
Gista terduduk lemas di trotoar, pikirannya masih berkelana pada kejadian tadi di apartemen Alisya. Kata-kata Olan masih membekas di ingatannya.
"Harusnya lo dengerin peringatan gue. Mungkin ini semua gak bakal terjadi."
Gista mengambil ponsel Alisya di saku roknya. Ia mengaktifkannya, tak peduli jika akhirnya ia akan terlacak. Gista menelan ludah saat ponsel menyala dan menampilkan wallpaper foto Alisya bersama Olan.
Hal pertama yang Gista buka galeri. Gista melihat satu persatu foto hingga tiba-tiba Gista terdiam saat melihat foto Alisya bersama Olan. Keduanya sangat intim.
Apa mereka sudah sejauh itu?
Gista kembali menggeser, banyak sekali foto-foto Alisya saat bersama Olan. Sepertinya hubungan mereka memang sangat dekat.
Gista berhenti menggeser, satu folder yang menurut Gista mencurigakan. Folder tanpa nama. Gista membukanya dan ia langsung membungkam mulutnya.
Mata Gista melebar, bergidik ngeri melihat deretan foto Alisya dalam keadaan mengenaskan. Bahkan ada banyak video di dalamnya, termasuk video penyiksaan yang dilakukan oleh Valery dan Qween.
Jadi Alisya selama ini merekam semuanya, sampai video dengan om William juga ada. Rekaman pertemuan antara madam Alexa, Tristan dan kepala sekolah juga ada.
Ini semua bukti yang Alisya kumpulkan, jadi ini yang dimaksud informannya tadi. Apa ini juga alasan mereka mengincar ponsel Alisya?
"Harusnya waktu itu lo gak memprovokasi gue, harusnya lo gak ngancem gue Alisya!"
Kata-kata Olan kembali terngiang-ngiang di kepala Gista. Jadi Olan tahu semua ini?
Pikiran Gista berkecamuk, kepalanya mulai berdenyut. Hingga ponsel Alisya berbunyi mengalihkan perhatiannya. Gista mengecek pesan yang baru saja masuk.
WT
Gugurkan kandunganmu.
WT?
"William Tanubrata." Gista mendengus, ternyata pria tua itu memang benar-benar berengsek.
Gista membaca deretan pesan yang belum terhapus antara om William dan Alisya. Jadi hari itu, Alisya berniat memberitahu semuanya. Apa ini juga yang di maksud Olan tadi?
"Tapi ... memangnya itu anak siapa?" gumam Gista. "Anak Olan atau om William?"
Gista kembali membuka room chat lain. Chat Alisya dan Olan, Gista berdecak. Geleng-geleng kepala, ia tak habis pikir dengan Olan dan papanya. Keduanya sama-sama berengsek.
Gista baru akan membuka chat lainnya saat lampu mobil menyorotinya. Gista menoleh, memicingkan matanya. Ia mengernyitkan dahi ketika beberapa orang bersetelan jas hitam keluar.
"Shit!" umpat Gista. Ia segera berdiri dan lari sekencang mungkin.
Orang-orang itu mengejarnya, sepertinya mereka orang-orang suruhan om William. Mereka pasti berhasil melacak ponsel Alisya. Gista terus berlari, tak peduli jika kakinya mulai letih.
"Gue gak boleh ketangkep." Gista terus menyugesti diri sendiri, agar tetap kuat berlari.
Tapi orang-orang itu masih tetap mengejarnya, bahkan jarak mereka semakin dekat.
"Lari, Gista. Lari!!!" Napas Gista mulai terengah, kakinya tak mampu lagi melangkah. Gista nyaris jatuh, tapi ia tetap bangkit.
Hingga suara deru knalpot racing mengalihkan perhatiannya. "Gista!"
"Ragas," gumam Gista saat melihat Ragas mengendarai motornya, mensejajarkan di samping Gista.
"Ayo naik." Ragas berhenti tepat di depan Gista.
Gista segera naik dan motor Ragas langsung melaju dengan kecepatan penuh, meninggalkan orang-orang itu.
———————
Berhari-hari telah terlewati, hingga akhirnya waktu itu tiba. Gista sudah merencanakan semuanya dengan matang. Kini ia berada di aula, tempat berlangsungnya acara ulang tahun sekolah digelar.
Semua tamu sudah memenuhi kursi-kursi yang disediakan, bahkan banyak tamu-tamu penting yang diundang termasuk keluarganya. Gista melirik ke bangku VIP, di sana ada papanya bersama dengan mama tiri dan Tristan.
Sementara Valery berada di barisan anak kelas XII bersama dengan Queen. Acara sudah dimulai, Gista tak begitu mempedulikannya. Ia sibuk memainkan ponsel.
Hingga acara sambutan selesai, Gista melihat ke arah deretan depan. Gista tersenyum miring saat melihat om William tengah berbincang dengan papanya dan Tristan.
Gista segera mengeluarkan ponsel Alisya, menyalakannya. Gista mengetikkan sesuatu di room chat om William. Susai dugaan Gista, pria tua itu seketika berubah tegang saat membaca pesan yang Gista kirim. Dia tampak celingukan menatap ke segala penjuru ruangan.
Siapa kamu? Jangan macem-macem. Saya bisa seret kamu ke penjara.
"Oh, ya?" Gista terkekeh, lalu kembali mengetikkan balasannya.
Kita lihat, saya atau Anda yang akan diseret ke penjara. Tapi sebelum itu saya punya kejutan buat Anda.
Gista menyeringai, ia segera menghubungi seseorang. "Sekarang," ucapnya pada sambungan telepon.
"Satu." Gista mulai menghitung. "Dua." Orang-orang tampak sedang menunggu pengisi acara selanjutnya. "Tiga."
Namun yang terjadi justru lampu aula mati, semua orang tampak bingung dan keadaan ricuh hingga tiba-tiba layar proyektor menyala. Keadaan jadi hening saat video mulai diputar.
"Jika terjadi sesuatu dengan saya, saya harap kalian memberikan video ini ke kantor polisi."
Semua orang tercengang ketika video menampilkan seorang remaja putri mengenakan seragam sma Pelita.
"Matikan!" teriak William. "Matikan sekarang juga!" Dia meneriaki semua staf yang bertugas.
Tapi sayangnya tak ada yang tahu video itu diputar dari mana dan layar proyektor yang terpasang didekat ventilasi bukanlah para staf yang memasangnya.
Tentu saja semua itu ulah Gista. Ia yang menyiapkan semuanya, dibantu Ragas, Arka dan juga Zee. Arka yang memutar video itu berada di tempat persembunyiannya.
"Nama saya Alisya Putri, saya bersumpah jika kesaksian saya atas dasar kemauan sendiri tanpa paksaan siapa pun dan tanpa kebohongan sedikit pun."
Para wali murid semakin heboh, murid-murid yang lain pun sama. Mereka mulai berspekulasi menyangkut pautkan dengan kematian Alisya.
"Saya memiliki skandal dengan pemilik yayasan sma Pelita. William Tanubrata." Semua orang jelas tercengang.
"Kamu!" Istri William menatap nyalang suaminya. "Berengsek!"
William geram, dia tampak frustasi dan marah-marah sendiri. Sementara video terus berputar.
Alisya mulai menceritakan semuanya, awal pertemuannya dengan madam Alexa dan Tristan, hingga akhirnya ia dipertemukan dengan William sebagai sponsornya.
Alisya juga menceritakan tentang kebobrokan sma Pelita, dari mulai korupsi, pelecehan yang dilakukan kepala sekolah dan kasus buli. Alisya membeberkan nama-nama korban yang senasib dengannya. Hingga diakhir video, Alisya mulai menangis dan meminta tolong.
"Mereka mengancam saya, mereka meneror saya. Mereka terus menyuruh saya menggugurkan janin yang ada di dalam perut saya. Saya takut. Tolong saya."
Video berakhir, tapi video-video selanjutnya berputar. Video penyiksaan oleh Valery dan Queen, video pertemuan di club milik madam Alexa. Bahkan video kesaksian madam Alexa juga diputar.
Tidak sia-sia Gista menyekap wanita tua itu, ternyata wanita itu tahu segalanya dan saat video berakhir lampu seketika menyala. Lalu segerombolan polisi datang untuk menangkap orang-orang yang ada di dalam video.
"Lepas! Saya tidak bersalah!" teriak Tristan.
"Papa, tolong Valery. Ma, Valery gak salah!" Valery histeris memohon pada
kedua orangtuanya.
Tapi percuma saja, semua bukti sudah ada di pihak polisi dan surat penangkapan pun sudah dikeluarkan. Gista yakin team elite sekalipun tidak akan bisa mengatasinya karena Gista juga menyebarkan video itu di berbagai media sosial.
Gista berdiri di dekat pintu aula. Ia bersender sembari melipat tangan di depan dada. Satu persatu pelakunya di bawa oleh polisi melewati Gista, mereka melirik tajam pada Gista terutama Tristan, Queen dan Valery.
Gista tersenyum miring ketika kepala sekolah diseret polisi, pria itu menatap nyalang Gista bahkan dia juga menyumpah serapah Gista. Sedangkan William, tampak menundukkan kepala saat polisi membawanya.
Tunggu, kenapa hanya mereka berlima yang ditangkap. Lalu bagaimana dengan Olan, dia juga bisa jadi pelakunya. Gista bergegas pergi mencari-cari keberadaan cowok itu.
"Gue gak bakal biarin lo kabur." Gista berlari keluar aula, mengabaikan panggilan Zee dan Ragas. Bahkan saat melewati Arka, Gista juga mengabaikannya.
Gista celingukan, hingga netranya menangkap sosok yang ia cari tengah berjalan menaiki tangga. Gista berlari menyusulnya, menaiki tangga menuju rooftop.
Napas Gista memburu, kakinya mulai letih saat ia tiba di atas rooftop. Gista berdiri di depan pintu rooftop saat melihat Olan berdiri memunggunginya.
"Olan!" teriak Gista.
Olan berbalik, menatap datar Gista. Tangannya dimasukkan ke dalam saku.
"Lo————"
"Iya, gue yang bunuh Alisya," sergah Olan.