TARGET

TARGET
BAB 45



"Aaa ... kenapa kamu lakukan ini?" pekik wanita itu, meringis menahan cengkraman di lehernya.


"Maafkan saya Nyonya." Wanita yang mencekiknya semakin menekan lehernya hingga embusan napas terakhir.


Tangannya gemetar saat melihat majikannya lunglai tak bernyawa, ia melepaskan cengkramannya. Mundur perlahan.


"Maaf Nyonya. Maafkan saya, tapi saya butuh uang untuk anak saya."


Sementara dibalik pintu ada seorang gadis kecil yang melihat kejadian  itu sejak awal.


Gista mengerang, pikirannya terus berkelana mengingat kejadian sepuluh tahun silam. Rasanya seperti de javu. Mungkin seperti ini juga yang dirasakan mamanya waktu itu? Seandainya dulu Gista punya keberanian untuk menyelamatkan mamanya.


"Aaaarggg!" erang Olan, melepas cekikan tangannya di leher Gista. Dia jatuh memeluk Gista. "Gue gak bisa, gue gak bisa Gis. Gue sayang sama lo, gue gak bisa nyakitin lo."


"Tapi lo baru aja nyakitin gue," lirih Gista, memegangi lehernya.


"Maaf," gumam Olan, menangkup pipi Gista. "Maaf, gue frustasi Gis. Gue bingung. Gue ...."


Bugh!


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Olan sudah lebih dulu tersungkur. Dia meringis, mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar.


"Berengsek!" umpat Ragas, ia kembali mencengkram kerah seragam Olan. Melayangkan pukulan tepat mengenai rahang. "********!! Harusnya lo emang membusuk di penjara!" Berkali-kali Ragas meninju Olan, tanpa sekalipun Olan melawan. Dia membiarkan tubuhnya babak belur.


"Gas, udah!" teriak Gista, tapi seakan tuli Ragas tak menggubrisnya. Dia kembali membabi buta memukuli Olan dengan bringas.


"Ragas, udah." Arka yang baru tiba menarik tubuh Ragas dari atas tubuh Olan. "Kendaliin emosi lo."


"Lepas! Gue gak bisa. Dia hampir mau bunuh Gista!" Ragas sudah siap melayangkan kepalan tangannya, tapi dengan cepat Saga menahannya.


"Lo khawatir sama cewek lo, harusnya lo sekarang peluk dia. Lo gak liat dia ketakutan liat lo kaya gini," ucap Saga.


Ragas menoleh, ia melihat Gista berjongkok dengan pandangan kosong. Dia gemetaran memeluk tubuhnya sendiri, bibirnya membuka seolah ingin mengatakan sesuatu.


"Shit!" Ragas menghempas Olan, ia bangun segera menghampiri Gista. Sementara Olan langsung dibawa Arka dan Saga.


"Gis," panggil Ragas, berjongkok di hadapan Gista.


"Ragas," gumam Gista. Mengangkat wajahnya menatap Ragas.


"Ya, lo baik-baik saja kan?" Ragas menangkup wajahnya. "Apa si berengsek itu nyakitin lo?" Gista menggeleng, tapi matanya berkaca-kaca seolah ingin menangis. "Gak papa semua udah berakhir." Ragas menarik tubuh Gista, mendekapnya sembari mengusap kepala Gista.


——————


Gista sudah tenang, kini ia berjalan bersama dengan Ragas ke parkiran. Baru saja Gista hendak masuk ke mobil, namun tubuhnya tiba-tiba ditarik ke belakang.


Plak!


Tamparan keras melayang ke pipi Gista. Ia meringis menahan panas dan perih di pipinya, bahkan sudut bibirnya sampai berdarah.


"Ma!" hardik papa Gista, terkejut saat melihat istrinya menampar Gista.


"Gis, lo gak papa?" Ragas menghampiri Gista. "Bibir lo berdarah." Gista menggeleng.


"Gue gak papa."


"Kamu puas? Hah!" Gista menatap wanita yang menamparnya. "Kamu puas jeblosin anak saya ke penjara? Harusnya kamu yang membusuk di penjara!" teriaknya.


"Rosalin!" hardik suaminya, menarik tangannya tapi segera ditepis Rosalin.


"Lepas! Aku sudah gak tahan lagi sama anak ini! Dia harus———"


Plak!


William Andromeda menampar Rosalin. Matanya menatap tajam wanita itu.


"Udah dramanya?" Suara Gista menginterupsi keduanya. "Tante tenang aja, anak-anak Tante gak sendirian kok karena mereka akan ditemani mamanya."


"Apa maksud kamu?" Rosalin melotot.


Gista tersenyum sinis, lalu mengedikkan dagunya ke belakang Rosalin. Wanita itu berbalik, matanya semakin melebar saat melihat polisi mendatanginya.


"Selamat siang dengan Ibu Rosalin?" tanya seorang polisi.


"Ada apa ya Pak?" tanya papa Gista.


"Saudari Rosalin dilaporkan atas kasus pencurian dan pelanggaran hak paten atas karya almarhum Gistyavani Rabella."


"Apa?" Rosalin panik. "Saya tidak melakukannya, itu semua hasil karya saya!"


"Semua bukti sudah dikantongi pihak kepolisian. Anda bisa jelaskan itu nanti di kantor." Polisi itu langsung memborgol Rosalin.


"Pa, aku gak mau dipenjara!" teriak Rosalin. "Awas kamu Gista! Saya gak bakal maafin kamu!!!" Rosalin terus menyumpah serapah Gista saat petugas polisi menyeretnya.


"Sayangnya gue gak butuh maaf lo," gumam Gista. Ia berbalik hendak masuk ke mobil, namun suara papanya menginterupsi Gista. Ia kembali berbalik menghadap sang papa.


"Maafin papa," kata papanya.


"Gista gak butuh maaf Papa." Gista sudah akan kembali masuk ke mobil, tapi ia kembali berbalik menatap papanya. "Harusnya papa minta maaf ke mama. Sama satu lagi, tim elit gak perlu turun tangan atau Gista bakal hancurin Meda Grup juga." Setelah memberi peringatan pada papanya Gista segera pergi.


William terdiam kaku, memandangi mobil yang ditumpangi Gista mulai menjauh. Tak berselang lama mr. Kim datang.


"Tuan." William berbalik, menatap mr. Kim.  "Apa kita harus———"


"Gak perlu, cukup beri mereka pendampingan hukum untuk meringankan. Tapi jangan coba-coba berbuat kotor," jelas William lalu berjalan menuju mobilnya.


William memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Kini rasa bersalah semakin besar menggerogoti hati. Terlebih pada almarhum istrinya. William tahu, istrinya dibunuh tapi ia terus menyangkalnya dan berkata jika istrinya bunuh diri.


Hal itu ia lakukan semata-mata demi melindungi Rosalin yang saat itu juga berstatus sebagai istri sahnya. Ingatannya kembali berputar pada kejadian Sepuluh tahun silam.


Malam selepas kejadian mengerikan di kolam renang, seorang pelayan menemui William di ruang kerjanya. Dia menangis tersedu-sedu, ia ketakutan setengah mati. Pelayan itu memohon ampun pada William.


"Tuan ampuni saya, tolong saya Tuan. Saya gak mau mati." Pelayan itu terus menggosok-gosokkan tangannya sembari ketakutan.


"Memangnya kenapa?" tanya William.


Pelayan itu mulai bercerita, jika dia dan temannya yang baru saja meninggal adalah penyebab kematian Vani, istri pertamanya. Mereka melakukannya atas perintah Rosalin.


Rosalin memberikan obat pada mereka berdua dan memaksa keduanya untuk meminumkannya pada Vani. Hal itulah yang membuat kejiwaan Vani terguncang dan dianggap tidak waras karena pengaruh obat-obatan keras sejenis narkotika. 


Saat kematiannya, Vani memang dinyatakan overdosis dan kehabisan napas dilihat dari hasil visumnya. Kini William tahu, jika kematiannya juga akibat dicekik oleh salah satu pelayannya.


"Saya takut Tuan, saya takut non Gista akan membunuh saya, sama seperti yang dilakukan pada bi May." William diam, tak menyahut. "Kalau bukan karna diancam nyonya Rosalin, saya gak bakal mau Tuan. Sungguh."


William memang egois saat itu, demi menjaga nama baik keluarga Andromeda dia menutupi semua kasus. Dia menyuruh pelayan itu pergi sejauh mungkin dan mengirim Gista ke Korea. Menitipkannya pada sahabatnya, demi menjaga Gista. William tidak mau jika Gista akan bernasib sama seperti Vani.


Sejak saat itulah hubungan William dan Rosalin merenggang. Tapi mereka tetap terlihat mesra di hadapan anak-anak dan orang lain. Tapi di luar itu, William tak lagi tidur sekamar dengan Rosalin.


William menyeka air matanya, ia mengusap batu nisan di depannya. Mungkin selama sepuluh tahun, ini adalaha kali pertama William menginjakkan kakinya di sini.


"Vani, maaf. Maafkan aku," lirihnya, air matanya kembali jatuh. "Maaf karena membuatmu dan Gista menderita. Maaf aku tidak bisa menjaga Gista dengan baik. Maaf."


William benar-benar menyesal, karena keegoisannya semua jadi berantakan. Kini semua sudah hancur, bahkan ia tak tahu lagi akan bagaimana ke depannya.


"Seandainya waktu itu papa mau mendengarkan aku, maka semua ini tidak akan terjadi. Aku juga gak bakal jadi pembunuh, Pa." Suara itu mengejutkan William, ia seketika berbalik dan mendapati Gista berdiri di belakangnya.


"Gista!"