TARGET

TARGET
BAB 27



Angin malam berhembus kencang, dinginnya menusuk kulit. Suara bising kendaraan tak lagi terdengar, hanya beberapa saja yang melintas karena keadaaan sudah tengah malam.


Gista masih berjongkok di pinggir trotoar memeluk lututnya sendiri. Suara tangisnya tak lagi didengar hanya isakan yang belum sepenuhnya berhenti.


"Mama, tolong Gista." Entah gumaman yang ke berapa kali, Gista terus memanggil nama mamanya.


Ini bukanlah yang pertama kali papanya membuang Gista tapi rasanya terus melukai hati, merobek luka lama. Satu-satunya keluarga yang ia miliki justru tak lagi mengharapkan keberadaannya.


Gista semakin erat memeluk tubuhnya, ketika rintik hujan mulai turun semakin deras. Namun Sama sekali tak ada pergerakan untuk pergi dari sana. Gista membiarkan hujan mengguyurnya, membuat tubuhnya menggigil kedinginan.


"Gista!"


Gista tersentak, ia mengangkat wajahnya saat silau cahaya mobil berhenti tak jauh darinya dan seseorang yang berlari menerjang hujan menghampirinya.


"Kenapa lo di sini?"


Gista memandangi orang yang kini berlutut di depannya. Meski hujan mengguyur wajahnya, ia masih bisa melihat jelas raut khawatir orang itu.


"Ayo, ikut gue." Gista hanya diam, membiarkan tubuhnya diangkat dibawa ke dalam mobil.


Ia seperti manusia tak bernyawa, raganya terlihat hidup dalam kekosongan. Matanya yang sayu hanya menatap ke satu titik, bibirnya bergetar terus menggumamkan satu nama.


"Gis, lo pasti kedinginan. Pake ini." Gista mencekal lengan orang yang hendak memakaikan jaket padanya. Ia menatap sendu orang itu.


"Gas, bawa gue pergi." Kata terakhir yang terucap dari bibir Gista sebelum akhirnya tak sadarkan diri.


Ragas yang panik langsung membawa Gista menuju rumah sakit, kebetulan sang mama sedang dinas malam di sana.


Sesampainya di rumah sakit, Ragas berlari sambil menggendong tubuh Gista yang sudah lemah tak berdaya. Security yang melihat Ragas berlarian masuk ke lobi pun langsung membantu mengambilkan brankar dorong.


"Ragas ada————"


"Ma, tolong Gista!" teriak Ragas terlihat panik, napasnya memburu.


Mamanya yang mengerti situasi pun mengangguk, dia mengusap bahu Ragas agar tenang dan tak perlu khawatir. Mama Ragas segera masuk ke ruang rawat untuk memeriksa Gista.


Sementara Ragas duduk di kursi tunggu. Ia mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Seandainya ia datang lebih cepat mungkin Gista tidak akan kehujanan di sana sendirian.


Ragas yakin kalau Gista sudah lama berada di tempat itu seorang diri. Entah apa yang terjadi dengannya, yang jelas Ragas tidak akan memaafkan perbuatan keluarga Gista yang menelantarkannya begitu saja.


"Gas."


Ragas terhempas dari lamunannya, ia segera bangkit saat mendengar panggilan sang mama yang baru saja keluar.


"Gista gimana Ma?" tanya Ragas, matanya menatap Gista yang masih terbaring lemah di dalam.


"Cuma demam, mungkin karena kehujanan. Kamu pulang ya, besok kamu sekolah kan? Biar Gista mama yang jagain di sini."


"Tapi Ma————"


"Kalau kamu sakit, siapa yang akan nemenin Gista saat dia bangun?" sela mamanya.


Ragas menghela napas panjang, ia mengusap wajahnya kasar lalu mengangguk patuh.


"Kalau gitu Ragas pulang ya Ma," pamit Ragas.


"Iya sayang, kamu mandi air hangat ya. Terus minum susu biar badan kamu anget. Kamu gak bawa baju ganti? Ini baju kamu basah." Ragas menggeleng.


"Mama tenang aja, aku gak bakal sakit cuma karena kehujanan. Mama semangat kerjanya, titip pacar Ragas. Bye Mama." Ragas langsung berlari setelah mengecup pipi mamanya.


Mama Ragas tersenyum lebar, melihat tingkah putranya yang sedang kasmaran lalu ia berbalik menatap ke dalam.


"Terimakasih Gista, sudah membuat Ragas kembali tersenyum."  Setelah itu mama Ragas melangkah pergi dari sana.


——————


Gista terbangun, bau obat begitu menyengat mengganggu indera penciumannya. Perlahan matanya mulai terbuka, ia mengedarkan pandangannya pada ruangan serba putih.


"Kamu sudah bangun?" Suara merdu itu menginterupsi Gista, membuatnya menoleh ke samping.


"Tante," panggil Gista dengan suara yang begitu parau. "Aku di mana?"


"Di rumah sakit, semalam Ragas bawa kamu ke sini," kata mama Ragas yang sedang mengecek infus Gista. "Masih sakit?"


Gista mengangguk pelan. "Kepala aku pusing."


"Kamu istirahat aja dulu ya, jangan banyak gerak." Gista kembali mengangguk.


Tak lama pintu ruangan itu kembali terbuka, Gista menoleh, ia tersenyum tipis saat melihat Ragas berdiri di ambang pintu sedang mengatur napasnya.


"Ragas, kamu abis ngapain? Ngos-ngosan gitu?" tanya mamanya.


Ragas tak menjawab ia hanya terkekeh sambil mengusap tengkuknya. Ia berjalan masuk duduk di kursi samping brankar.


"Ragas, jangan diajak bicara dulu. Biarin Gista istirahat. Oh ya mending kamu suapin Gista makan, mama mau pulang. Adek kamu udah bawel aja dari tadi nelponin," ucap sang mama.


"Iya Ma."


"Gista, tante pulang dulu ya. Kamu jaga kesehatan. Jangan banyak pikiran ya sayang." Gista tersenyum tipis, membalas senyuman hangat mama Ragas.


Setelah mama Ragas keluar, kini hanya ada Ragas dan Gista dalam ruangan itu. Ragas terus memandangi Gista yang tampak pucat.


"Ada apa?" tanya Gista.


"Kenapa lo gak telepon gue semalem? Kenapa nomor lo gak bisa dihubungi? Lo tahu gimana gue khawatir banget sama lo?"


"Ponsel gue lowbat," jawab Gista.


"Terus kenapa lo bisa di sana? Lo diusir?" Gista mengangguk. "Gue gak habis pikir sama bokap lo, gimana ceritanya seorang ayah lebih belain anak tiri ketimbang anak kan———"


"Mereka anak kandung papa Gas," potong Gista, membuat Ragas tercekat dan seketika melongo.


Anak kandung? Bagaimana mungkin?


"Lo becanda?" Gista menggeleng pelan, mengembuskan napasnya kasar.


"Gue hadir seteleh sepuluh tahun penantian. Namun disaat umur gue menginjak tiga tahun, mereka datang dan mengatakan fakta bahwa bokap gue udah nikah siri selama delapan tahun." Gista menjeda sejenak, berusaha menguatkan diri saat kembali menceritakan aib orangtuanya.


"Itu artinya bokap gue selingkuh ketika pernikahan menginjak tahun ke lima dan lo mau tahu siapa selingkuhannya?" Gista menolehkan kepalanya ke Ragas.


"Nyokapnya Valery?" tebak Ragas disambut anggukan Gista.


"Dia perawat rumah sakit yang ngurusin pengobatan mama." Ucapan Gista membuat Ragas tercengang. "Padahal mama udah percaya banget sama dia. Gak taunya ...." Gista tersenyum kecut.


"Gis." Ragas menggenggam jemari tangan Gista. "Lo ingat kan gue pernah janji?" Gista mengangguk. "Gue bakal tepatin janji gue. Apa pun yang terjadi gue bakal tetep ada buat lo."


Gista mengangguk sembari mengulas senyum. "Thank's Gas."


———————


Dua hari dirawat di rumah sakit, kini Gista sudah kembali ke rutinitasnya termasuk sekolah. Ia keluar dari mobil Ragas, berjalan lebih dulu ke toilet. Gista masuk ke salah satu bilik.


Tak lama terdengar gerombolan anak masuk ke toilet, membuat Gista urung untuk keluar. Dia menajamkan pendengarannya ketika gerombolan itu mulai bergosip.


"Gue denger kasusnya kak Alisya ditutup."


"Serius? Bagus deh."


"Terus? Pelakunya udah ketemu?"


"Gak ada, kan dianggepnya bunuh diri. Tapi yang gue denger, ini tuh ada intervensi orang dalem gitu."


"Gak heran si, Valery sama Qween aja bisa bebas gitu aja. Padahal kita semua udah liat gimana sadisnya dia nyiksa kak Alisya."


"Gak kebayang deh jadi kak Alisya, gue aja ngeri waktu liat gimana Qween masukin pembalut ke mulut kak Alisya."


Gista mencengkram erat roknya, dia tak bisa mentolerir semua ini. Gista langsung keluar, membuat cewek-cewek itu terkejut. Mereka saling melirik saat Gista berjalan melewatinya.


Langkah Gista semakin lebar, tak peduli dengan tatapan aneh dari anak-anak maupun selentingan tentang dirinya. Napas Gista kian memburu, ia berhenti di depan ruang kepala sekolah.


Dengan satu tarikan napas, Gista membuka pintu ruang kepala sekolah masuk tanpa permisi. Anak-anak yang melihat pun berkerumun di depan ruang kepala sekolah, mereka berusaha menguping dan mencari tahu apa yang terjadi.


"Gista!" Kepala sekolah terkejut melihat kedatangan Gista. "Apa kamu tidak bisa ketuk pintu dulu?"


"Kenapa Bapak lakuin ini semua!" bentak Gista, emosinya menggebu-gebu tak lagi mampu dibendung.


"Apa maksud kamu?"


"Alisya gak bunuh diri! Bapak tahu itu bukan, lagian Bapak juga lihat sendiri gimana murid Bapak nyiksa Alisya tapi kenapa Bapak justru nutup mata? Apa semua karena uang!!"


Kepala sekolah berdehem, mengatur napas sejenak. Dia memandang Gista dengan ekspresi tak terbaca.


"Kenapa kamu tidak tanyakan hal itu sama ayahmu?"


"Maksud Bapak apa?" Gista mengerutkan keningnya.


"Kamu pikir siapa orang paling berpengaruh yang bisa mencampuri urusan hukum seperti ini?" Kepala sekolah tersenyum sinis. "Apa kamu pikir semua ini tidak ada dalangnya. Berhenti jadi superhero kesiangan, kamu gak akan bisa mengubah semuanya."


Gista mengepalkan tangannya, kemarahannya semakin tak bisa dikendalikan lagi. Dia dengan berani mencengkram kerah kemeja kepala sekolah.


"Bapak denger baik-baik, tak peduli siapa pun dalangnya. Saya akan jebloskan kalian satu per satu ke penjara!" Gista menghempas kepala sekolah, pria itu hanya terkekeh mendengar ucapan Gista yang ia anggap lelucon.


Berbanding terbalik dengan Gista yang melangkah keluar. Ia sudah bertekad akan mengungkap semuanya sampai tuntas, tak peduli lagi meski harus menjebloskan papanya sendiri.


Lo semua belum tahu seberapa mengerikannya gue.