TARGET

TARGET
BAB 36



Seperti pagi sebelumnya Gista sudah bangun pagi, membantu mama Ragas menyiapkan sarapan. Wanita itu tak banyak tanya perihal masalah keluarga maupun sekolahnya. Mama Ragas tetap menerima dan memperlakukannya dengan sangat baik.


"Pagi semua," sapa Zee yang mengambil duduk di hadapan Gista.


"Pagi sayang," sahut mamanya, sementara Gista hanya menyunggingkan senyum tipis.


Zee begitu berisik pagi ini, membicarakan banyak hal mengenai acara ulang tahun sekolah yang sebentar lagi akan digelar. Gista tak begitu tertarik, tapi ia tetap mendengarkan dengan tangan yang fokus menyelai roti di piringnya.


"Pagi."


Gista terkesiap ketika merasakan sentuhan basah di pipinya, ditambah bisikan suara serak yang selalu mengguncang hatinya akhir-akhir ini.


"Sayang," bisik Ragas setelah mencium pipi Gista.


Gista menoleh, matanya melotot memperingatkan Ragas. Mengingat ada mama dan adiknya yang pasti melihat ulahnya barusan.


"Udah kaya bebek aja main sosor terus," sindir Zee, melirik kakaknya yang duduk di sebelah Gista. "Tuh, Ma liat Kak Ragas, pagi-pagi udah bikin mata aku tercemar," adu Zee pada mamanya.


Mamanya menggelengkan kepala, menatap sejenak anak lelakinya. "Ragas, awas ya kamu kalo sampai melewati batas," peringat mamanya. "Pokoknya Gista, kalo sampai Ragas macem-macem jangan ragu buat hajar. Oke."


"Siap Tante," balas Gista.


Ragas mencebikkan bibirnya, gak adik, mama, bahkan pacar. Semuanya sekongkol memojokkan dirinya. "Berasa anak tiri banget di rumah," celetuk Ragas.


"Uluh-uluh, kasiannya," cibir Zee yang langsung mendapat lemparan kerupuk dari Ragas. "Issh, Kak Ragas!"


Keduanya seperti kucing dan tikus, tidak heran karena keduanya memang tidak bisa akur. Hingga tiba-tiba suara ponsel mama Ragas menghentikan keduanya. Mama Ragas segera mengangkat telepon dari rumah sakit.


"Apa?" Mata mama Ragas membulat lebar, tampak syok.


Hal itu membuat semuanya ikut penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi? Terutama Gista, perasaannya jadi tidak enak ketika tahu sang penelepon dari pihak rumah sakit.


"Richo? Astaga!" Mama Ragas menutup mulutnya, ia melemparkan pandangannya pada Gista dan Ragas. "Baik-baik, saya segera ke sana."


"Ada apa Ma?" tanya Ragas yang semakin penasaran.


"Richo mau bunuh diri, sekarang dia udah ada di atap gedung rumah sakit. Mama harus segera ke sana, kalian lanjutin makannya ya." Mama Ragas meraih tasnya bergegas untuk pergi.


"Tante aku ikut ya," pinta Gista yang dibalas anggukan.


"Aku juga Ma," timpal Ragas yang sudah ikutan berdiri.


"Gak!" seru Gista dan mama Ragas berbarengan.


"Kamu harus sekolah Ragas, pokoknya mama gak izinin kamu ikut. Jangan ngebantah, awas aja kalo sampai mama tahu kamu bolos."


Ragas mendengkus, ia kembali duduk dengan wajah ditekuk. Sementara sang mama dan Gista sudah bergegas keluar.


Sepanjang perjalanan, mama Ragas tampak panik. Wanita itu terlihat begitu cemas, hingga akhirnya mobilyang mereka tumpangi mulai memasuki parkiran rumah sakit. Mama Ragas segera turun bersama Gista. Keduanya terpaku ketika melihat kerumunan di depan rumah sakit, lalu mereka mendongak ke atas. Betapa terkejutnya mama Ragas melihat Richo berdiri di atas gedung.


"Richo, turun Nak!" Mama Richo histeris, ia terus meminta anaknya segera turun. Tapi Richo seakan tak menghiraukan mamanya.


Gista terdiam, ia tidak bisa membiarkan kejadian waktu itu terulang kembali. Ia harus mengambil tindakan, bagaimana pun Richo saksi kunci kematian Alisya.


Gista memacu langkah kakinya menaiki tangga, tak peduli jika letih sudah mendera. Ia terus berlari dengan sisa-sisa tenaga. Hingga ia tiba di atap, Gista bisa melihat Richo berdiri di tepian.


Setelah mengatur napasnya, Gista berjalan perlahan mendekati Richo. Ia bersandar di dekat dinding, melipat tangannya di depan dada.


"Loncat aja, jangan ragu."


Richo tersentak ketika mendengar suara itu, ia menoleh dan terkejut mendapati Gista ada di sana.


"Ngapain lo?" Richo menatap tajam Gista.


"Nungguin lo lompat, kalo dari bawah view-nya jelek. Waktu itu aja gue gak puas liatnya."


Richo melebarkan matanya, saat mendengarkan penuturan Gista. Apa dia gila? Siapa dia sebenarnya? Pikiran Richo berkecamuk. Otaknya semakin tumpul tak bisa berpikir jernih.


"Gak usah ikut campur lo! Mending lo pergi!" usir Richo. Ia tidak suka dengan keberadaan Gista di sini.


"Kalau gue gak mau?"


Richo mendengkus, ia tak mengerti apa mau cewek itu sebenarnya. Bahkan ia juga tak mengenalnya. Tapi kenapa dia selalu datang? Untuk apa?


"Lo berniat ngubur semua kebenarannya?" Tebakan Gista tepat sasaran, Richo kembali menoleh padanya.


"Maksud lo apa?"


"Emang kalo lo mati, Alisya bakal tenang di sana dan orang yang ngebunuh Alisya bebas berkeliaran." Gista memiringkan kepalanya, mengamati reaksi Richo saat ini. Pancingannya berhasil, terlihat ketika Richo memilih diam dan merenungi kata-katanya.


Wajah Richo berubah tegang, terlihat dari rahangnya yang mengeras. Mukanya merah padam, dengan kepalan kedua tangannya ditambah sorot mata tajam seperti menahan emosi yang menggebu-gebu.


"Wahh, padahal gue udah dapetin siapa tersangkanya."


Richo mengangkat wajahnya, ia menatap Gista dengan tatapan menyelidik. "Lo tahu?"


Richo meragukan ucapan Gista, mana mungkin dia tahu pikir Richo. Tapi jawaban Gista membungkam mulutnya sesaat. Gista mengangguk, ia menunjukkan ke empat jarinya.


"Ada empat orang, ditambah 2 murid yang merundung Gista. Jadi total semua enam orang. Tapi sepertinya masih ada lagi, tapi ... kalo lo aja milih ngubur semua fakta yang sebenarnya ...." Gista menggantungkan ucapannya, menatap Richo dengan tajam. "Mereka semua akan bebas berkeliaran dan mencari mangsa baru. Lo udah denger kan kalo kasus Alisya ditutup?"


"Terus lo bisa apa? Lo gak bisa bersihin nama Alisya? Lo gak tahu seberapa liciknya mereka?" teriak Richo dengan napas memburu.


"Tapi lo juga gak tahu seberapa gilanya gue?" ucap Gista dengan percaya diri.


Gista mengambil ponselnya, ia menunjukkan video rekaman percakapannya dengan madam Alexa.


"Lo?" Richo melongo, ia tak bisa berkata-kata. Sampai tiba-tiba keseimbangannya goyah, membuat kakinya tergelincir dari pijakan. "Aaaa!!" pekik Richo bersahutan dengan teriakan orang-orang di bawah sana.


Beruntung Gista dengan sigap meraih tangan Richo, semua orang panik melihat Richo bergelantungan di atas sana. Terutama mama Richo yang histeris sampai tak sadarkan diri.


"Jangan lepas tangan gue, kalau lo beneran pengen liat Alisya tenang," ucap Gista, berusaha menarik lengan Richo. "Asal lo mau kerja sama, gue bakal jeblosin mereka semua ke penjara."


Tapi sialnya Richo justru melepaskan pegangan tangannya, Gista melebarkan mata tak percaya.


"Tidaaakkk!!!" teriak Gista, menatap nanar ke bawah.