
Gista memutar bola matanya, sedari tadi Ragas terus menatapnya tanpa berkedip. Hal itu membuat Gista sedikit tidak nyaman.
"Gas, mata lo juling lama-lama ngeliatin gue ampe segitunya." Gista berdecak, ia sedikit kesulitan karena high heels yang dipakainya.
"Abisnya lo cantik banget Gis," kata Ragas, tampak kikuk. Senyumnya terus mengembang, ketika mereka mulai melangkah memasuki rumah besar milik Qween.
Dekorasi serba pink, mengusung konsep parti di kolam renang. Sudah banyak anak Pelita yang hadir, tak terkecuali Alastor.
Semua mata memandang kehadiran Gista dan Ragas, bak Romeo dan Juliet yang berjalan di red karpet. Banyak mata terpesona oleh kecantikan dan ketampanan mereka berdua.
"Itu beneran Gista? Cantik banget," gumam Alfa.
"Kalo gini, gue makin semangat buat dapetin dia," sahut Tara, menyeringai ala fakboi.
"Lo gak liat, bodyguard-nya. Udah nempel kaya perangko," celetuk Saga.
Ketiganya terus berdebat, sementara Arka, Leon dan Olan hanya diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Semenjak Leon tahu orang yang meneleponnya ternyata Gista, Leon jadi pendiam. Ancaman Gista terus terngiang di otaknya.
Leon takut jika dirinya terseret karena kasus Alisya. Secara dia penyebabar postingan Alisya soal kencan berbayar itu.
"Hai Gis," sapa Tara, tersenyum lebar. Gista hanya menaikkan sebelah alisnya, enggan menanggapi.
"Lo cantik banget Gis, mau dansa sama gue gak?" Ragas langsung melotot, mendengar Alfa dengan berani mengajak Gista dansa.
"Gas, gue ke toilet dulu ya," ucap Gista, ia langsung pergi dari sana.
Gista berjalan masuk ke rumah Qween, rumah berlantai tiga yang sangat luas. Gista mengendap-ngendap naik ke lantai satu. Dia mencari-cari di mana letak kamar Qween.
"Ton," bisik Gista, sembari menekan benda kecil di telinganya. "Kamarnya di lantai berapa?"
"Lantai dua, kamar paling ujung."
Gista bergegas ke tempat yang Toni tunjukkan, dia masuk perlahan. Mengamati kamar Qween yang serba pink.
Gista langsung berjalan ke dekat nakas. Dia langsung menancapkan kabel data ke ponsel Qween. Peretasan dimulai, Gista menatap ke segala arah, memastikan kondisi aman.
"Udah belum?" tanya Gista.
"Dikit lagi."
Gista mulai gusar saat mendengar langkah kaki. "Ton, udah belum. Ada yang dateng nih!"
"Dikit lagi, 5% lagi."
Gista menghela napasnya, degup jantungnya berpacu cepat seirama dengan suara derap langkah yang semakin dekat.
"Ngapain lo di sini?" Gista tersentak ketika pintu terbuka dan Qween tengah berdiri di ambang pintu.
Gista segera mencabut kabel dari ponsel Qween. Menyembunyikannya ke belakang tubuhnya. "Gue ... nyari toilet, di bawah penuh. Tapi kayanya gue nyasar tuh."
Qween berdecak, dia berjalan ke nakas mengambil ponselnya. "Keluar lo!" ketusnya.
"Ini juga mau keluar!" Gista memutar bola matanya dan segera keluar. "Gimana?" ucapnya pelan.
"Good job. Pokoknya lo terima beres. Nanti gue kabarin hasilnya." Gista tersenyum puas.
"Permainan dimulai."
————————
Gista berjalan menjauh dari gerombolan Alastor. Dia muak mendengar bualan para cowok itu. Sama sekali tak tertarik mendengar sanjungan dari mereka.
Sebenernya dia sangat jenuh berada di sini. Meski suasana sangat meriah, tetap saja terasa membosankan buat Gista.
"Berani juga lo datang ke sini?!" Suara ketus Qween, membuat Gista refleks menoleh.
"Cewek kaya lo gak pantes buat Olan. Kenapa lo masih aja ganteng deketin dia!" sarkas Qween.
Gista berdecih, dia menoleh memicingkan matanya. "Lo ngomongin gue? Gak salah?" Gista tertawa miris, jelas-jelas di sini yang ganjen Qween. Semua orang tahu itu.
"Iyalah, siapa lagi. Lo sama Alisya sama aja!!" Gista memiringkan kepalanya, memperhatikan ekspresi keduanya.
"Lo berdua menyedihkan banget si." Gista tersenyum miring.
"Apa lo bilang?!" Kali ini Valery mulai angkat bicara. "Punya mulut gak pernah disekolahin? Hah!!"
"Selow, Val. Ngadepin si ular kadut gak perlu pake urat," kata Qween.
Gista menaikkan sebelah alisnya. "Baguslah, gue juga lagi gak mau pake otot nih." Gista meniup jemari tangannya di depan mereka berdua.
"Bukannya lo penasaran soal Alisya? Apa lo pengen tahu apa yang dia alami? Tenang aja lo juga bakal ngalami kok." Qween menyeringai.
"Wow! Apa lo berdua berniat buat akun fake gue? Terus bikin postingan di situs kencan berbayar?" Ucapan Gista membuat keduanya tertohok.
Baik Qween maupun Valery sama-sama terdiam. Mereka tak menyangka jika Gista mengetahui akan hal itu.
"Mau lo apa?" Hilang sudah kesabaran Qween, dia berjalan mendekati Gista.
"Benerkan yang gue bilang? Emang lo berdua yang jerumusin Alisya jadi kupu-kupu malam!" Gista mendesis, mencibir wajah Qween yang tampak tegang.
"Kalo iya lo mau apa? Lo mau kaya Alisya? Oke, dengan senang hati gue bakal bikin lo kaya Alisya. Kalo perlu nyusulin dia!" Qween mendekatkan wajahnya ke samping telinga Gista. "Asal lo tahu, bahkan yang bikin Alisya keguguran itu gue!!!" bisiknya.
"Lo bener- bener menyedihkan Qween. Demi cinta lo jadi mahluk yang sangat menjijikan!" sarkas Gista.
"Lo kelamaan Qween, ngapain si masih berdebat!" Valery tampak kesal, karena Qween mengulur waktu.
"Sabar Val, ini juga mau mulai."
Gista mengerutkan keningnya. Sepertinya mereka berdua sudah merencakan sesuatu. Tiba-tiba tanpa bisa Gista prediksi, Qween langsung mendorongnya ke kolam.
Gista yang tidak bisa berenang, terus berteriak meminta tolong. Jelas saja semua orang terkejut, mereka berkumpul di tepi kolam.
"****** lo! Itu akibatnya berani ngelawan Qween!" Qween dan Valery tersenyum puas.
Sementara Ragas yang sejak tadi mencari Gista, panik ketika melihat Gista hampir tenggelam. Dia melepas jasnya, mencerburkan diri ke kolam bersamaan dengan Olan.
Tapi Ragas lebih dulu meraih Gista, wajah Gista sangat pucat. Gadis itu menggigil sembari menggumankan kata 'mama'. Ragas tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mungkinkah Gista punya trauma? Melihat dia begitu panik di dalam air, padahal kolam ini tidak dalam.
"Kak Ragas! Gista kenapa?" tanya Zee saat Ragas mengangkat tubuh Gista dari kolam.
"Ambilin jas gue Zee," pinta Ragas.
Zee pun langsung mengambil jas Ragas, menutupi tubuh Gista yang basah.
"Kita pulang aja Kak, aku gak suka di sini," ucap Zee.
Ragas mengangguk, keduanya pun berjalan pergi meninggalkan pesta Qween. Begitupun anak-anak Alastor yang lain.
"Pertunjukkan yang membosankan!" celetuk Tara saat melewati Qween dan Valery.
Qween tak peduli, dia jastru berlari menghampiri Olan yang baru saja naik dari kolam.
"Olan kamu basah, aku ambilin handuk ya?"
"Gak usah!" Olan menghempas kasar tangan Qween dari bahunya. "Gue kecewa sama lo. Sekali lagi lo berani sakitin Gista, gue pastiin lo nyesel!"
Olan langsung pergi meninggalkan Qween. Entah apa yang membuat Olan semarah ini, melihat Gista hampir tenggelam membuat hati kecilnya berontak.