TARGET

TARGET
BAB 39



Olan menelan ludah, tubuhnya membeku sampai tak tahu lagi seperti apa ekspresinya saat ini. Terkejut, jelas saja Olan terkejut. Mendapati Gista di depan rumahnya, ditambah dalam keadaan basah kuyup.


Saat melihat Gista dalam keadaan seperti ini, Olan benci pikirannya sendiri.


"Boleh gue masuk?" pinta Gista, memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan.


"Ah, tentu." Olan salah tingkah, ia minggir memberi akses jalan untuk Gista masuk ke rumahnya.


"Maaf mengganggu," kata Gista, ia berbalik melihat Olan yang masih mematung di depan pintu. "Tapi gue kedinginan dan gue punya alergi dingin."


Kata-kata Gista menginterupsi Olan, dia berusaha memulihkan kewarasannya dan segera berbalik menghampiri Gista.


"Gue ambilin lo handuk sama baju ganti," ucap Olan dibalas anggukan Gista.


Seperginya Olan ke lantai dua. Gista berdecak, ia masih menggigil. Hujan lebat membuatnya basah kuyup, sial memang. Ini di luar skenarionya, tapi setidaknya Gista jadi punya alasan ke sini.


Ya, Gista yakin betul. Jika dirinya pernah melihat gantungan kunci berbentuk setengah hati di rumah Olan, tepatnya di laci kamar Olan. Tapi bagaimana caranya Gista ke sana?


Gista tampak berpikir keras, mondar mandir ke sana-sini. Hingga sebuah ide gila muncul di kepalanya. Membayangkannya saja membuat Gista panas dingin. Gista menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Gak! Gak! Lo gila Gista kalo sampe ngelakuin itu." Gista memukul kepalanya. "Tapi gak ada cara lain ... arrrggg!!!" Gista mengerang frustasi, sebelum akhirnya merealisasikan ide gilanya.


Gista berlari menaiki tangga, ia masih ingat di mana letak kamar Olan. Sesampainya di depan kamar Olan, Gista baru akan mengetuk pintu tapi pintu lebih dulu terbuka.


"Gista!" Olan melebarkan mata, melihat Gista seperti melihat hantu.


Hantu yang selalu berkeliaran di kepalanya dan sekarang malah berada di rumahnya. Lagi-lagi Olan menelan ludahnya kasar, dia cowok normal yang mudah terpikat oleh sesuatu yang menonjol.


"Maaf, tapi gue udah gak tahan kebelet pipis." Gista menerobos masuk, menabrak Olan yang berdiri di depan pintu dan masuk ke kamar mandi.


"Padahal di bawah juga ada kamar mandi," gumam Olan, lalu melihat ke pintu kamar mandi yang tertutup. Olan berjalan mendekat ke pintu kamar mandi. "Gista," panggil Olan.


"Ya?"


"Em ... lo bisa bersih-bersih sekalian, gue udah siapin baju di atas kasur ...."


"Iya! Makasih," teriak Gista dari dalam kamar mandi.


"Gis."


"Ya?"


Kenapa Olan jadi gugup seperti ini, padahal ini bukan pertama kalinya dia memasukkan perempuan ke kamarnya. Bahkan mereka bisa melakukan hal yang lebih gila dari sekedar membayangkan saja.


"Kenapa?" tanya Gista saat tak mendengar suara Olan lagi. "Olan? Lo masih di situ?"


"Ah, iya. Mau susu hangat?" tawar Olan pada akhirnya.


"Boleh," sahut Gista.


"Oke, kalo gitu gue keluar. Kalo lo butuh apa-apa kasih tahu gue."


"Iya sayang."


Sayang? Olan tersenyum malu-malu. Hanya karena panggilan sayang dari Gista, ia segera keluar kamar tak tahan lagi berada di dalam sana. Gista terlalu menggemaskan untuk diabaikan.


Sementara Gista memutar bola matanya di balik pintu kamar mandi, wajahnya berekspresi mual karena memanggil Olan dengan panggilan sayang.


"Sayang-sayang, tapi boong!" gerutu Gista sembari keluar dari kamar mandi.


Tak peduli dengan keadaannya yang masih basah, Gista bergegas menuju nakas di samping ranjang. Gista membuka setiap laci, mengobrak abrik isinya tapi tak juga menemukan ponsel yang ia cari.


"Di mana si?" Gista berdecak kesal, lalu beralih ke meja di dekat jendela. "Ada, ada, ada ...." Gista terus bergumam sembari mencari di setiap laci. "Ada, ada ... kyaaa ketemu!" seru Gista berbarengan dengan pintu terbuka.


"Gista!"


———————


Gista menundukkan kepalanya, ia masih bersandar di meja dekat jendela. Sementara di hadapannya sudah ada Olan yang tengah memandanginya.


Sial, pake acara ketahuan! jerit Gista dalam hati.


"Lo ngapain?" tanya Olan, masih memberikan tatapan penuh selidik.


Gista tampak gusar, ia bingung harus beralibi apa. Gak mungkin kan, dia jujur sedang cari ponsel Alisya, yang ada Gista bisa habis dibabat Olan malam ini.


"Em ...." Gista meremas jemarinya, hatinya terus berteriak. Mikir, mikir, mikir! "Gue ... cari pan ... ties." Persetan dengan malu, Gista meringis sedangkan Olan melongo.


Olan mengerang frustasi dalam hati, ingin rasanya menerjang Gista. Kenapa dia begitu menggemaskan?


Waras woy!


Olan tersentak oleh pikirannya sendiri, ia kembali melihat Gista yang masih terlihat gusar.


"Lo tunggu sini, gue cari di kamar nyokap gue. Mungkin aja ada," kata Olan.


Gista langsung mengangguk dengan tersenyum simpul. Gista menghela napas saat Olan berbalik hendak keluar, tapi tiba-tiba Olan kembali berbalik padanya. Hal itu membuat Gista terkejut sampai menahan napas.


"Ada apa?" tanya Gista. ****** apa tadi dia lihat?


"Em ...." Olan terlihat bingung, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ukurannya ... ukur ... ukurannya berapa?"


"Oh, berapa ya?" Gista juga sama bingung. Dia mana tahu ukuran seperti itu. Selama ini dia tinggal pake dan tidak tahu menahu. "Mungkin segini."


Olan melotot, bagaimana tidak? Jika Gista mengukur sendiri dadanya dengan tangan dan menunjukkan pada Olan.


Kewarasan Olan mulai dipertanyakan kalau seperti ini. Bisa-bisa gelap mata dia.


Olan mendengus geli, ia segera berbalik mengabaikan Gista yang masih mengernyitkan dahinya.


"Bener kan?" Gista melihat tangannya sendiri. "Asssh, ngapain gue jadi mikirin ini si?!"


Gista kembali beraksi sebelum Olan datang lagi, ia membuka laci paling bawah mengambil ponsel berwarna pink dengan gantungan berbentuk hati sebelah. Gista memasukkannya ke dalam baju, berharap ponselnya anti air karena baju Gista basah.


————————


Ragas tampak gusar, mondar-mandir di depan lobi rumah sakit. Ia terus menghubungi Gista, tapi tak kunjung diangkat.


"Angkat Gista." Ragas sangat cemas, terlebih di luar juga sedang turun hujan. "Lo ke mana si?"


"Gas." Suara sang mama menginterupsi Ragas. Ia berbalik melihat  mama yang berjalan menghampirinya.


"Ma."


"Belum diangkat juga?" tanya sang mama yang tahu betapa risaunya Ragas.


Ragas menggeleng, ia berdecak ketika sambungan telepon beralih ke operator.


"Mungkin pulang, udah telepon Zee?"


"Gak ada Ma, Gista gak pulang. Dia juga gak mungkin ke rumahnya." Ragas masih terus menghubungi Gista.


"Teman-teman kamu?"


"Gak bakalan ...." Ragas menatap wajah sang mama. Kenapa dia tidak kepikiran sejak tadi?


Ragas segera menghubungi satu persatu temannya, dari Arka, Saga, Tara, Alfa dan Olan. Tapi tak ada satu pun dari mereka bersama dengan Gista. Cuma satu yang belum.


Olan!


Ragas tampak ragu, memandangi nomor Olan di layar ponselnya.


"Gas, mama ke dalam dulu ya. Ada pasien." Ragas mengangguk ketika mamanya pamit.


Kini ia kembali bergelut dengan diri sendiri dan pada akhirnya Ragas memutuskan menghubungi Olan. Dalam hati Ragas berharap jika dugaannya salah. Entah apa yang akan terjadi jika Gista benar-benar ada di sana.


"Halo," ucap Ragas saat sambungan telepon diangkat. "Lo di rumah?" Ragas mencoba basa-basi.


"Iya. Kenapa?"


"Gak papa. Gue cuma kangen ngumpul. Gimana kalo kita kumpul di apartemen gue?"


"Gue kayanya gak———"


"Olan."


Oh, shit!


Ragas membeku ketika suara lain menginterupsi percakapannya dengan Olan. Suara yang sangat ia kenali.


Gista!