
Olan berjalan tergesa-gesa setelah mendapat pesan dari Alisya. Ia terus mengumpat, menyumpah serapah cewek itu. Olan semakin geram karena Alisya balik mengancamnya, padahal Olan sudah berkali-kali memperingatkan tapi Alisya malah semakin berani menantang.
"Berengsek!!" maki Olan, langkahnya semakin cepat menaiki tangga menuju rooftop. "Awas aja lo Alisya, gue gak pernah main-main sama anceman gue. Gak bakal gue biarin lo hancurin keluarga gue."
Napas Olan semakin memburu, amarahnya memuncak sampai ubun-ubun. Olan menendang pintu rooftop hingga terbuka, ia menatap nyalang Alisya yang berdiri di ujung.
"*****!!" teriak Olan, matanya berkilat menunjukkan amarah yang menggebu-gebu. Mungkin jika Olan khilaf ia sudah akan membunuh Alisya saat ini juga. "Mau lo apa? Hah?!"
Alisya berbalik, tersenyum miring menyambut kedatangan Olan. Dia tampak santai, tak takut sama sekali melihat Olan yang bisa saja menerkamnya.
"Jawab!!" tuntut Olan.
"Seperti yang kamu tahu, aku mau————"
"Gak akan!" Olan melangkah maju. "Sampai kapan pun gue gak akan nerima lo lagi. Lo pikir gue gak tahu kalau lo simpenan bokap gue."
Alisya mengerjapkan mata, tak menyangka jika Olan mengetahui skandalnya dengan pemilik yayasan yang tak lain papanya Olan.
"Kenapa? Lo kaget? Harusnya lo peka, kenapa gue mutusin lo, kenapa gue suruh lo pindah sekolah dan pergi jauh dari kehidupan gue. Karena gue gak mau ada benalu menggerogoti rumah tangga kedua orangtua gue. Ngerti!!"
Alisya mengepalkan tangannya, matanya berkaca-kaca, berusaha menahan air mata yang terus menerobos keluar. Tidak, Alisya tidak akan menunjukkan kelemahannya di hadapan Olan. Cowok yang dicintainya.
"Gue juga tahu, lo cuma manfaatin si cupu." Olan mendecih. "Lo bener-bener cewek ular."
"Cewek ular?" Alisya tersenyum miris, lagi-lagi tak menyangka jika Olan berpikiran sepicik itu tentang dirinya. Padahal Alisya sudah memberikan segalanya. "Tapi lo cinta kan, sama cewek ular ini?"
"Cinta?" Olan mencebikkan bibirnya. "Lo pikir gue cinta sama lo? Sama sekali gak! Gue deketin lo karena gue mau balas dendam dan berharap bisa nyingkirin lo dari kehidupan bokap gue. Tapi sialnya parasit kaya lo seperti virus yang gak bisa dibinasakan."
Alisya semakin erat mengepalkan tangannya, berusaha sekuat tenaga menahan tangisan. Sakit, dadanya nyeri luar biasa. Bagaimana tidak? Demi Olan, Alisya bersedia meninggalkan William meski itu artinya dia akan kehilangan sponsornya.
"Lo denger baik-baik, apa pun yang terjadi gue gak bakal balik lagi sama lo dan lo!" Olan menunjuk wajah Alisya. "Jangan pernah muncul lagi di hadapan gue atau pun bokap gue, ngerti!!" Olan berbalik, hendak pergi tapi suara Alisya menginterupsinya.
"Gue hamil."
Seketika Olan berbalik lagi, matanya melebar.
"Gue hamil," ulang Alisya.
Olan jelas terkejut, tapi ia tak percaya begitu saja. "Lo pikir gue percaya?"
"Ini anak lo." Alisya menatap lekat wajah Olan, air matanya turun membasahi pipi.
"Anak gue?" Olan tertawa sinis. "Gue gak yakin itu anak gue. Bisa aja kan itu anak laki-laki hidung belang simpenan lo. Emangnya gue tahu, lo ngelakuin itu sama siapa aja yang jelas bukan cuma sama gue."
"Tapi ini anak lo!" teriak Alisya.
"Oh, ya?" Olan mencibir. "Bisa aja itu anak bokap gue, mending lo gugurin aja. Gue gak sudi punya sodara tiri, apalagi anak haram!" sarkas Olan.
Alisya mengusap air matanya. "Gue cuma ngelakuin itu sama lo dan bokap lo. Sementara lo gak pernah pakai pengaman saat ngelakuin itu!"
"Terus?" Olan tampak tidak peduli. "Itu si derita lo, udahlah gue muak tahu dengerin drama lo. Bye." Olan sudah berbalik dan berjalan menuju pintu, namun seketika ia berbalik saat mendengar suara papanya.
"Kamu pikir saya bahagia? Saya mandul, bagaimana bisa saya bahagia dengan rumah tangga yang penuh dengan kebohongan."
Olan menatap Alisya, perempuan itu menunjukkan ponselnya yang sedang memutar rekaman audio percakapannya dengan William.
"Tapi om punya segalanya, keluarga om juga terlihat sangat bahagia." Itu suara Alisya.
"Tapi saya tidak bisa punya keturunan. "
"Lalu Olan?"
"Dia bukan anak saya."
Ucapan itu seperti pukulan telak bagi Olan. Rasanya semua ini seperti mimpi.
"Saya menikahi perempuan yang sudah hamil dan sialnya saya baru mengetahui jika anak yang dikandungnya bukan anak saya." Alisya mematikan rekaman audionya.
"Gak mungkin." Olan berusaha menepis semua pikiran yang melintas di otaknya.
"Kamu dengar, om William mandul. Lalu kami pikir ini anak siapa?" Alisya tersenyum miris. "Kamu sama berengseknya sama papa kamu. Aku gak bakal gugurin kandungan ini, kalau perlu aku bakal kasih tahu ke semua orang tentang skandal kita. Aku punya semua buktinya di sini." Alisya menunjukkan ponselnya.
"Apa?" Olan menghampiri Alisya. "Lo jangan macem-macem ya!"
"Aku gak macem-macem, aku sudah beri kamu kesempatan, tapi kamu sia-siakan. Jadi ini jalan satu-satu ... aaa Olan!" pekik Alisya, terkejut karena Olan berusaha merampas ponselnya. "Lepas!" Alisya berusaha mempertahankan ponselnya.
"Gue gak bakal biarin lo ngerusak reputasi keluarga gue." Olan terus menarik ponselnya, hingga keduanya berada di pinggiran atap. "Harusnya lo dengerin peringatan gue, bukan malah ngancem gue. *******!!"
"Olan ... aaa!!" teriak Alisya ketika tubuhnya melayang dan jatuh ke bawah.
Olan terdiam, menatap nanar tubuh Alisya yang menghantam paving blok. Olan gak berniat mendorongnya, Olan hanya berusaha merebut ponselnya. Seketika anak-anak mengerubungi Alisya disaat itulah Olan langsung pergi sebelum orang lain melihatnya.
Gista tercekat, bibirnya kelu sampai tak mampu bereaksi. Ia tak menyangka jika Olan lebih berengsek dari apa yang ia pikirkan. Bagaimana bisa Olan dengan santainya menceritakan semua itu seolah dirinya adalah korban.
"Harusnya Alisya gak memprovokasi gue saat itu. Mungkin dia masih hidup saat ini." Olan menyeringai di depan wajah Gista, ia menghimpit Gista ke dinding.
"Berengsek!" umpat Gista.
"Ya, gue emang berengsek. Tapi gue gak bakal jadi berengsek seandainya Alisya gak selingkuh sama bokap gue!!" hardik Olan, napasnya memburu.
"Apa sekarang lo puas? Lo bunuh anak lo dan ibunya."
Olan menatap tajam Gista, mengepalkan tangannya ke dinding samping kepala Gista. Ia memajukan wajahnya, mensejajarkannya pada Gista.
"Gue cinta sama lo Gis, jadi jangan provokasi gue," bisik Olan, lalu berusaha mencium Gista. Tapi dengan cepat Gista memalingkan wajahnya.
"Sayangnya lo gak pantes buat gue. Harusnya orang kaya lo membusuk di penjara. Dasar psikopat!" sarkas Gista.
Tapi Olan malah tertawa, Gista mengernyitkan dahi merasa heran karena tidak ada yang lucu dengan kata-katanya barusan.
"Apa bedanya sama lo?"
"Maksud lo?"
"Kita itu sama, sama-sama psikopat dan lo tahu? Sepertinya kita berjodoh karena kita, Sama-sama pernah bunuh orang," bisik Olan di telinga Gista.
Gista menegang, bagaimana bisa Olan tahu masa lalunya? Gista mengangkat wajahnya, menatap Olan dengan wajah pias.
"Kenapa? Lo kaget?" Olan tertawa terbahak-bahak. "Pantesan bokap lo sampai buang lo ke luar negeri. Ternyata anaknya seorang pem————"
"Diam!!" hardik Gista. "Tahu apa lo tentang gue, lo gak tahu apa-apa berengsek!!"
"Gue makin tertarik kalau lihat lo marah begini, lo keliatan seksi ...."
Plak!
Olan terkesiap, ia memegangi pipinya yang memanas karena tamparan Gista.
"Tutup mulut lo! Sampah!"
Sampah!
Ucapan Gista menyulut emosi Olan, ia melihat Gista dengan tatapan nyalang tanpa babibu Olan mencengkram rahang Gista.
"Lo bakal nyesel Gista." Gista mengerang, tangannya mencengkram pergelangan tangan Olan karena cowok itu kini mencekik lehernya. "Lo bakal nyusul Alisya."