
Zee menaikkan sebelah alisnya, menatap Gista yang berdiri di hadapannya.
"Apa ini?" tanya Zee, beralih menatap kertas dan bolpoin di depannya.
"Tulis semua yang lo tahu tentang Alastor!"
Zee menggeleng, mendorong kertas itu pada Gista. "Gue udah ceritain semua yang gue tahu." Zee tampak memperhatikan kelasnya yang mulai ramai.
Gista mendengkus, lalu dia menuliskan nama-nama anggota Alastor. Zee hanya mengerutkan keningnya, dia masih belum mengerti kenapa Gista begitu terobsesi ingin tahu.
"Lo jelasin satu persatu tentang mereka, siapa ketuanya. Siapa yang paling dominan diantara mereka. Intinya semua tentang Alastor." Gista memberikan bolpoin itu pada Zee.
Zee tampak ragu, namun tatapan tajam Gista membuatnya mau tak mau mengambil bolpoin itu. Dia mulai menggambar struktur anggota Alastor.
"Jadi pemimpinnya Olan?" tanya Gista, dia masih mengamati gambar struktur yang dibuat Zee.
"Iya, jadi dia lebih kaya yang paling dominan gitu. Mungkin karena Olan anak pemilik yayasan, jadi kaya punya pengaruh tersendiri," jelas Zee.
"Jadi bokap dia yang punya sekolahan, pantes songong." Gista berdecih, mengingat pertemuannya dengan cowok itu.
"Bokapnya juga salah satu sponsor buat beasiswa di sini." Gista mendongak, menatap Zee yang baru saja berbisik karena kelas sudah mulai ramai.
"Sponsor?" Gista mengerutkan keningnya. Zee mengangguk, dia mendekatkan diri ke depan Gista.
"Sponsor itu sejenis donatur atau apalah namanya. Intinya dia yang ngebiayain semua siswa yang menerima beasiswa," terang Zee. Dia kembali ke posisinya.
Gista tampak berpikir sejenak, mengatur kepingan memorinya. Menyatukan semua informasi yang ia kumpulkan. Gista melebarkan mata, langsung beralih menatap Zee. Membuat gadis itu bingung dengan perubahan ekspresi Gista.
"Apa Alisya termasuk penerima beasiswa?" Zee mengangguk, membenarkan ucapan Gista.
"Rico juga, jadi Alisya dan Rico penerima beasiswa dari jalur yang berbeda." Gista semakin mengerutkan dahinya, kenapa semua begitu rumit. "Alisya pake jalur sponsor dan Rico pake jalur siswa tidak mampu."
"Bedanya?" Gista semakin penasaran dan ingin mengulik lebih jauh.
Zee menghela napas lelah. "Harus gue jelasin juga?" Zee mendengkus melihat tatapan Gista saja dia sudah tahu jawabannya. "Oke, oke. Dengerin gue."
Zee kembali mencoret-coret kertas di depannya. "Penerima beasiswa sponsor, biasanya dipilih langsung oleh donatur atau rekomendasi dari kepala sekolah. Biasanya mereka anak-anak pilihan, sementara penerima beasiswa tidak mampu ...." Zee menghela napas sebentar. "Mereka yang memiliki surat rekomendasi dari kelurahan atau instansi pemerintah. Itu kenapa Rico selalu diperlakuin tidak adil di sini, karena dia dari kalangan bawah."
"Lo tahu semua ini dari mana?" Gista memicingkan matanya, menatap Zee penuh selidik.
"Kyaaa ...." Zee tampak salah tingkah, lalu dia tertawa garing. "Telinga gue di mana-mana, ini itu udah bukan rumor lagi tapi fakta umum di sekolah ini."
Gista mengangguk, dia mengambil kertas itu. Mengamati lebih jeli struktur itu.
RS. Permata?
Dia seperti tidak asing dengan nama rumah sakit itu. Tapi di mana Gista melihat tulisan itu. Dia tampak berpikir sejenak, lalu beralih menatap Zee lagi.
"RS. Permata? Apa dia juga donatur di sekolah ini?" tanya Gista.
"Itu rumah sakit milik keluarga Ragas, mereka salah satu donatur tetap di sini," jawab Zee.
Perfect. Batin Gista.
Pantas saja, dia seperti tidak asing dengan rumah sakit ini. Rumah sakit di mana Rico dirawat. Ah, mamanya Ragas juga salah satu dokter di sana.
"Ya! Lo budeg? Gue bilang kan rasa coklat kenapa lo beli rasa strawberry!!"
Suara melengking itu mengganggu konsentrasi Gista. Kelas yang tadinya ramai seketika hening.
"Maaf, tapi susu coklatnya tadi habis." Gadis yang berdiri di depan tampak menunduk, menyeka air mata di balik kaca matanya.
"Ya usahalah, lo cari kemana kek. Ke supermarket depan kan bisa!" Gista muak mendengar suara melengking itu, tangannya sudah terkepal erat.
"Tapi udah bel———"
"Gue gak peduli!" Gadis itu menggebrak meja, membuat gadis berkaca mata berjengit mundur. "Ya, lo berdua pegangin dia."
Kedua temannya memegangi gadis berkaca mata itu, gadis itu sama sekali tak bisa berkutik. Karena mereka mencengkram erat pergelangan tangannya.
Sementara gadis di depannya sudah siap akan mememukulnya, namun tiba-tiba sesuatu yang tak terduga terjadi. Gadis itu terjatuh karena terdorong kursi yang sengaja Gista tendang ke arahnya.
"Lo!" Gadis itu tampak menggeram, mengepalkan kedua tangannya. Matanya menatap tajam Gista. "Lo berani sama gue? Lo gak tau gue siapa?"
"Gak! Gak mau tahu juga." Gista tersenyum miring, mengambil tasnya lalu pergi. Tak peduli dengan teriakan gadis itu. "Dasar sampah!"
—————
Gista sengaja membolos hanya untuk pergi ke rumah sakit. Dia turun dari taksi, melangkahkan kakinya menuju memasuki rumah sakit.
Gista harus mengulik lebih jauh keterangan soal Alisya, mungkin mamanya Rico tahu banyak tentang gadis itu. Mengingat Alisya sempat pacaran dengan Rico.
Baru akan menaiki lift, mata Gista tak sengaja melihat mama Rico di depan ruang administrasi. Gista berjalan hendak menghampiri wanita itu, namun ia berhenti ketika seorang dokter lebih dulu menghampiri mama Rico.
Mamanya Ragas! Gista langsung bersembunyi di balik tembok, dia sengaja menguping pembicaraan mereka.
"Terimakasih Bu dokter, atas semua bantuannya. Saya berjanji akan menyicilnya," ucap mama Rico. Beliau sangat bersyukur karena pihak rumah sakit membebaskan semua biaya perawatan Rico.
"Sama-sama Ibu, tetap semangat ya. Kita berdoa semoga Rico lekas siuman, saya harap semua proses berjalan dengan lancar. Saya percaya Rico bukan pelakunya." Mama Ragas menepuk bahu mama Rico yang tampak menagis terharu.
Mama Rico terus mengucapkan banyak terimakasih, sementara mama Ragas hanya tersenyum hangat sembari memberikan dukungan dan motivasi pada wanita paruh baya itu.
Gista keluar dari persembunyiannya ketika pembicaraan mereka selesai. Mama Rico yang berbalik terkejut saat melihat Gista berdiri di depannya.
"Selamat pagi Tante," sapa Gista.
"Pagi, kamu temennya Rico kan?" Gista mengangguk. "Mau jenguk Rico?" tanya wanita itu.
"Iya tante," jawab Gista.
"Kebetulan ada teman sekelasnya juga lagi jengukin dia." Gista mengerutkan keningnya, apa mungkin Olan? Atau cowok berhodie waktu itu?
"Siapa Tante?"
"Cewek, siapa ya namanya Tante lupa. Kamu ke sana aja, Tante mau ke toilet dulu." Gista mengangguk.
Gista langsung berlari menuju ruang rawat Rico setelah berpamitan dengan mama Rico. Gista menaiki tangga darurat karena lift yang penuh.
Napasnya tersenggal, pikirannya kalut. Jangan sampai dia kalah start dari orang itu. Walaupun Gista tak tahu apa yang mereka cari, tapi sepertinya itu barang bukti.
Gista mengatur napasnya saat sudah berada di dekat ruang rawat Rico. Dia berjalan pelan, celingukan ke sana-sini. Memastikan tak ada siapa pun di sekitar ruangan itu.
Gista tak langsung masuk, dia mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Terdengar suara tangis sesenggukan, Gista bisa melihat cewek itu menundukkan kepalanya. Dia duduk menghadap Rico.
Cewek itu terus menggumamkan kata maaf, tangisnya begitu pilu. Gista memerhatikan lebih jeli, siapa cewek itu. Dia seperti mengenalinya dan ketika cewek itu mengangkat wajahnya seketika Gista melebarkan mata.
Valery!