
Sejauh apa pun melangkah pergi, nyatanya kau tetap jadi tempatku berpulang.
"Target_Kembali"
Suara dencing dari pintu yang terbuka, refleks mengalihkan perhatian pengunjung kafe. Hal yang selalu terjadi setiap kali ada pengunjung yang masuk.
Suara ketukan sepatu yang bergesek dengan lantai, membuat beberapa orang menoleh dan terfokus pada orang yang barusan masuk. Wajah tampan dengan rahang tegas, hidung mancung dan bibir tipis bergelombang jelas jadi magnet bagi sebagian kaum hawa yang ada di sana.
Senyumnya melebar, seketika decak kagum penuh damba terpancar jelas dari wajah-wajah yang tengah menatapnya. Terlihat sangat sempurna, balutan kemeja dan jas menambah kadar ketampanannya. Tampak berkarisma, tidak heran jika banyak mata akan langsung terpesona pada pandangan pertama.
"Akhirnya big bos datang, setelah tujuh kali purnama," celetuk seorang pria yang duduk di barisan meja paling ujung.
Pria yang dimaksud hanya menyunggingkan senyum miring, tanpa membalas ucapan pria tadi. Ia menarik kursi dan duduk di antara mereka berlima.
"Ke mana aja lo Gas?" Pria bernama Ragas itu menoleh, memperhatikan wajah orang yang bertanya.
Rambut sedikit gondrong tapi tertata rapi dan tampak klimis, wajahnya bersih, mulus kaya pantat bayi. Hidung mancung dan mata lebar berwarna hitam. Dia, Arka.
"Gue dari rumah sakit, hari ini gue mulai bertugas di sana," jawab Ragas.
"Wuih, gue kira lo dari kantor bokap lo. Secara kan doi ngebet banget pengen lo jadi penerusnya," sahut pria yang duduk di dekat Arka. Wajahnya yang lonjong paling mudah Ragas kenali, dia Tara.
Ragas tersenyum tipis, meyeruput kopi yang baru saja dipesannya. "Ada Agam, dia lebih pantes dari pada gue."
"Si berandal itu!" celetuk pria yang duduk di hadapannya. Wajah imut tapi terlihat sangat menyebalkan, jelas jadi ciri khas karena ia tampak paling muda diantara mereka. Dia, Leon.
"Iya, siapa lagi," jawab Ragas.
Leon berdecak, menyandarkan punggungnya kembali. "Gue yakin perusahaan bokap lo bakal gulung tikar kalau dia yang pegang."
"Betul," sahut pria di samping Leon. Pria berwajah tampan, dingin dan tampak cuek. Dia, Saga. "Gue lebih setuju lo yang pegang. Biar kita bisa kerjasama."
Ragas mendengus geli, di otak Saga memang hanya ada uang, uang dan uang. Jadi tak heran jika bicara dengannya ujung-ujungnya ke bisnis. Dia sekarang jadi penerus papanya, memegang kendali di perusaannya yang bergerak dalam bidang properti sama dengan perusahaan papa tiri Ragas.
"Tapi gue setuju si kalau Ragas jadi direktur rumah sakit, secara dia kan Dokter," komentar pria yang duduk di samping kirinya.
Ragas menoleh kembali memperhatikan wajah lugu, tampan dan berkarisma. Mungkin dia yang paling kalem diantara mereka, dia Alfa.
Seperti itulah Ragas menghafalkan wajah-wajah teman-temannya, setelah tidur panjangnya dan pas bangun ia justru mengalami amnesia. Butuh waktu lama bagi Ragas untuk beradaptasi, meski ia masih belum mengingat sebagian kenangan masa lalunya. Tapi Ragas mulai ingat akan keluarga dan teman-temannya.
"Lo masih cari dia?" tanya Arka ketika melihat layar ponsel Arka menyala, menampilkan sosok perempuan di layar.
Ragas menatap foto itu, menjawab pertanyaan Arka tanpa mengalihkan pandangannya dari foto. "Gue penasaran, kenapa gue gak ingat satu pun tentang dia. Tapi dia selalu muncul di mimpi gue, dia selalu meneriakkan nama gue."
Teman-temannya saling berpandangan, ini bukan kali pertama Ragas mengatakan hal itu. Hal yang sama akan sosok di dalam foto. Wanita cantik dengan senyum lebar, rambut panjangnya tergerai. Dia tampak cantik berbalut kan seragam sma.
"Belum ada kabar juga?" tanya Saga, mungkin ia tampak cuek tapi ia sebenarnya selalu peduli dengan teman-temannya.
Ragas menggeleng, tatapannya semakin dalam menatap foto. Ragas tak mengerti, kenapa begitu sulit mengingat perempuan di foto. Ia sempat pasrah dan berusaha melupakannya tapi perempuan itu justru selalu muncul dalam mimpinya.
Bukan hanya mimpi, terkadang ia muncul dalam sekelebatan ingatannya. Teman-temannya selalu bungkam setiap kali ia bertanya.
Suara dencing pintu terbuka kembali mengalihkan perhatian, tak terkecuali Ragas dan teman-temannya yang seketika menolehkan kepala ke arah pintu.
Seorang perempuan masuk, pakaiannya yang mencolok berhasil menjadikannya pusat perhatian. Rambutnya tergerai panjang, menutupi wajahnya sehingga Ragas dan teman-temannya tak begitu jelas melihat.
"Baru kali ini gue liat bidadari," celetuk Leon, menatap lurus ke depan. Di mana perempuan itu duduk di depan meja bar.
"Semua aja lo bilang bidadari, tukang es depan kantor aja lo bilang bidadari," cibir Tara.
"Siapa lagi, ya mba Poinemlah," jawab Tara.
Sontak saja teman-temannya tertawa terbahak-bahak. Mengingat mba Poinem yang dimaksud Tara itu janda anak satu yang sering Leon godain kalau lagi beli es.
"Berisik lo semua," tukas Leon, mendengus kesal saat tawa mereka justru semakin lantang.
Berbeda dengan Ragas yang seakan tak peduli dengan pembicaraan teman-temannya, ia justru fokus menatap punggung wanita tadi. Rambutnya yang bergelombang, berwarna merah kecoklatan dengan dress bunga waran warni.
Entah kenapa Ragas tak bisa berpaling, rasa penasaran yang begitu menggebu dalam benaknya. Seakan ia punya ikatan batin yang menariknya ke wanita itu.
Siapa dia sebenarnya?
Apakah mungkin dia dari masa lalunya?
Atau mungkin mereka pernah kenal atau justru menjalin hubungan?
Berbagai pertanyaan muncul di dalam pikirannya, sampai ia tak sadar jika semua teman-temannya kini sedang menatap dirinya.
"Lo suka?" Suara Saga menginterupsi, menyentak Ragas dari lamunnnya.
"Ya?" Ragas menoleh, wajahnya tampak bingung.
Saga tersenyum geli, ia beranjak berdiri. "Sepertinya gue musti turun tangan," ucapnya sembari menyisir rambut dengan tangannya.
"Mau ke mana lo?" tanya Arka.
"Mintain nomor telepon tuh cewek, gue tahu Ragas emang tipikal cowok pemalu. Malu-malu tapi mau," jawab Saga, menepuk pelan bahu Ragas sembari terkekeh.
"Siapa? Gue?" beo Ragas. "Kenapa jadi gue? Bilang aja lo yang mau, dasar playboy cap gayung," gerutu Ragas, kesal karena dijadikan alibi Saga. Padahal Ragas tahu kalau itu untuk kepentingan Saga sendiri, dia kan playboy. Gak heran kalau lihat cewek bening langsung nyosor.
"Gue rasa begitu," sahut Arka, menyetujui ucapan Ragas.
"Yaelah, Ga. Bilang aja si kalau lo yang minat, pake bawa-bawa Ragas segala," kata Tara, ia tertawa miring seolah mengejek Saga.
Jelas saja Saga kesal, ia tak terima dan kembali duduk memasang wajah kesal dan teman-temannya justru tertawa.
"Gak jadi?" goda Alfa.
"Gak!" ketus Saga.
"Bener?" sahut Leon.
"Iya!" Saga melipat tangan di depan dada, memalingkan wajahnya ketika Leon dengan iseng mendekatkan wajahnya.
"Yaudah, biar gue aja. Tenang aja gue bagi kok," ucap Leon, menepuk bahu Saga lalu beranjak berdiri.
Saga mendengus, tapi matanya melirik Leon yang sudah berjalan ke depan, menghampiri wanita itu.
"Terimakasih," ucap wanita itu ketika pelayan memberikan pesanannya, matanya masih fokus ke layar ponselnya.
Leon sedikit gugup, ia menoleh ke belakang melihat teman-temannya mengacungkan jempol memberinya sedikit keberanian. Leon hampir sampai saat wanita itu berbalik, rambutnya tersibak ke belakang karena gerakan tubuhnya. Leon terpaku saat wajah wanita itu terlihat jelas oleh netranya. Bahkan ia membiarkan wanita itu melewatinya begitu saja.
Bukan hanya Leon, tapi teman-temannya juga tampak terkejut saat melihat jelas wajah wanita itu. Wajah yang sangat familiar, wajah yang sudah menghilang selama delapan tahun silam kini muncul kembali di depan mata.
"Gista!"
Target kembali.