TARGET

TARGET
BAB 29



Saga mengurung Gista, ia meletakkan kedua tangannya di samping kepala Gista. Kepalanya menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan Gista.


"Kiss me," bisik Saga.


Kiss me? Apa dia sudah gila? Dasar fakboi! Gista berdecak, menyingkirkan kedua tangan Saga dengan sekali hempas.


"Gue pulang." Gista berjalan menuju pintu, namun tiba-tiba Saga menarik lengannya membuat Gista tertarik dan berbalik menabrak dada Saga.


Gista melotot ketika bibirnya menyentuh bibir Saga. Kenapa bisa tepat begitu? Sial! Gista langsung mendorong dada Saga sampai cowok itu terjengkang ke lantai.


"Lo gila?" Gista menggosok-gosok bibirnya, jijik. Kenapa mereka selalu berbuat frontal padanya dan dia selalu kecolongan. Gista terus merutuki diri sendiri, menyumpah serapah Saga.


Saga tersenyum, menyeka bibir bawahnya. Dia menatap Gista tanpa merasa berdosa. "Thank's."


Saga bangkit, berjalan menuju meja belajarnya lalu kembali ke hadapan Gista. Saga menyodorkan kamera DSLR. Gista mengernyitkan dahinya lalu mendongak dengan ekspresi bingung.


"Lo mau tahu soal Alisya bukan?" Saga menginteruksi Gista untuk mengambil kameranya. Meski ragu Gista mengambilnya.


Gista membuka galeri, betapa terkejutnya Gista mendapati banyak foto Alisya di sana. Dilihat dari gaya candid Alisya, sepertinya gadis itu tidak sadar sedang di foto. Gista beralih menatap Saga yang sudah duduk di tepi ranjang.


"Lo nguntit Alisya?" tuduh Gista.


Saga mengembuskan napas kasar, memejamkan mata sejenak lalu berkata, "Iya."


Mata Gista membola, tak menyangka jika Saga orang yang terkenal karena kedisiplinannya justru melakukan hal tak terpuji seperti ini.


"Why?"


Saga menoleh pada Gista, tatapannya menerawang. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. "Karena gue suka dia."


"Hah?" Gista melongo.


"Jauh sebelum dia dijadiin target."


"Lalu?"


"Gue gak tahu kenapa gue selalu ragu buat deketin dia. Akhirnya gue selalu ngikutin dia, berada di sekitar dia dengan jarak aman. Tanpa sadar gue emang jadi penguntit waktu itu." Saga tersenyum kecut. "Sampai akhirnya gue punya kesempatan buat deketin dia waktu Olan netapin dia jadi target, tetap saja gue gak punya nyali buat deketin dia. Gue cuma bisa ngeliat dari jauh."


Gista terdiam, masih menunggu kelanjutan cerita Saga. Meski dalam otaknya banyak pertanyaan yang berseliweran tapi Gista mencoba menahannya.


"Gue pikir Alisya cewek yang berbeda, tapi gue ternyata salah." Saga mengusap wajahnya dengan kasar. "Gue nemuin fakta tak terduga, tapi gue masih menyangkalnya. Sampai rumor itu menyebar dengan cepat di sekolah dan gue mulai percaya. Sejak saat itu gue gak ngikutin dia lagi."


"Fakta? Rumor?" Gista mengernyitkan dahinya.


"Lo liat aja fotonya, lo bakal bisa nyimpulin sendiri," ucap Saga.


Gista menggeser layar, memperhatikan setiap foto dengan teliti hingga di slide terakhir Gista terdiam. Memandangi foto itu.


"Tristan!" pekik Gista.


"Lo kenal mereka?" tanya Saga.


"Iya." Gista kembali meneliti foto itu, bukan hanya Tristan tapi ada kepala sekolahnya juga. Sudah Gista duga, pria tua itu ada sangkut pautnya.


Gista mengerutkan keningnya, ada dua orang yang tidak Gista kenal. Satu pria paruh baya yang merangkul Alisya tapi wajahnya tidak terlihat dan satu lagi seorang wanita.


"Lo tahu dua orang ini?" tanya Gista menunjukkan  dua orang yang dimaksud.


"Yang wanita kalau gak salah pemilik club Lexus, dulu Alisya pernah kerja paruh waktu di sana. Kalo pria itu gue gak tahu, gue juga penasaran. Pria macam apa yang sering dibawa Alisya ke apartemennya."


"Apartemen?" beo Gista.


"Iya."


Kini sudah jelas semuanya, Gista hanya perlu mencari informasi orang-orang ini dan semua akan beres.


Lets begin.


Ragas melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, dia baru saja mendengar kabar dari Zee jika Gista diskors.


"Angkat Gis!" Ragas berdecak, karena sejak tadi suara operator yang menjawab teleponnya. "Lo ke mana si?"


Ragas menyugarkan rambut, memegangi kepalanya yang berdenyut. Sejak pulang sekolah dia mencari Gista, ke rumah sakit dan tempat-tempat yang sering Gista kunjungi tapi hasilnya nihil.


Gista seperti ditelan bumi, jejaknya tak bisa ditemukan. Ragas tak menyerah dia terus melajukan mobilnya, entah sudah berapa lama dia mengitari jalanan Jakarta tanpa tahu arah dan tujuan.


"Halo." Ragas menghubungi Zee. "Gista udah pulang?" Dia mengembuskan napas kasar karena ternyata Gista belum pulang juga. "Kabarin gue kalo dia udah pulang." Ragas mematikan sambungan teleponnya.


Dia berpikir sejenak, hingga suatu tempat melintas di pikirannya. Satu tempat yang belum ia datangi, kenapa Ragas tidak kepikiran. Bisa jadi Gista ada di sana. Tanpa menunggu lagi, Ragas langsung mendatangi tempat itu.


Benar dugaannya, sesampainya di sana Ragas menemukan Gista tengah tertidur di atas makam mamanya. Ragas berjongkok di samping Gista, mengusap pelan kepala gadis itu.


"Gis," panggil Ragas.


Usapan Ragas membuat Gista terusik, ia perlahan membuka matanya dan bangun. Gista menoleh, terkejut mendapati Ragas ada disebelahnya.


"Ragas!" pekik Gista. "Kok lo di sini?"


"Gue nyariin lo, kenapa ponsel lo mati?"


Gista mengecek ponselnya, dia baru sadar ternyata ponselnya lowbat.


"Lain kali kabarin gue, biar gue gak khawatir dan nyariin lo kaya orang gila gini."


"Maaf," lirih Gista.


"Lo udah makan?" Gista menggeleng, namun perutnya berkata lain. "Ayo makan." Ragas terkekeh, sementara Gista menyembunyikan wajahnya yang memerah.


Gista merutuki perutnya yang tak bisa diajak kompromi, berbunyi di waktu yang tidak tepat. Beruntung Ragas tidak meledeknya.


Ragas memarkirkan mobilnya di depan restoran yang tak jauh dari pemakaman. Dia keluar diikuti oleh Gista. Entah apa yang merasuki Ragas, dia meraih tangan Gista menggandengnya masuk ke dalam.


"Lo kenapa? Aneh banget," tanya Gista saat keduanya sudah duduk.


"Aneh?"


"Iya, sejak tadi senyum-senyum sendiri. Terus tadi jalan gandeng tangan gue, jangan bilang lo lagi mau modusin gue." Gista mencebikkan bibirnya.


"Gak papa, siapa tahu lo baper kalo gue modusin." Ragas terkekeh geli, melihat wajah Gista yang berubah masam.


"In your ******," balas Gista.


Tak lama pesanan mereka datang, keduanya pun makan dengan tenang. Sesekali Ragas akan mengeluarkan gombalannya, membuat Gista hampir tersedak.


Tanpa mereka sadari ada mata yang selalu mengintai pergerakannya.


"Terpantau aman tuan," ucap pria berjas hitam dengan kaca mata hitam yang sedang mengawasi Gista. "Baik tuan." Pria itu menutup sambungan teleponnya lalu mengambil potret Ragas dan Gista yang sedang makan berdua.


Setelahnya mengirim gambar itu ke tuannya.


Send picture


"Kenapa Gis?" Suara Ragas menyentak Gista. Refleks ia menoleh.


"Hah? Gak papa kok," jawab Gista.


"Yakin?" Ragas pun celingukan, memperhatikan sekitar. Restoran cukup ramai mengingat waktu sudah menjelang petang banyak karyawan kantor yang rehat dan makan-makan bersama.


"Gak ada apa-apa kok Gas, ayo makan lagi abis tuh kita pulang. Badan gue udah minta diguyur." Gista menyengir, Ragas pun menurut dia kembali makan.


Sementara Gista melirik ke arah sudut restoran, ekor matanya terus mengawasi seseorang.


Dasar penguntit!