
"Jadi lo udah tau semuanya?" tanya Gista setelah membaca buku diari Alisya.
Arka yang duduk di tepi ranjang mengangguk, tertunduk lesu.
"Terus kenapa lo diem aja? Riko gak bersalah!" bentak Gista.
"Lo gak bisa jadiin diari itu buat alesan. Buktinya CCTV, cuma Riko orang terakhir yang nemuin Alisya hari itu," kata Arka.
Gista menyugarkan rambutnya. Setelah membaca diari Alisya banyak fakta yang terungkap. Dari mulai dia yang dibuli Valery dan Qween karena keduanya cemburu. Valery yang suka dengan Riko, tapi Riko justru menjalin hubungan dengan Alisya secara diam-diam. Sementara Qween, dia tak terima Olan menjadi pacar Alisya.
"Lo gak nolongin Alisya, waktu mereka buli dia?" tanya Gista.
Arka menggeleng, terlihat jelas penyesalan di wajah cowok itu. "Gue kecewa sama Alisya yang lebih milih Olan dari pada gue, ngebuat gue jadi benci sama Alisya. Gue terlalu egois sampai nutup mata soal pembulian itu."
"Bahkan soal kencan berbayar juga?" Arka mengangguk. Gista mengembuskan napasnya dengan kasar.
Pasti berat banget jadi Alisya. Dijerumuskan sahabatnya sendiri, dibuli, diperlakukan tidak adil. Apa dunia memang sekejam itu untuk anak yang terlahir tanpa dekapan orangtua?
Alisya tumbuh besar di panti asuhan, disaat masuk SMA dia mulai hidup mandiri. Namun karena salah pergaulan justru membawa Alisya pada dunia kelam prostitusi online.
Dan soal Tristan, Gista gak habis pikir pria itu bisa jadi mucikari. Memperkenalkan Alisya pada orang-orang kaya. Gista tersenyum miris. Ternyata selama ini dia tinggal dengan manusia-manusia bejad.
"Terus lo mau apa? Bukankah mereka berdua saudara lo?" tanya Arka.
"Itu urusan gue. Thank's buat diarinya. Tapi sepertinya gue musti bawa ini. Kalo gitu gue pamit." Gista sudah akan melangkah namun Arka menahan lengannya, membuat Gista menoleh ke belakang.
"Izinin gue buat gabung. Sebagai bentuk penebusan dosa gue ke Alisya," ucap Arka.
"Okay. Tunggu interuksi dari gue." Setelah itu Gista langsung pergi, meninggalkan rumah Arka.
————
Gista berdiri di depan papan skema yang dibuatnya. Dia mencoret foto Arka, Ragas, dan Leon. Ketiganya terbukti tidak terlibat, meski Leon yang mengunggah postingan kencan berbayar namun faktanya justru Valery dan Qween lah yang membuat postingan itu atas nama Alisya.
Gista terdiam menatap foto Tristan. Sesuai isi diari Alisya, pria itu merupakan penghubung antara Alisya dan orang yang mesponsorinya———mr.X. Gista jadi penasaran siapa mr.X yang dimaksud Alisya?
Lalu matanya beralih menatap foto Olan, kenapa hanya cowok itu yang tidak ada di dalam diari Alisya. Gista kembali membuka buku diarinya, membuka hingga lembar terakhir. Hasilnya tetap sama, hanya Olan yang sama sekali tak diceritakan oleh Alisya dalam diarinya.
Why?
Gista kembali membuka lembar demi lembar, memastikan sekali lagi. Hingga netranya menemukan lembaran bekas sobekan. Gista mengerutkan keningnya. "Sobek?"
Jadi ada lembar yang memang sengaja disobek. Apa mungkin itu lembar tentang Olan? Tapi siapa? Apa mungkin Arka yang mengambil? Gista menggeleng, menepis pikirannya.
"Gak mungkin. Kalo emang iya, buat apa? Bukankah harusnya dia menyobek punya dia sendiri. Karena Alisya juga menuliskan tentang Arka di diarinya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, menampilkan nama Ragas di layar ponselnya. Gista segera mengangkatnya. "Halo. Ada apa?"
"Apa?" pekik Gista sedikit terkejut saat Ragas memberitahu informasi yang baru saja di dapatnya. "Jadi, Leon dapetin foto itu dari ruang ekskul fotografi?"
Saga?
Jika duagaanya benar, pria itu tahu sesuatu. Secara Saga penanggung jawab ekskul fotografi.
"Ah, oke. Thank's." Gista memutus sambungan telepon. Dia kembali fokus pada papan skema.
"Jadi, target selanjutnya ... kalian." Gista melingkari foto Tristan, Valery, Qween dan Saga.
Keesokan paginya, Gista sudah bersiap untuk berangkat sekolah. Ia berjalan menuruni tangga menuju ruang makan. Gista duduk, matanya terus fokus menatap Valery dan Tristan.
"Lo ngapain liatin Kak Tristan?" tanya Valery.
Gista mengabaikan pertanyaan Valery, ia masih terpaku menatap Tristan yang tengah menyantap sarapannya.
"Jadi bareng kan?" tanya Gista.
Hal itu jelas memancing pertanyaan besar dalam benak orang-orang di sekitarnya. Terlebih ketika Tristan mengiyakan pertanyaan Gista.
"Kak lo ...?" Valery gak menyangka, dia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Tristan berjalan lebih dulu, diikuti Gista di belakangnya. Gista langsung masuk, duduk di samping kemudi. Semua orang memandang aneh hal itu, karena mereka semua tahu jika Gista tak pernah dekat dengan anggota keluarganya apalagi saudara tirinya itu.
"Kenapa tiba-tiba minta bareng?" Tristan akhirnya membuka suara, setelah sedari tadi memilih diam.
"Apa tidak boleh?" Gista menoleh, membuat Tristan juga ikut menoleh.
"Boleh, tapi rasanya aneh. Terlalu tiba-tiba," ucap Tristan, sembari fokus menyetir.
"Pengen aja. Capek naik busway." Gista memalingkan wajahnya keluar jendela. Malas sekali menanggapi obrolan yang menurutnya tidak berguna, tapi demi misi dia harus bersabar.
"BTW, kalo lo butuh temen ... gue bisa jadi temen ngobrol lo," kata Gista sebelum keluar. "Lagi pula, gue juga butuh rekomendasi tempat club yang bagus. Gue kangen clubbing." Gista mengedipkan sebelah matanya, lalu berjalan keluar setelah mendapat anggukan Tristan.
"Umpan berhasil," gumam Gista sembari melangkah memasuki gerbang.
————
Ragas dan Arka sudah berdiri di depan Saga. Ketiganya kini berada di ruang ekstrakulikuler fotografi. Saga menaikkan sebelah alisnya, heran dengan kehadiran Ragas dan Arka di ruangan itu.
"Lo berdua ngapain di sini?" tanya Saga to the point.
"Gue cuma mau mastiin sesuatu, boleh pinjem kamera lo?" ucap Ragas.
"Buat apa?"
"Buat nyari foto Gista. Lo sering motret dia diem-diem kan?" sahut Arka.
"Gista? Yang bener aja ... woy!!" Saga melotot ketika Ragas langsung merebut kamera Saga dari tangannya.
"Wuah, lo penguntit?" Arka mencebikkan bibirnya, ketika melihat hasil jepretan Saga. "Gista cakep juga ya kalo abis bangun tidur? So sexy."
Plak!
Kepala Arka sukses ditimpuk buku sama Ragas. Ragas mengetatkan rahangnya, kesal bukan main melihat foto Gista yang diambil oleh Saga.
"Gue, cuma jalani peran," kata Saga, menghindari tatapan tajam Ragas.
"Alibi lo basi!" balas Arka.
"Lagian lo berdua ngapain si?" Saga merebut kameranya. "Jangan bilang lo berdua komplotan buat menang?"
"Menurut lo?" Ragas menaikkan sebelah alisnya, menantang Saga.
"Ah, sudahlah. Terserah kalian, lagian gue gak tertarik ikut permainan ini." Saga mengibaskan tangannya, lalu keluar.
"Gak ada?" tanya Arka selepas kepergian Saga.
"Gak ada, foto Gista semua. Emang maniak tuh orang!" Ragas berdecak sebal, kesal sendiri. Sepertinya dia dalam mode cemburu.
Gista berdecak setelah mendapat info dari Ragas. Dia terus berpikir, siapa yang mengambil potret Alisya dengan mr. X waktu itu?
"Gis," panggil Zee.
"Hm."
"Lo ntar malem dateng?" Gista menoleh, memandang Zee cukup serius. "Kenapa?" tanya Zee.
"Mau bantuin gue gak?" Zee mengerutkan keningnya, lalu ia paham.
Dan, di sinilah mereka berdua. Di dalam kamar Zee. Selepas pulang sekolah Gista memang langsung ke rumah Zee. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Namun keduanya masih belum selesai bersiap-siap.
"Masih lama?" tanya Ragas ketika memasuki kamar Zee.
"Bentar lagi," ucap Zee yang sedang mendandani Gista.
"Kyaa!! Jangan tebel-tebel ... hachi!" Gista berdecak, bedak tabur itu membuatnya bersin-bersin.
"Lebay deh Gista, dah selesai. Bangun," suruh Zee. "Kak Ragas cantik gak?"
Ragas yang tengah bersender di pintu pun, langsung berbalik. Ragas terdiam, memandang takjub sosok di depannya. Bahkan cowok itu sampai cengo, saat melihat Gista.

"Kakak lo kenapa?" tanya Gista.
"Dia terpesona sama lo." Zee terkekeh geli. "Kak Ragas, tolong mulutnya dikondisikan ntar kemasukan lalat ijo baru tau rasa."
Suara cempreng Zee menyadarkan Ragas. Dia berdehem, tenggorokannya terasa kering. Ragas tak menampik jika Gista sangat cantik, bahkan jantungnya terus berdebar tak karuan.
"Gis," panggil Ragas.
"Hm." Gista tengah sibuk membalas pesan di ponselnya.
"KUA yok," ajak Ragas.
"Hah?" Kini giliran Gista yang dibuat melongo dengan ucapan Ragas.