
Gista melangkahkan kakinya menuju gudang yang terletak paling ujung, terpisah dari gedung sekolahnya. Dia memakai hodie hitam. Gista menoleh ke belakang. Memastikan tak ada siapa pun yang mengikutinya.
Gista tersenyum tipis saat melihat target, dia kembali melangkah untuk menghampiri Leon yang tengah merokok di bangku belakang gudang. Baru beberapa langkah, tiba-tiba seseorang membekapnya dari belakang.
"Lepasmbbb!!"
Gista terus berontak, namun orang itu justru menyeretnya ke belakang gedung sekolah.
"Arrrg!!" Orang itu mengerang kesakitan, karena tangannya di gigit Gista.
"Lo siapa ... Ragas!" Gista terkejut saat berbalik, orang yang membekapnya ternyata Ragas. "Lo ngapain ser————"
"Ssssstttt!" Ragas menekan bibir Gista dengan telunjuknya. Dia merapatkan tubuhnya ke depan Gista.
Gista membeku, pandangannya terfokus pada bola mata Ragas. Cowok itu menunduk, keduanya saling memandang hingga suara bass menginterupsi keduanya.
"Yaaa! Leon, mana? Kata lo dia bakal datang?"
Gista melebarkan matanya saat tahu suara siapa itu. Saga! Bagaimana mungkin ada cowok itu di sini? Bukankah semalam dia menyuruh Leon datang seorang diri.
"Sepertinya dia gak bakal dateng. Buang-buang waktu!" Dan kali ini suara Olan yang terdengar. Jangan bilang jika semua anak Alastor ada di luar?
Gista mendongak, menatap Ragas. Apakah dia juga tahu ini akan terjadi? Makanya dia seret Gista sembunyi di balik tembok.
Ragas mengangguk, mengedipkan matanya. Seolah ia tahu apa yang ada di pikiran Gista saat ini.
"Cabut aja yok, gue laper," rengek Alfa.
"Yaudah, cabut aja. Palingan juga dia takut." Leon menginjak puntung rokoknya, lalu pergi meninggalkan tempat itu bersama teman-temannya.
Gista dan Ragas keluar dari persembunyiannya. Dia termenung, mencoba mencerna kembali kejadian yang baru saja terjadi.
"Ikut gue." Ragas langsung menarik lengan Gista.
"Ke mana?" Gista menahan lengannya, membuat Ragas berbalik menatapnya tajam.
"Ke tempat yang lebih aman. Bisa saja mereka balik lagi." Gista diam saja, membiarkan Ragas membawanya pergi.
Kini mereka berada di parkiran, di dalam mobil Ragas. Gista menghela napasnya, berat.
"Jadi ini tempat yang lo bilang aman?" Gista mendengkus, kenapa juga dia harus nurut di bawa ke sini.
"Seenggaknya gak bakal ada yang ngeliat atau ngedengerin pembicaraan kita?"
"Maksud lo?"
Ragas mengeluarkan ponselnya, dia memutar audio rekaman. Gista terdiam, mendengar dengan seksama pembicaraan para anggota Alastor.
"Jadi lo mau gimana?" Terdengar suara Olan yang menanyai Leon.
"Kita jebak dia, setelah itu kita bakal tahu siapa yang menyusup ke grup. Oh ya, untuk lebih amannya, sementara grup di hapus aja." Usul Leon di setujui anak-anak yang lain, itu kenapa tadi ada anggota Alastor yang berjaga-jaga.
"Terus, kenapa lo tolongin gue? Bukannya lo bagian dari mereka?" Gista memalingkan wajahnya keluar jendela.
"Karena gue peduli sama lo."
"Peduli?" Gista menoleh pada Ragas yang juga ikut menoleh ke dirinya.
"Iya, gue peduli sama lo. Gue suka sama lo. Apa lo gak ngerasain sama sekali?" Napas Ragas memburu, butuh keberanian untuk dia mengutarakan semua itu.
Gista berdecih, tersenyum sinis mendengar ucapan Ragas. Meski sesaat dia terdiam karena terkejut.
"Suka? Cinta maksud lo?" Ragas mengangguk pelan. "Sayangnya gue gak percaya cinta, cinta itu bulshit ...."
Bola mata Gista melebar, dia tercekat ketika Ragas membungkamnya dengan ciuman. Bukan sekedar menempel, tapi lebih dari itu.
"Ra ... gas! Lep ... pas!" Gista mendorong dada Ragas, hingga punggung Ragas membentur jendela. Gista meraup oksigen sebanyak-banyaknya. "Lo gila!" bentak Gista, setelah menormalkan diri.
"Iya gue gila. Dan itu karena lo!" Ragas kembali mendorong Gista, melancarkan aksi sebelumnya.
Seberusaha apa pun Gista berontak, tenaga Ragas jauh di atasnya. Ragas benar-benar gila, dia sama sekali tak memberikan kesempatan Gista untuk bernapas.
Hingga tiba-tiba ada yang mengetuk kaca mobil Ragas. Keduanya berhenti, menoleh secara perlahan. Baik Gista maupun Ragas sama-sama melotot, melihat siapa yang berdiri di samping mobil.
******!
————
Gista menghela napasnya berulang kali, terik matahari tepat berada di atasnya. Keringat mulai bercucuran di dahi, kakinya pun sudah kesemutan karena berdiri terlalu lama.
Gista dan Ragas dihukum, berdiri di depan tiang bendera. Setelah guru BK memergoki keduanya di dalam mobil. Gista terus menggerutu, menyalahkan Ragas atas semua yang terjadi.
"Ini semua gara-gara lo!" ucap Gista.
"Tapi lo juga menikmatinya," balas Ragas, tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Nyebelin! Panas tau! Gue bisa ...." Gista terdiam saat Ragas berpindah ke depannya. Cowok itu menoleh ke belakang.
"Masih panas?" Refleks Gista menggeleng, bibirnya terlalu kelu untuk berkata-kata. "Gue bakal bantu lo. Jadi, lo gak sendirian lagi."
Gista mengernyitkan dahinya. Tak mengerti dengan ucapan terakhir Ragas.
"Tapi itu semua gak gratis, kalo gue bisa bongkar siapa dalang kematian Alisya ... lo harus jadi cewek gue." Ragas menarik turunkan kedua alisnya, ditambah senyuman maut yang bagi Gista justru terlihat menyebalkan. "Oke. Deal!"
"Kyaa!! Mana bisa begitu, lagian gue gak minta tolong sama lo———"
"Suuuuttt!" Ragas menempelkan telunjuknya di bibir Gista. "Gak ada penolakan. Lo mengerti."
"Kyaaa ...!"
Keduanya saling berdebat, Gista tetap kekeh dengan pendiriannya. Sementara Ragas juga tetap yakin dengan ucapannya. Perdebatan keduanya jadi tontonan beberapa murid, termasuk anggota Alastor.
"Kayanya gue musti mundur terhormat," celetuk Saga. Dari awal dia memang tak begitu minat, meski Gista sedikit menarik baginya.
"Aku mundur alon-alon." Leon menimpalinya dengan sepenggal lagu koplo.
"Somplak lo!" Tara mendengkus, jengah melihat kelakuan absurd Leon.
"Yaa, apa kalian gak merasa aneh sama Ragas?" ucap Alfa.
"Maksud lo?" sahut Saga.
"Aneh aja, dia sekarang jarang ikut kita nongkrong. Alesannya banyak, yang ini lah itu lah, pokoknya ada aja alasannya," ujar Alfa.
"Bener, kaya semalem. Dia cuma diem aja kan waktu kita bahas orang yang ngancem gue," tambah Leon.
"Iya juga si, tadi aja dia alesan sakit perut jadi gak bisa ikut. Tapi sekarang tiba-tiba di hukum bareng Gista." Tara manggut-manggut, matanya tertuju pada Ragas dan Gista di bawah.
"Apa jangan-jangan Ragas main belakang?" Saga menoleh mendengar pertanyaan konyol dari Leon.
"Yaa!! Gak gitu juga Yon, otak lo dipake gak si." Saga berdecak. "Masalah deketin target, kita bebas mau pake cara apa aja. Jadi, gak ada istilah main serobot atau main belakang. Siapa cepat dia dapat," jelas Saga.
"Apa kalian gak bosen?" celetuk Arka yang sejak tadi memilih diam. Otomatis semua menoleh, termasuk Olan yang awalnya sama sekali tak berminat ikut pembahasan itu.
"Bosen? Bosen apa?" tanya Alfa.
"Jujur gue bosen, yang kita lakuin cuma buang-buang waktu." Arka tersenyum kecut.
"Bosen, terus kenapa lo gak keluar!" Olan tersenyum miring, berjalan ke depan Arka. "Bahkan lo menikmati permainan ini, jangan munafik!" Olan berbalik, berniat pergi. Namun ucapan Arka membuat langkahnya terhenti.
"Mau berapa lagi yang bakal lo korbanin? Apa kematian Alisya gak bikin hati lo sedikit tergerak untuk menyudahi?"
Anggota lain terdiam, ucapan Arka menohok mereka semua. Sementara Olan hanya menolehkan kepala ke bahu, dia tersenyum sinis. Seolah mengejek Arka.
"Apa ini karena Alisya?"
Arka terdiam, tatapannya tajam menusuk. Kedua tangannya terkepal erat.
Ya, ini semua karena Alisya.