TARGET

TARGET
BAB 16



"Ma ...." Gista melongo, Olan baru saja mengecup pipinya.


Cowok itu tanpa merasa berdosa, menampilkan senyum devil. "Morning kiss."


Kenapa semua cowok selalu frontal, gak bisa intro dulu apa? Gista memejamkan matanya sejenak, meredam emosi yang siap meledak. Tapi bukan Gista, jika diam saja diperlakukan seperti itu.


Bugh!


Kepala Olan membentur kaca jendela, pukulan tangan Gista sukses membuat hidungnya berdarah-darah.


"****! You crazy?" Olan menyeka darah yang keluar dari hidungnya.


"Emang, baru tahu lo." Gista mencebikkan bibirnya. "Jangan pernah muncul lagi di depan muka gue, atau ... bukan cuma hidung lo yang gue ancurin, tapi masa depan lo juga."


Olan refleks merapatkan pahanya, lirikan mata Gista begitu menyeramkan. Melihat hal itu Gista mendesis, dia beranjak keluar meninggalkan Olan yang masih setia menatapnya.


"Menarik, gue semakin tertantang buat taklukkin lo. Gabriella Gista Andromeda." Olan tersenyum miring, tekadnya semakin besar untuk mendapatkan Gista.


"Ah, shit!!" maki Olan, ketika darah itu menetes ke baju seragamnya.


Gista menggerutu sepanjang perjalanan, dia menggosok-gosok pipinya. Benar-benar pagi yang menyebalkan. Bagai mimpi buruk di cium cowok seperti Olan.


"Iuhhhh!" Gista mengghentakkan kaki, saking kesalnya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti, dia menoleh saat seseorang mencekal lengannya. "Lo!" Mata Gista membulat seketika, karena orang itu Ragas.


"Ikut gue." Ragas menarik lengan Gista.


"Gak! Lepasin!" Gista terus berontak, anak-anak mulai memperhatikannya. "Ragas! Lepasin atau———"


"Atau apa?" sergah Ragas, membuat Gista terdiam karena wajah Ragas berada di depan wajahnya dengan jarak yang sangat tipis.


"A ... atau ...." Bibir Gista tiba-tiba kelu, dia terus memaki diri sendiri. Kenapa dia harus segugup ini berhadapan dengan Ragas? Bayangan kejadian kemarin terus berputar-putar di otaknya, bahkan tanpa sadar mata Gista tertuju pada bibir tipis milik Ragas.


"Atau?" Suara Ragas kembali menginterupsinya.


"Atau gue bakal bikin lo nyesel!" ancam Gista, dengan berani mengangkat dagunya menantang Ragas.


"Ayo kita lihat siapa yang bakal nyesel, lo atau gue?" Ragas tersenyum tipis, senyum yang entah kenapa syarat akan ancaman.


"Lepas gak!" Gista berusaha melepaskan diri, namun cekalan Ragas terlalu kuat.


"Gak akan, sebelum lo ikut gue." Ragas berbalik siap menyeret Gista.


"Ogah!! Lepas ... aaawww!!!" pekik Gista, ketika tubuhnya tertarik dan jatuh menabrak dada Ragas.


Semua anak memekik melihat kejadian itu, mereka melongo. Tak menyangka akan melihat adegan seperti itu di koridor.


Gista melebarkan mata, tubuhnya tiba-tiba menegang. Posisi yang sangat tidak menguntungkan bagi Gista, justru membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.


Bagaimana tidak? Jika bibirnya menempel tepat di bibir Ragas. Bahkan rasanya Gista ingin menghilang saja dari sana. Sentuhan bibir Ragas menyentak Gista, dia berusaha mendorong dada Ragas agar terlepas dari cowok itu. Namun Ragas justru menarik punggungnya, merapatkan tubuh mereka.


"Astaga!" Leon melotot. "Ragas gila?"


"Wuah, apa dia salah makan obat?" celetuk Alfa.


"Sepertinya, sang singa sudah bangun dari tidurnya," sahut Tara, tersenyum miring melihat adegan itu.


"Menarik, perburuan semakin seru," balas Saga, senyuman cowok itu sangat aneh.


"Gak punya malu!" Arka langsung pergi meninggalkan koridor.


"Kyaa!! Arka, lo mau ke mana?" teriak Leon, namun diabaikan.


"Kenapa dia?" tanya Alfa.


Leon mengedikkan bahunya. "Cemburu kali."


"Sudahlah, dia memang seperti itu kan." Tara merangkul Alfa dan Leon. "Gimana kalo kita kumpul di basecamp? Gue males pelajaran bu Diah."


"Sama," sahut Leon dan Alfa bebarengan.


"Gue gak ikut, ada rapat OSIS," ucap Saga.


Mereka pun berpisah, meninggalkan koridor yang masih ramai. Olan yang baru datang, mencebikkan bibirnya saat harus melihat Ragas dan Gista yang tengah berciuman.


"Sial!" umpat Olan.


————


Gista mendengkus, berjalan keluar dari toilet. Sekeras apa pun dia membasuh bibirnya, rasa pahit itu masih terasa di bibirnya.


"Apa dia tadi merokok dulu? Sial!!" gerutu Gista sambil mengusap bibirnya. "Awww!" Gista memekik saat tubuhnya ditabrak.


"Jalan pake mata dong!" ketus cewek yang baru saja menabraknya.


Gista memutar bola matanya, jelas-jelas dia yang ditabrak. "Mata lo buta?" balas Gista.


"Menurut lo?" Cewek itu maju ke hadapan Gista. "Buta gak?" Dia menyetarakan wajahnya ke hadapan Gista.


"Qween udahlah, ngapain si ngurusin yang gak penting." Gista beralih pada cewek yang menarik lengan Qween, cewek itu Valery.


OSIS rese!


Gista ingat, cewek di depannya ini osis yang mengomelinya di parkiran. Jadi dia temannya Valery? Gista mendengkus. Dunia begitu sempit.


"Tapi Val———"


"Bentar lagi bel." Valery menyeret lengan Qween, padahal cewek itu masih ingin memberi pelajaran pada Gista.


"Val, lo kenapa si? Lo gak liat dia ngelunjak?" Qween menghempas tangan Valery saat mereka di dalam toilet.


"Dia bukan Alisya yang gak bisa ngelawan. Dia bukan tandingan lo Qween!" seru Valery, menyugarkan poninya.


"Oh ya, sehebat apa emangnya dia? Gue gak peduli. Gue tetep bakal bikin perhitungan sama tuh cewek, karena udah berani ciuman sama Ragas!" Qween mengepalkan kedua tangannya. "Bahkan gue bakal buat dia nyusul Alisya kalo perlu."


Gista yang belum beranjak pergi, terperanjat mendengar percakapan Valery dan Qween. Kini kecurigaanya pada Valery semakin besar, ditambah pernyataan Qween semakin  membuatnya penasaran dan ingin mengupas tuntas skandal kematian Alisya.


Suara bel berbunyi, Gista bergegas menuju kelas. Di dalam kelas dia merasa risih, karena anak-anak menatapnya dengan aneh. Bahkan mereka juga saling berbisik, entah apa yang mereka bicarakan. Tapi melihat gerak gerik mereka, Gista yakin jika dirinyalah yang jadi topik pembahasan.


"Mereka semua kenapa?" Gista menyenggol siku Zee.


"Apaan?" balas Zee, berusaha memelankan suaranya karena KBM tengah berlangsung.


"Kenapa mereka semua ngeliatin gue?"


"Lo gak tahu? Atau pura-pura ****?" Gista melotot siap memukul mulut Zee yang menyebalkan. "Oke, oke. Ampun."


Zee mengembuskan napasnya, dia melirik sekilas ke depan. Memastikan jika situasinya aman. Dia merapatkan duduknya ke Gista.


"Skandal lo sama kak Ragas jadi trending di wibo," bisik Zee.


"Wibo?" Gista mengerutkan keningnya. Zee mengangguk, dia mengambil ponselnya lalu menunjukkannya pada Gista.


"Lo lihat, foto lo sama kak Ragas masuk di grup wibo. Keren!" Zee mengacungkan jempolnya. "Gis!" pekik Zee saat Gista merebut ponselnya.


"Jangan berisik ****!" Gista melotot, karena guru di depan berbalik memperhatikan murid-murid. Hampir saja mereka ketahuan.


"Balikin HP gue," lirih Zee.


"Minjem bentar." Zee menghela napas pasrah. Dia kembali bertopang dagu menatap papan tulis.


Sementara Gista tengah melihat postingan yang dibagikan di grup itu. Shit! Gista ingin sekali mengumpat, melihat foto dirinya yang tengah berciuman dengan Ragas tersebar di grup.


Dia semakin membeliakkan matanya, melihat komentar miring yang ditujukan padanya.


"Semar mesem?" Gista berdecak, membaca komentar-komentar gila itu.


Para cewek mengatainya, oplaslah, pake susuk, pelet dan guna-guna. Sampai ada yang bilang jika dia jual diri ke Ragas.


Memang sinting para bucin Ragas. Bahkan Gista saja membacanya jijik, apalagi membayangkannya. Dia terus menscroll postingan di grup itu. Banyak postingan tentang ALASTOR.


"Zee," panggil Gista.


"Hm."


"Jadi selama ini lo tahu banyak tentang Alastor dari grup ini?" tanya Gista.


"Iya." Zee membenarkan posisi duduknya, menghadap Gista. "Beruntung banget gue bisa masuk grup itu, soalnya hanya orang-orang tertentu yang bakal di acc," jelas Zee.


Gista manggut-manggut, dia terus menscroll postingan yang sudah lama. Hingga matanya terhenti pada foto yang mencengangkan.


"Ini siapa?" tanya Gista menunjukkan  postingan itu pada Zee.


"Katanya si itu kak Alisya, tapi gak tau juga si kebenarannya. Tapi rumor itu dulu bikin gempar satu sekolahan." Gista mengernyitkan dahi, dia kembali menatap foto itu.


Foto Alisya yang tengah di rangkul pria paru baya. Pakaian Alisya yang begitu terbuka, pasti mengundang banyak spekulasi negatif. Dilihat dari komentar postingan yang penuh dengan hujatan dan makian yang ditujukan untuk Alisya.


"Katanya si kak Alisya ikut kencan bebayar," tambah Zee.


"Masa?!"


"Iya, serius! Katanya———"


"ZEE! GISTA!!" Keduanya langsung tersentak, ketika suara guru di depan menginterupsi.


Gista dan Zee saling berpandangan, keduanya tampak pasrah. Siap menanti hukuman, mengingat guru yang tengah mengajar termasuk dari jajaran guru killer.


"******!" pekik Gista.


"Mati gue!" Zee memejamkan matanya, pasrah.