sesekali menyeka sudut matanya. "Ayo." Ragas turun dari kapal mobil, keduanya pun masuk.
Mobil Ragas mulai melaju di jalanan, Ragas memilih fokus menatap ke depan. Dia tahu Gista butuh waktu untuk sendiri. Oleh sebab itu Ragas tak banyak bertanya, meski hatinya terus ingin bertanya apakah Gista baik-baik saja?
"Gas."
"Hm." Ragas menoleh, ketika Gista membuka suara setelah keheningan yang cukup lama.
"Makasih," ucap Gista.
"It's okay."
Hening. Hingga akhirnya Gista kembali bersuara.
"Nyokap gue meninggal karena serangan jantung, tenggelam di kolam renang."
Ragas menoleh lagi, tak menyangka Gista akan mengatakannya, karena selama ini Gista terkesan ingin menutup rapat kenangan masa lalunya. Ragas sudah tahu soal kematian mama Gista yang jadi motivasi Gista ingin mengungkap kasus Alisya. Tapi Ragas hanya tahu sebatas itu tidak lebih.
"Itu yang dibilang Dokter waktu itu. Padahal gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, kalo mama sengaja di masukin ke air sampai ia meninggal. Itu kenapa gue selalu takut saat masuk ke kolam renang," jelas Gista.
"Lo tahu pelakunya?" Gista menggeleng, mengembuskan napasnya yang terasa menyesakkan.
"Gak. Orang itu pakai masker. Gue gak bisa ngenalin dia. Anehnya semua CCTV mati dihari itu dan papa lebih percaya kesaksian mama tiri gue ketimbang gue yang melihatnya." Gista tersenyum miris. "Bagi mereka kesaksian gue hanya bualan anak kecil yang larut dalam halusinasi."
Ragas masih diam, tak bereaksi. Membiarkan Gista menceritakan apa yang selama ini membuat tekanan batin.
"Semenjak hari itu gue selalu ketakutan, setiap malam gue merasa ada yang memantau gerak gerik gue di rumah itu. Gue jadi takut dengan semua orang dan mulai melukai mereka. Di mata gue, mereka semua pembunuh." Mata Gista menatap tajam lurus ke depan, tangannya terkepal erat. "Hingga akhirnya kejadian itu terjadi, kejadian yang bikin gue dibuang ke negara lain."
Ragas menatap Gista sesaat, ia bisa melihat kemarahan yang terpancar di mata Gista. Seolah dendam lama yang masih berkobar mendominasi jiwa.
"Lo mau tahu apa yang bikin gue sampai dibuang ke Korea?" Gista menolehkan kepalanya ke Ragas, tersenyum tipis tapi lebih seperti menyeringai. "Gue bunuh orang."
Mata Ragas melotot, jantungnya nyaris berhenti. Pernyataan Gista membuatnya terkejut. Haruskah Ragas percaya? Kalau Gista seorang pembunuh?