TARGET

TARGET
BAB 6



Gista mengerjapkan mata, saat merasakan pergerakan di bawah ketiaknya. Sial! Dia mengumpat dalam hati, karena cowok itu melakukan tindakan tak terpuji.


"Turunin gue!" Gista mendorong dada  cowok itu, tapi pegangan cowok itu terlalu kuat. Gista berdecak, geram sendiri. "Gue bilang turun ... aaaaa."


Gista melotot saat tubuhnya terhempas ke tanah. Cowok itu menjatuhkan dia begitu saja.


"Lo!" Emosi Gista mencuat ke ubun-ubun. Tatapannya nyalang, penuh aura kebencian.


"Tadi lo yang minta gue turunin, ya gue turunin." Cowok itu terlihat tak peduli, dia memasukkan tangan ke saku celananya.


Gista bangkit berdiri, menepuk-nepuk rok belakangnya yang kortor. "Lo ngeselin banget si jadi orang!" Gista bersungut-sungut pada cowok itu. "Harusnya lo turunin gue, bukan jatuhin gue kaya tadi!" Dia terus mengomel.


Hingga akhirnya cowok itu berbalik menatap Gista dengan sorot mata mengintimidasi. Gista terdiam, namun wajahnya masih seangkuh sebelumnya. Meski rasa gugup mulai mendera. Mau ngapain dia? Batinnya saat cowok itu mendekat.


"Ada ulat bulu di bahu lo!" bisik cowok itu.


Gista melotot, perlahan dia menoleh ke samping. Astaga! Gista menjerit, sambil jingkrak-jingkrak. Dia sangat panik saat melihat ulat bulu di bertengger di bahunya.


"Buangin!" jerit Gista. Tapi cowok itu diam saja. "Buangin ... gue takut!" Persetan dengan harga diri, jika sudah menyangkut hewan lunak yang menggatalkan itu. "Buang!"


Cowok itu tertegun, terdiam sesaat karena Gista menghambur memeluknya. Tubuhnya masih bergerak, panik yang berlebihan. Dia terkesiap karena lengkingan suara Gista membelah indera pendengarannya.


"Udah," ucap cowok itu setelah menyingkirkan ulat bulunya.


"Boong!" Gista masih enggan melepaskan pelukannya, dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher cowok itu.


Hingga suara Zee yang baru muncul menginterupsi keduanya.


"Gista!"


"Kak Alfa!"


Gista langsung mendorong tubuh cowok bernama Alfa itu. Dia mengusap matanya yang berair. Tanpa mengatakan apapun Gista melangkah pergi, meninggalkan Saga dan Zee yang terperangah.


———————


Gista berjalan menuju kantin. Di sepanjang koridor dia merasa aneh dengan tatapan anak-anak. Mereka meliriknya tapi saat Gista balik menatap mereka, semuanya pura-pura sibuk sendiri.


Aneh!


Gista menghela napas panjang. Melihat antrian di kantin yang begitu panjang. Lehernya sudah sangat kering, perutnya pun minta diisi. Gista mengambil es mocachino dan roti isi daging, lalu mengantri di kasir.


"Totalnya empat puluh lima ribu," kata petugas kasir.


Gista merogoh saku bajunya, dia tertegun saat tak menemukan apapun. Dia beralih merogoh saku roknya, lalu kembali terdiam. Sial! Gista menyadari jika uangnya pasti terjatuh, waktu dia jatuh dari atas pohon. ****** gue! Mana gak bawa dompet!


Gista merutuki dirinya, apalagi antrian semakin panjang dan mulai ricuh. "Em ...." Gista mengerjapkan mata saat tiba-tiba suara dari belakang menginterupsinya.


"Sekalian aja," kata cowok itu sembari menaruh botol mineralnya ke depan kasir.


"Jadi lima puluh ribu." Cowok itu menyodorkan selembar uang lima puluh ribu, lalu berbalik mengabaikan Gista yang masih tercengang.


Gista tersadar, ketika teriakan di belakang semakin lantang meneriakinya. Dia segera mengambil pesanannya, lalu mengejar cowok tadi.


Cowok itu menaikkan sebelah alisnya, menatap heran Gista yang terdiam.


"Nih ...." Gista menyodorkan pesanannya. "Kan lo yang bayar, gue gak mau hutang budi," tukas Gista.


Cowok itu tersenyum sekilas. "Ambil aja gue gak suka roti." Dia berbalik namun Gista mencekal lengannya. "Apa?"


"Gue gak peduli!" Gista memaksa cowok itu menerimanya. Lalu hendak pergi tapi cowok itu justru menarik bahunya hingga Gista terjatuh menabrak dadanya.


Kantin seketika hening, setelah pekikan dari para cewek-cewek yang melihat adegan itu.


"Beruntung banget dia di peluk Kak Arka," bisik para cewek di sekitar Gista.


Gista mendorong cowok itu, hingga tubuh mereka kembali berjarak. "Gak usah cari kesempatan lo!" sarkas Gista.


Cowok itu mendengkus, lalu menarik tangan Gista. Meletakkan bungkusan kresek itu padanya. "Gak usah GR!"


Cowok itu pergi, meninggalkan Gista yang terdiam. Kantin mulai heboh, para penggibah mulai beraksi.


Gista menghela napasnya, bahkan hingga bel pulang sekolah pun dia masih memikirkan kejadian tadi. Bertemu dengan dua cowok aneh yang menyebalkan.


Gista berjalan menuju parkiran, mengabaikan tatapan sinis dari para cewek. Gosipnya sudah tersebar luas, bahkan sampai ada desas desus yang menyatakan Gista si target dari para playboy.


Jadi mereka playboy?


"Ah! Ngapain si gue peduli!" Gista menggelengkan kepalanya berulang kali. Menepis segala pikiran menyangkut ALASTOR.


Gista berhenti, menatap nanar tempat motornya terpakir. Sudah kosong! Motornya raib! Dia terdiam cukup lama.


Gista langsung merogoh saku bajunya, mengambil ponsel dan menelepon nomor papanya.


"Motor aku mana?!" Gista langsung berteriak saat panggilan telepon tersambung. "Papa kan yang ambil!" tuduh Gista.


Gista memijit pelipisnya, ketika papanya membenarkan tuduhannya. "Kalo begitu kirim sopir buat jemput aku sekarang!" Gista melotot mendengar jawaban papanya. "Pah!"


Bagaimana mungkin si tua bangka itu tidak mau mengirim sopir, dan malah menyuruh Gista naik taksi.


"Aku gak a ...." Gista menatap nanar ponselnya yang mati. "****!" umpat Gista.


Mana dia lupa bawa dompet, Gista merutuki tindakan papanya yang kelewatan. Pria tua itu mengangkut motornya.


Hampir satu jam Gista berdiri di depan gerbang, menunggu taksi yang tak kunjung datang. Dia menatap ponselnya yang mati. Apes banget si gue!


Apa dia jalan kaki aja ya? Atau nyari tumpangan? Agak ngeri juga di berdiri di sini sendirian, karena sekolahan sudah sepi. Baru akan melangkah, tiba-tiba terdengar suara deru motor yang berhenti di sebelahnya.


Gista menaikkan sebelah alisnya, menatap heran pada cowok itu.


"Naik!" kata cowok itu setelah membuka kaca helemnya.


Gista terdiam, lagi-lagi dia dipertemukan dengan cowok asing. Tapi wajahnya tidak asing. Gista berpikir sejenak, mengingat-ingat nama cowok itu. Kalo gak salah namanya ....


Ragas!