
Enam bulan berlalu ....
Gista berdiri di depan cermin, menatap pantulan diri. Wajahnya berseri, tak ada lagi kantung mata yang membuatnya seperti zombi hidup.
"Kak, papa udah nungguin di bawah." Gista menoleh ke arah pintu yang terbuka. Farel menyembulkan kepalanya.
"Iya." Gista meraih tas ranselnya lalu berjalan keluar.
Ya, kini Gista sudah pulang ke rumahnya. Semenjak kejadian di makam mamanya, Gista memutuskan untuk memaafkan sang papa. Merajut kembali kehidupan yang sempat hancur, mengulang semuanya lagi dari awal.
Gista sudah berdamai dengan masa lalunya. Ia sudah memaafkan semuanya, termasuk dirinya sendiri. Kini Gista sudah hidup bahagia, bersama papa dan adik tirinya, Farel. Meski menyebalkan Farel sangat sayang dan peduli dengan Gista.
"Pagi," sapa Gista ketika tiba di meja makan.
"Pagi." Sang papa menyambutnya dengan senyuman hangat. "Mau sarapan apa? Roti, nasi goreng, pancake ...?"
"Mie goreng," jawab Gista.
"Sudah berapa kali papa bilang, jangan makan mie lagi, kamu keseringan makan mie. Gak, papa gak izinin."
Gista terkekeh, ia sengaja menggoda papanya. Gista tak berniat makan mie di pagi hari. "Papa hari ini ke pengadilan?" tanya Gista sembari mengoleskan selai di rotinya.
"Iya, bagaimana pun Valery anak papa juga."
"Aku harap Valery bisa belajar dari pengalaman."
"Papa harap begitu," sahut papanya.
"Apa mereka akan lama di penjara, Pa?" Farel tertunduk, lesu.
Gista tahu, Farel jelas terpukul mengetahui fakta mama dan kedua kakaknya di penjara. Tapi mau bagaimana lagi, mereka memang pantas menerima hukuman atas perbuatannya.
Gista juga bersyukur, papanya menepati janjinya untuk tidak ikut campur dalam urusan hukum. Membiarkan semuanya di serahkan ke pihak pengadilan.
Mama tirinya sudah lebih dulu di vonis penjara selama tiga tahun atas kasus pelanggaran hak cipta. Sementara Tristan di hukum sepuluh tahu penjara, atas kasus berlapis dari mulai prostitusi sampai suap yang dilakukannya.
Kini tinggal Valery dan Qween yang akan menerima vonis atas kasus kekerasan dan penyiksaan. Semua orang sudah menerima hukuman yang setimpal, termasuk Olan, om William, kepala sekolah dan madan Alexa. Mereka menerima hukuman sama seperti Tristan.
Gista tersenyum tipis, kini ia bisa hidup tanpa beban. Janjinya sudah terpenuhi, bahkan Gista juga berhasil mengungkap kematian mamanya. Meski ia tak bisa memperkarakannya ke pengadilan, seenggaknya Gista sudah tahu siapa dalang dibalik kematian mamanya.
"Nanti mau papa jemput?" Gista tersentak dari lamunnya, ia menoleh dan menyadari mobil papanya sudah tiba di depan gerbang SMA Pelita.
"Gak usah, nanti Gista mau jengukin temen."
"Yaudah kamu hati-hati ya, kabarin papa."
"Siap, Pa." Gista menyalami papanya lalu keluar dari mobil.
Gista tersenyum lebar, hari-harinya kini jauh lebih baik. Akhirnya Gista bisa hidup seperti anak-anak yang lain. Hal yang selalu ia impikan sejak dulu.
"Gista."
Gista berbalik ketika mendengar seseorang memanggilnya. Ia tersenyum lebar melihat seseorang berlari ke arahnya dengan senyuman lebar.
"Richo."
Akhirnya Richo bisa kembali ke sekolah, setelah menjalani masa pemulihan selama berbulan-bulan. Cowok itu sudah berubah, tak lagi cupu seperti dulu. Ia terlihat tampan tanpa mengenakan kaca mata.
"Buat kamu, dari Bunda."
"Makasih," kata Gista menerima kotak bekal pemberian Richo. Lalu keduanya berjalan beriringan.
Gista menghela napasnya, ketika Zee menyeretnya keluar kelas saat bel istirahat baru saja berbunyi.
"Mau ke mana si Zee?"
"Udah diem aja, pokoknya lo ikut aja." Zee tersenyum jail, dia tampak mencurigakan.
Gista mengernyitkan dahi saat tiba di dalam aula. Ngapain Zee bawa dia ke sini? Gista menoleh pada Zee, memberikan tatapan penuh tanya.
"Lo ...." Belum sempat berbicara, suara musik membuat Gista tercekat. Ia mengedarkan pandangannya ketika balon-balon berjatuhan dari atas, ditambah sebuah layar proyektor menampilkan putaran video.
Gista terdiam, jelas terkejut. Bagaimana tidak? Jika video yang tengah di putar ternyata video tentang dirinya.
Gista tak menyangka jika seseorang mengabadikan semua momen tentang dirinya. Bahkan Gista tidak sadar kapan foto dan video itu diambil. Lalu suara langkah kaki membuat perhatian Gista teralihkan. Ia berbalik, tersenyum tipis saat melihat Ragas berjalan menghampirinya.
Sudah Gista duga, siapa lagi orangnya jika bukan Ragas. Cowok yang selalu menemaninya sejak awal, mempertaruhkan nyawanya demi melindungi dirinya. Gista ingat betul, saat Ragas menjadikan tubuhnya perisai ketika Gista diamuk oleh orangtua Qween yang tidak terima anaknya dipenjara.
Ragas berlutut di hadapan Gista, ia mendongak sembari menyodorkan buket bunga mawar merah untuk Gista.
"Gista, will you marry me?"
Gista tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Ragas. Ia bahkan sampai terkikik geli, memegangi perutnya.
"Kok lo ketawa si Gis?" Ragas mengerutkan keningnya. Perasaan tidak ada yang lucu. Apa Gista menganggap semua ini lelucon? Padahal Ragas butuh ber hari-hari untuk menyiapkan semua ini, berkat bantuan teman-temannya juga.
"Lo lucu, lo lamar gue? Jelas gue bakal jawab No."
Ragas mendengus, ia memang sudah menyiapkan mentalnya jika Gista menolaknya. Ini bukan kali pertama Gista menolak ajakannya menikah. Ragas mungkin sinting karena melamar Gista, bahkan di umurnya yang masih belia. Tapi percayalah terkadang cinta memang membuat seseorang tidak waras.
"Gas, mungkin kita bisa mulai dari pacaran dulu. Kenapa harus buru-buru nikah, lo aja belum lulus sekolah. Kalau lo udah jadi ceo rumah sakit baru lo boleh lamar gue."
Ragas beranjak berdiri, menatap Gista dengan wajah berseri. "Jadi, kita pacaran?"
Gista mengangguk, mengulas senyum. "Itu lebih baik, ketimbang lo ajak gue nikah muda. Gue belum siap."
"Kalau gitu, lo mau jadi cewek gue?" Ragas kembali berlutut, menyodorkan lagi buket bunga mawarnya.
Gista mendengus geli karena tingkah Ragas. Tapi ia menerima buket bunganya, lalu mengangguk. "Iya gue mau."
"Woy, Gista terima gue jadi pacarnya!!" teriak Ragas, suaranya bergema di dalam aula.
"Ragas! Malu tau," pekik Gista, pasalnya aula tiba-tiba dipenuhi para murid yang entah kapan mereka datang.
"Biarin, pokoknya gue seneng karena akhirnya lo terima gue." Ragas memeluk Gista, tak peduli dengan sorakan dari anak-anak.
Gista tersenyum lebar, tak menyangka jika orang yang dulu ingin sekali Gista lenyapkan saat bertemu justru kini jadi pacarnya. Gista tak menyangka jika cowok yang dulu pernah hampir menyerempet mobilnya ternyata Ragas. Bahkan karena Ragas pula Gista menabrak mobil di lampu merah dan berusan dengan polisi.
"Ciyeelah, yang lagi kasmaran mah berasa dunia milik berdua, yang lain ngontrak." Zee mendengus, melihat Ragas dan Gista bermesraan di depannya yang jomblo.
"Gak usah khawatir Zee, kan masih ada gue." Zee bergidik, menyingkirkan tangan Saga dari bahunya.
"Sorry, gue gak doyan sama playboy cak gayung." Sontak saja teman-teman Saga tertawa mendengar ucapan Zee.
"Mamam tuh gayung," celetuk Leon.
Mereka tertawa bersama, kisah mereka belum sepenuhnya berakhir. Masih ada jalan panjang yang harus mereka lalui. Tapi setidaknya kisah yang mereka mulai akan berakhir dengan bahagia.
End.