TARGET

TARGET
BAB 37



Gista membasuh wajahnya dengan kasar, wajahnya tampak kuyu dengan  tetesan air yang masih mengalir. Gista menggeram kesal, mencengkram wastafel. Ia menatap pantulan diri di depan cermin.


Bayang-bayang mengerikan waktu kecil kembali berkelebatan di pikirannya. Ia benci setiap kali melihat orang terjatuh dari ketinggian. Meskipun kali ini berbeda kondisi.


Beruntung pihak rumah sakit sigap menyediakan trampolin di bawah, sehingga saat Richo melepas tangan Gista————cowok itu langsung terjatuh tepat di atas trampolin.


Pikiran Gista berkecamuk, memikirkan apa yang membuat Richo bertindak gegabah. Mustahil jika cowok itu memang berniat ingin bunuh diri. Gista bisa melihat dari sorot mata Richo, ia sangat ketakutan saat menatap ke bawah. Seakan memang belum siap untuk mati.


Dering ponsel mengalihkan konsentrasi Gista, ia segera mengambil ponsel di saku celana. Gista memutar bola matanya ketika melihat nama Olan di layar.


Gista berdecak, ia kembali memasukkan ponselnya. Mengabaikan panggilan Olan yang menurutnya tidak penting. Selesai membenahi diri, Gista langsung keluar. Ia berniat melihat keadaan Richo.


Baru saja Gista melangkahkan kakinya melewati ambang pintu, seseorang sudah dulu mencekal pergelangan tangannya. Refleks Gista menoleh ke belakang.


"Kenapa gak jawab telepon gue?"


Gista mendesis, kenapa harus ada Olan di sini. Menyebalkan!


"Hm?" Olan menuntut jawaban. "Kenapa lo gak angkat telepon gue?" ulang Olan.


Gista menghempas tangan Olan dari pergelangan tangannya. "Gue sibuk, bye!" Gista sudah berbalik siap melangkah, tapi gerakan Olan lebih cepat. "Olan!!"


Olan seakan tuli, ia tak peduli dengan rontaan Gista yang ia seret menuju parkiran.


"Lepas!"


"Woy!!!"


"****!" Gista terus memaki sampai kini keduanya jadi perhatian orang-orang yang melintas di Koridor rumah sakit.


"Diem!" tukas Olan.


"Gila!!" teriak Gista, ia berusaha melepas cengkraman Olan yang begitu kuat. Gista terengah, percuma saja cowok itu terlalu kuat mencengkram lengannya. "Olan, sakit!"


Olan menatap Gista yang baru saja ia lempar ke jok depan mobilnya. Olan membanting pintu mobil, membuat Gista mengerjap lalu setelahnya mengumpat kasar.


"Lo mau bawa gue ke mana?" tanya Gista saat Olan masuk dan duduk di bangku kemudi.


"Hotel."


"Kyaaa!!!" teriak Gista, memukuli Olan membabi buta. "Lo bosen idup?" Napas Gista memburu, kedua tangannya di pegangi oleh Olan yang berusaha menangkis pukulannya.


"Kenapa lo takut?" Olan menaikkan sebelah alisnya. "Harusnya lo diem aja." Olan memakaikan sabuk pengaman Gista. Ia segera melajukan mobilnya keluar dari area rumah sakit.


————————


"Ngapain lo bawa gue ke sini?" Gista memutar bola matanya, muak berada di keramaian.


"Lo mau yang mana?" tanya Olan tanpa menjawab pertanyaan Gista. "Yang ini kayanya bagus." Tunjuk Olan pada kalung liontin berhuruf G.


"Gue gak suka emas," tukas Gista.


"Gue gak nanya," balas Olan. "Yang ini aja Mba," ucap Olan pada pegawai toko emas.


"Gue bilang kan gue gak suka emas!" Gista berdecak, sebal dengan Olan yang bebal. "Lo gak tahu bahasa Indonesia? Apa perlu gue ngomong pake bahasa isyarat?!" sarkas Gista.


Lagi-lagi Olan mengabaikannya. Setelah membayar kalung itu, Olan menyeret Gista menuju sebuah restoran siap saji yang ada di dalam mall.


"Gue gak laper!" ketus Gista ketika Olan memaksanya untuk duduk.


"Tapi gue laper." Gista mencebikkan bibirnya.


Gista tidak tahu kenapa Olan begitu gigih dan tidak tahu malu. Padahal Gista sudah menolak Olan secara terang-terangan. Ia juga bersikap kasar agar Olan membencinya, tapi seakan buta dengan itu semua Olan masih saja gencar melancarkan aksi buriknya.


Gista memandangi punggung Olan yang sedang membayar di kasir, ia langsung memalingkan mukanya saat Olan berbalik. Ia duduk di hadapan Gista, meletakkan dua paket ayam +nasi dan burger ke meja.


"Bokap gue udah bilang ke kepala sekolah buat cabut skorsing lo. Jadi, mulai besok lo bisa masuk lagi," ujar Olan membuka percakapan.


Gista berdecak, padahal ia suka di skors. Setidaknya ia punya banyak waktu untuk melanjutkan investigasinya.


"Gue liat yang lo lakuin tadi," lanjut Olan, membuat Gista menoleh menatapnya dengan datar. "Harusnya lo gak perlu bahayain diri lo seperti itu."


"Kenapa? Lo takut  kalau Richo masih hidup?" Olan menghentikan makannya, ia menatap Gista sejenak. "Lo merasa gak tenang, karena Richo saksi kunci kematian Alisya?"


Olan mendengkus, ia menunduk sekilas lalu mengangkat wajahnya kembali. "Alisya bunuh diri Gis, lo liat sendiri dia jatuh dari atap gedung. Percuma juga lo cari tahu, yang ada malah ngebahayain diri lo."


Olan menghela napas sejenak, sebelum akhirnya berkata, "Karena gue peduli sama lo. Gue gak mau lo dalam bahaya, apa menurut lo salah? Gue sayang sama lo Gis."


Gista mendecih, menarik tangannya yang digenggam Olan. Sayangnya Gista tidak luluh dengan kata-kata buaya yang Olan ucapkan. Terlalu basi.


"Mungkin saat ini lo gak suka, tapi gue yakin lo bakal bisa nerima gue." Gista tak berniat menyahut, ia memilih makan meski sebenarnya Gista tidak lapar.


—————


Gista kembali lagi ke rumah sakit, setelah seharian menghabiskan waktunya dengan Olan. Waktu sudah menjelang sore ketika Gista sampai di depan ruang rawat Richo.


Suara derit pintu terbuka, membuat Richo menoleh. Matanya bertemu dengan sorot mata Gista yang tak lepas menatapnya.


"Lo dah siuman?" tanya Gista.


Richo tak menyahut, dia memalingkan wajahnya ke layar televisi yang tengah menyala. Gista mendengkus, ia duduk di kursi samping bankar.


"Siapa yang ngancem lo?" tanya Gista.


Richo yang awalnya tak peduli dengan kehadiran Gista langsung menoleh, ia memandang Gista dengan tatapan bertanya? Bagaimana mungkin dia tahu?


"Ah, tebakan gue bener ternyata," celetuk Gista saat melihat ekspresi Richo. "Jadi, siapa yang ngancem lo?"


Richo mendengkus, memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tetap bungkam, enggan membuka mulutnya.


"Jadi lo gak mau kasih tahu gue?" Lagi-lagi pertanyaan Gista menguap begitu saja. "Oke, gak masalah. Gue cuma mau kasih ini."


Gista memberikan kotak berisi barang-barang Alisya yang berhasil ia dapatkan.


"Semoga dengan ini hati lo bakal tergerak."


Richo membuka kotak itu, ia memandangi isi di dalam kotak. Richo mengambil buku diari Alisya, membuka lembar demi lembar. Tanpa sadar air matanya turun membasahi pipi.


Lalu mata Richo beralih pada buku catatan Alisya waktu kecil, banyak kenangan mereka yang tertulis di sana. Betapa bersyukurnya Alisya memiliki Richo, semua tertulis jelas dalam buku itu.


Hingga mata Richo berhenti di amplop berwarna coklat. Ia menoleh pada Gista. "Ini apa?"


"Hasil investigasi gue selama ini, liat aja. Kali aja lo kenal mereka semua." Gista menyungingkan senyumnya.


Dia sudah memikirkan  rencana ini sejak siang, Gista yakin Richo akan sadar saat melihat semuanya. Dia akan buka mulut dan membeberkan semuanya.


Seperti dugaan Gista, wajah Richo tampak tegang saat melihat berkas dan foto-foto yang ada di dalam amplop. Tapi reaksi Richo di luar dugaan Gista. Cowok itu menatapnya dengan dingin.


"Mending lo pergi." Gista mengerjapkan mata. Apa-apaan ini? Richo malah mengusirnya?


"Lo ngusir gue?" Gista berdiri, menatap tajam Richo.


"Ya, jadi pergi sekarang juga!" Richo menunjuk ke arah pintu.


"Kenapa?" Gista tak habis pikir, apa yang ada di pikiran Richo saat ini. Kenapa dia malah mengusirnya?


"Lo pikir gue bakal buka mulut dan biarin semua orang tahu gimana keadaan Alisya?" Richo mendecih. "Gue gak bakal biarin orang lain tahu apa yang sebenarnya terjadi sama Alisya."


"Jangan bilang lo tahu soal Mr.X———"


"Iya, gue tahu," potong Richo. "Dan gue gak bakal biarin orang lain tahu," tukasnya.


"Tapi————"


"Gue bilang pergi!!" teriak Richo melemparkan kotak itu ke Gista, beruntung Gista dengan cepat menghindar. Sehingga kotak itu tak mengenai dirinya. "Pergii!!!"


Melihat Richo mengamuk, Gista memutuskan pergi. Ia keluar dari ruangan itu dengan kesal.


"Dasar keras kepala!" gerutu Gista, sebelum pergi meninggalkan tempat itu.


Sementara di balik dinding, ada cowok berhodie hitam yang sedari tadi mengawasi. Dia mengeluarkan ponselnya, menghubungi seseorang.


"Halo bos," ucap cowok itu saat sambungan telepon diangkat. "Misi berhasil, dia gak bakal buka mulut." Cowok itu menatap punggung Gista yang mulai menjauh. "Cewek itu juga udah pergi."


"Ikuti dia."


"Baik." Setelah mematikan sambungan telepon, cowok itu berjalan menyusul Gista. Mengendap-endap, menjaga jarak agar tak ketahuan.