
Gista menatap tajam wanita di depannya, wajahnya begitu pucat. Ketakutan dan panik saling menyergap, saat Gista terus berjalan maju ke arahnya.
"Non Gista, tenang. Bibi bisa jelasin," kata wanita itu, sesekali melirik ke bawah.
Kini keduanya berada di atap rumah lantai tiga, sementara di bawah sana ada kolam renang yang sedang dikuras.
"Bibi takut?" Gista yang baru berusia enam tahun, tersenyum kecil. Senyum yang tampak lucu tapi justru terlihat mengerikan bagi wanita itu.
"Non, bibi mohon. Maafkan bibi." Wanita itu terus memohon, meminta pengampunan.
"Harusnya bibi gak jelekin mama!" teriak Gista, tatapannya semakin nyalang. Tangannya menodongkan pisau ke arah wanita itu.
"Non jangan ... bibi gak bermaksud jelekin almarhum mama Non Gista. Bibi cuma ... awww!!!" Suara pekikan itu bergema bersamaan dengan tubuh yang terhempas dari atap ke dasar kolam yang sudah kering.
Tangan Gista gemetar, ia menatap nanar tangannya yang berlumuran darah beralih menatap ke bawah. Darah segar itu mengalir dari kepala pengasuhnya.
Gista tak ingat apa-apa lagi, yang ia dengar hanya suara histeris dari para pelayan yang menyaksikan kematian pengasuhnya.
"Gue ... gue yang bunuh pengasuh gue sendiri," lanjut Gista setelah menceritakan masa lalu yang ia kubur dalam-dalam di lubuk hati terdalamnya. "Gue pembunuh Gas, gue pembunuh!!"
Ragas tersentak, ia kembali sadar dari keterkejutannya. Ragas memeluk Gista dengan erat, menahan tangan Gista yang berusaha mengacak-ngacak rambutnya.
"Stop Gis!" teriak Ragas. "Lo bukan pembunuh."
"Tapi kenyataannya gue pembunuh!"
"Hey, look at me." Ragas menangkup wajah Gista, terlihat jelas jika Gista sangat depresi mengingat trauma masa lalunya. "Gue gak peduli sama masa lalu lo, yang gue tahu sekarang lo adalah Gista yang berbeda dari sepuluh tahun yang lalu. Lo orang spesial yang pengen banget gue lindungi saat ini."
Gista terdiam, kata-kata Ragas seolah membiusnya. Membuat Gista luluh dan tak lagi berontak, ia menangis selayaknya gadis rapuh pada umumnya.
"Gue bakal selalu ada buat lo Gis, kapan pun lo butuh gue. Gue bakal dateng. Itu janji gue." Ragas memeluk Gista, membiarkan Gista menangis dalam dekapannya.
————————
Malam tiba, Gista dan Ragas kini berada di kediaman Toni. Pria itu tengah berkutat dengan laptopnya.
"Belom selesai?" tanya Gista.
"Dikit lagi," jawab Toni. "Yes!" seru Toni setelah berhasil memulihkan data yang berhasil di retas Gista dari ponsel Qween. "Shit!" umpat Toni.
"Kenapa?" Gista segera mendekat ketika Toni menunjukkan video kepadanya.
"Alisya?" Ragas bergidik, melihat video yang tengah berputar.
"Gila-gila, ini si kriminal jatuhnya." Toni berdecak sambil geleng-geleng kepala.
Bagaimana tidak? Jika video yang tengah mereka tonton menampilkan Alisya yang tengah dicekokin jamu dan obat-obatan yang entah obat apa itu. Bahkan sampai mulut Alisya berbuih.
"Gue yang bikin Alisya keguguran!"
Ucapan Qween semalam terngiang-ngiang di kepalanya. Jadi ini maksud dia soal menggugurkan kehamilan Alisya dengan mencekoki jamu dan obat-obatan keras.
Gista mengetatkan rahangnya, tak menyangka jika Valery juga ikut adil dalam perundungan itu. "Kirim semua ke HP gue," perintah Gista.
Dia sudah menyiapkan pertunjukan untuk dua wanita jahanam itu. Siap-siap menanti kejutan. Bibir Gista terangkat ke atas, senyum mengerikan kembali tercetak di kedua sudut bibirnya.
Benar saja, Gista merealisasikan ucapannya bahkan ia membuat gempar satu sekolahan. Video yang ia unggah di website sekolah jadi trending topik.
Valery dan Qween langsung di panggil ke ruang kepala sekolah, begitupun orangtua mereka. Semua anak membicarakan tentang Alisya yang jadi korban buli dan kekerasan.
"Gis, lo keren," bisik Zee yang berdiri di samping Gista. Keduanya berada di koridor depan ruang kepala sekolah.
"Ini belum seberapa," balas Gista.
Tiba-tiba saja Rosalin berjalan ke arah Gista, wanita itu langsung menggampar pipi Gista di depan semua anak yang ada di sana.
"Dasar bocah kurang ajar!" teriak Rosalin.
Gista menyeka sudut pipinya yang berdarah, ia mengangkat wajahnya membalas tatapan nyalang Rosalin. Sementara Zee berjalan mundur, ia tidak mau terlibat dalam pertengkaran itu.
"Gimana? Anda suka dengan kejutaannya?" Gista tersenyum miring. "Ternyata anak dan ibu sama saja. Sama-sama pembunuh!" sarkas Gista.
"Lepas!" bentak Rosalin, menarik tangannya dari cekalan Ragas.
"Saya tidak akan membiarkan tangan Anda mendarat di pipi Gista lagi," ucap Ragas penuh penekanan.
"Memangnya kamu siapa? Pacarnya?" Rosalin tertawa sinis. "Apa papa kamu tahu soal ini?" Rosalin beralih menatap Gista yang tengah menatapnya dengan datar.
"Haruskah dia tahu? Sepertinya dia tak perlu tahu, karena dia terlalu sibuk mengurusi keluarganya yang bermasalah!" Gista tersenyum miring, mencemooh Rosalin.
"Kyaaa!! Kamu ...!"
"Ibu Ros," panggil kepala sekolah menghentikan Rosalin. "Silahkan masuk, polisi sudah menunggu di dalam."
"Awas kamu!" Rosalin memberikan tatapan tajam kepada Gista, sebelum ia melangkah masuk ke ruang kepala sekolah.
"Bye, bye nenek sihir!" cibir Gista melambaikan tangannya. "Lanjut ke misi kedua," gumam Gista, setengah menyeringai.
Pukulan telak untuk William Andromeda, karena kedua anaknya terlibat kasus kriminal. Pria paruh baya itu tak tinggal diam, ia segera memerintahkan team elit untuk mengatasi semua kekacauan ini dan mencari dalangnya.
———————
Gista tersenyum lebar, ia tak pernah merasa sebahagia ini. Ragas berhasil membuatnya lupa sejenak dengan masalah hidupnya yang rumit.
"Gak nyangka lo bisa sejago ini. Gue aja yang biasa main gak bisa dapetin poin 100," ujar Ragas, setelah keduanya keluar dari arena permainan tembak-tembakan.
"Waktu di Korea, gue sering ikut berburu jadi gue udah biasa mainin senapan angin begitu," terang Gista. Keduanya berjalan menuju parkiran, setelah puas bermain di timezone.
"Nih boneka lo." Ragas menyodorkan boneka beruang berukuran jumbo hasil dari kemenangan Gista tadi.
"Buat lo aja," ucap Gista, menolak boneka itu.
"Tapi gue gak main boneka," kata Ragas.
"Anggep aja itu gue, jadi waktu lo kangen gue, lo bisa peluk bonekanya." Gista tersenyum tipis.
Sedangkan Ragas terdiam, mencoba mencerna ucapan Gista barusan. Kemudian ia tersadar dan Gista sudah berjalan jauh di depannya.
"Kyaa, Gis. Tapi gue maunya peluk yang ori!" teriak Ragas.
Gista hanya terkekeh, tak menyahuti ucapan absurd Ragas. Keadaan sudah malam ketika Ragas mengantarkan Gista pulang.
Setelah dua hari tidak pulang, akhirnya ia memutuskan pulang ke rumah.
"Mau gue anter?" tawar Ragas.
"Gak usah." Gista menggeleng, ia membuka sabuk pengamannya. "Thank's ya lo udah hibur gue hari ini." Ragas mengangguk.
"Kalo ada apa-apa langsung kabarin gue, oke."
"Siap!" Gista mengacungkan jempolnya. Dia sudah akan beranjak keluar, namun ia urungngkan. Gista berbalik membuat Ragas heran.
"Kenapa ...?" Bibir Ragas seketika mengatup saat Gista mencium pipinya.
"Makasih, buat semuanya," bisik Gista. Ia segera keluar dan berlari masuk ke dalam.
"Gue gak mimpi kan?" gumam Ragas, mengusap pipinya yang baru saja di kecup Gista.
Gista berjalan sembari bersenandung, wajahnya terus berseri-seri. Dia tidak tahu jika di dalam sana kejutan sudah menantinya.
Gista masuk, ia terdiam ketika melihat Valery dan Tristan. Bukankah seharusnya mereka ada di kantor polisi?
"Kenapa lo kaget?" Tristan tersenyum miring. "Lo pikir, lo bisa jeblosin gue ke penjara? Jangan mimpi!"
Tristan dan Valery tertawa sinis. Gista mengetatkan rahangnya. Dia yakin jika ini semua ulah papanya dan team elit. Kenapa pria tua itu harus membela orang yang jelas-jelas bersalah.
"Gista!" Suara bariton papanya membuat Gista menoleh. Papanya berjalan menuruni tangga, menghampiri Gista. "Papa kecewa sama kamu. Mulai hari ini kamu bukan lagi anggota keluarga Andromeda." Papa Gista melempar koper Gista.
Gista terdiam. Tubuhnya tiba-tiba kaku. Gista tak menyangka jika sang papa akan mengusirnya demi membela anak-anaknya. Gista tersenyum miris.
"Aku emang udah mau pergi kok pa, tanpa perlu papa usir. Aku akan pergi." Gista mengambil kopernya, menyeretnya keluar. Tanpa bisa ia bendung air matanya mengalir membasahi pipi.