
Saat istirahat kantin berubah jadi seperti pasar, berisik dan panas. Zee dan Gista memilih duduk di pojok, disusul Ragas dan Arka sembari membawa pesanan mereka berempat.
"Makasih," ucap Gista saat Ragas memberikan pesanannya.
"Lo gak takut sakit perut Gis?" tanya Zee saat melihat Gista menuangkan banyak sambal ke kuah baksonya.
Gista hanya menggeleng, ia mengaduk-ngaduk baksonya. Tiba-tiba tangan Ragas mengusap kepalanya.
"Makan yang banyak, lo butuh tenaga ekstra buat misi selanjutnya," bisik Ragas.
Gista hanya tersenyum. Beruntung ada mereka bertiga yang sukarela membantu Gista untuk menyelesaikan kasus ini. Meski makin ke sini harapan untuk terungkap justru semakin jauh tak mampu digapai.
Mengingat dalang dibalik ini semua orang yang memiliki kuasa, mustahil untuk bisa ditangkap. Tapi Gista tak menyerah ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menjebloskan mereka semua ke balik jeruji besi.
"Wow, ada pembunuh gaes!" teriakan nyaring Qween sukses membuat kantin yang tadinya ramai seketika menjadi hening.
Gista diam tak peduli, ia tetap makan dengan tenang. Sementara Zee sudah menggerutu.
"Pembunuh? Dia lagi ngomongin diri sendiri kali." Zee berdecak saat Qween tanpa malu terus berkoar-koar.
"Pembunuh yang sok jadi pahlawan. Mau jadi detektif buat bongkar kasus bunuh diri," lanjut Qween.
Jelas semua anak tahu ke mana arah pembicaraan Qween, sudah jadi rahasia umum jika Qween sangat membenci Gista terlebih setelah kejadian kemarin-kemarin. Ia hampir saja dipenjara gara-gara Gista.
"Pembunuh kok teriak pembunuh!"
Brak!
Gista meletakkan sendoknya dengan kasar, matanya menatap nyalang Qween yang berdiri di depan mejanya.
"Kenapa? Lo kesindir?" cibir Qween. "Sok-sokan mau jeblosin gue ke penjara padahal lo sendiri pembunuh. Harusnya lo yang di penjara karena udah bunuh pengasuh lo sendiri!"
Gista mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras dengan sorot mata tajam menatap tajam Qween. Emosinya menggebu-gebu siap menerkam gadis itu.
"Gis." Ragas menahan bahu Gista agar dia tak berbuat macam-macam. Namun Gista menghempas tangan Ragas dari bahunya, ia berdiri dengan gerakan cepat meraih mangkuk sambel dan menyiramkannya ke muka Qween.
Semua anak memekik, mereka menutup mata saking ngerinya lalu terdengar teriakan histeris dari Qween yang berjingkrak-jingkrak sambil berteriak.
"Ah, perih ... mata gue. Tolong!"
"Lo gila Gis!" bentak Valery.
"Lo baru tahu kalo gue gila? Harusnya lo gak biarin mulut lo berkoar." Gista menarik mangkuk bakso milik Zee lalu menyiramnya ke kepala Valery.
Valery melongo, ia memejamkan matanya merasakan kepalanya memanas ditambah otaknya mendidih menahan emosi.
Sementara Zee melongo, meratapi mangkok baksonya yang berubah jadi kosong. Mau marah pun dia tak bisa. Zee menghela napas, lelah.
Situasi makin tak kondusif, Valery yang tak terima pun melayangkan gelas di meja ke arah Gista. Beruntung Gista mampu menangkapnya, dia membantingnya di depan kaki Valery.
"Lo tahu betul gue seperti apa Val," kata Gista, tatapan Gista yang aneh membuat Valery bergidik.
Hingga tiba-tiba datang kepala sekolah dan beberapa guru yang mendapat laporan dari salah satu murid.
"Gista!"
Gista memutar bola matanya saat mendengar suara bariton itu. Dia berjalan keluar dan berhenti di samping kepala sekolah.
"Ini baru permulaan Pak," bisik Gista sebelum melangkah pergi meninggalkan kekacauan yang baru saja dibuatnya.
———————
Gista memutar bola matanya, jengah. Sudah hampir satu jam dia mendengarkan celotehan guru Bk dan beberapa guru yang menghakiminya.
"Untung mata Qween baik-baik saja, kalo sampai dia buta gimana?" Guru bk menghela napas kasar, rasanya percuma dia berteriak panjang lebar tapi Gista sama sekali tak menggubrisnya.
Sementara kepala sekolah baru saja mengakhiri panggilannya dengan papa Gista. Dia berjalan ke hadapan Gista yang masih di cecar oleh beberapa guru.
"Sudah-sudah, percuma kalian menceramahi dia gak bakal masuk ke telinganya." Gista mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan kepala sekolah. "Gista!" Gista menoleh, menatap datar kepala sekolah. "Kamu diskors selama seminggu—————"
Gista berdiri dan melangkah keluar dari ruang BK, meninggalkan kepala sekolah dan beberapa guru yang melongo melihat tindakan Gista barusan.
Ketika ia keluar semua anak sudah berkerumun di depan ruang BK. Mereka menatap Gista dan saling berbisik membicarakannya. Seakan sudah kebal, Gista tak memeperdulikan hal itu. Dia terus berjalan menuju kelasnya.
"Gis gimana?" tanya Zee saat Gista masuk ke kelas.
"Cuti dong," jawab Gista dengan santainya.
"Diskors maksud lo?" Gista mengangguk. "Kok lo malah seneng si?" Zee tak habis pikir dengan jalan pikiran Gista. Bisa-bisanya dia malah tertawa setelah diskors selama seminggu.
"Gue balik duluan ya." Gista menepuk bahu Zee. "Lo laporin apa aja yang terjadi selama gue gak ada, oke." Zee mengangguk melambaikan tangannya saat Gista melangkah keluar kelas.
Gista menghela napasnya, entah harus senang atau tidak tapi nyatanya dia sama sekali tak merasa sedih saat melangkahkan kakinya keluar gerbang.
Gista berhenti di pinggir trotoar, menunggu taksi lewat tapi justru sebuah mobil yang cukup familiar yang berhenti di depannya.
"Masuk," ucap cowok yang duduk di bangku kemudi.
Gista melongokkan kepalanya, menatap cowok itu. Saga? Ngapain dia? Gista kembali berdiri tegak mengacuhkan seruan Saga untuk masuk.
Melihat hal itu Saga pun kembali bicara. "Lo gak mau tahu tentang Alisya?"
Mendengar pernyataan Saga, Gista mulai tertarik. Dia berpikir sejenak untuk menimang-nimang tawaran Saga.
"Lo gak mau? Oke kalau gitu————" Saga tercekat karena Gista langsung masuk dan duduk di sebelahnya. Dia terdiam memandangi Gista.
"Kenapa? Lo gak jadi jalan? Kalo gitu gue turun———"
"Oke, oke." Saga pun bergegas melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan, Saga terus mengajak bicara Gista tapi cewek itu sama sekali tak merespon. Gista hanya bersender menatap keluar jendela, hingga akhirnya mobil Saga memasuki gerbang rumah yang begitu besar.
"Rumah lo?" tanya Gista saat mobil Saga berhenti.
"Iya."
"Why?" Saga mengernyitkan dahi, mendengar pertanyaan Gista dengan tatapan menyelidik. "Ngapain lo bawa gue ke rumah lo?"
"Lo mau tahu soal Alisya bukan?" Gista mengangguk. "Yaudah ikut gue masuk, ada yang mau gue tunjukin ke lo."
Gista pun berjalan mengikuti Saga memasuki rumahnya yang besar dan mewah. Gista melirik ke sekelilingnya, rumah Saga begitu sepi bahkan ia tak melihat seorang pun kecuali security yang ada di pos depan.
"Orangtua lo ke mana?" tanya Gista saat keduanya menaiki tangga menuju kamar Saga yang ada di lantai satu.
"Kerja," jawab Saga.
Gista mengangguk, tak lagi bertanya hingga akhirnya ia masuk ke kamar Saga. Gista berdiri di ambang pintu, ia memalingkan wajahnya saat Saga melepas baju seragamnya.
"Masuk aja ngapain di situ?" ucap Saga sambil membuka lemarinya, mengganti baju seragamnya dengan kaus.
Gista menelan ludah, alarm bahaya terus berbunyi saat kakinya melangkah masuk.
"Lo katanya mau nunjukin gue soal Alisya, mana?" Gista yang berjalan ke jendela sontak berbalik, ia mengerjapkan mata saat mendapati Saga sudah ada di depannya.
"Lo penasaran banget ya?" tanya Saga.
Jarak wajah mereka yang hanya sejengkal, membuat Gista mampu merasakan embusan napas Saga menyapu wajahnya.
"Gue bakal kasih tau lo, asal dengan satu syarat," lanjut Saga.
"Syarat?" beo Gista. Saga mengangguk, matanya tak lepas memandangi raut wajah Gista. "Apa syaratnya?"
Saga memajukan wajahnya, refleks Gista mundur hingga tubuhnya merapat ke dinding kaca pembatas balkon.
Saga mengurung Gista, ia meletakkan kedua tangannya di samping kepala Gista. Kepalanya menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan Gista.
"Kiss me," bisik Saga.