TARGET

TARGET
BAB 41



Ragas menghentikan motornya di depan gang sempit, ia menatap horor pada lorong gelap di depan sana. Dalam benaknya terus bertanya, kenapa akhir-akhir ini Gista selalu ke tempat ini? Bagaimana jika kejadian sebelumnya terjadi lagi?


Ragas tak  bisa membayangkan bagaimana jika anjing gila itu datang lagi dan mengejarnya seperti terakhir kali.


"Gis, pulang aja yok," rengek Ragas, menahan tangan Gista yang sudah akan turun dari motor besarnya.


"Kyaa, lo takut?" Gista berdecak, mengembuskan napas kasar. "Mending lo pulang aja, gue bisa sendiri kok."


"Gak! Siapa bilang gue takut." Ragas menelan ludah, dalam hati dia merutuki mulutnya sendiri. "Gue ... gue ... cuma ...." Ragas mengusap tengkuknya, mengamati sekelilingnya yang begitu menyeramkan.


"Gue gak ada waktu ngurusin keparnoan lo Gas, kalo lo mau ikut ayok kalo gak ...." Gista menatap Ragas lekat-lekat. "Lo bisa tunggu di sini," kata Gista sembari menepuk bahu Ragas cukup kencang, setelah itu berjalan memasuki gang sempit.


Ragas menahan gemuruh di dada, ia segera berbalik dan memanggil-manggil Gista. "Aiisssh, kenapa gue musti suka sama cewek keras kepala kaya Gista sih?"


Ragas bergegas turun dari motornya, ia celingukan sebelum akhirnya berlari mengejar Gista.


"Gis, tunggu!" teriak Ragas, berusaha menyamai langkah Gista.


"Jangan berisik Gas, kecuali lo mau dikejar anjing lagi," celetuk Gista yang tetap tenang berjalan.


Anjing?


Mendengarnya saja membuat Ragas bergidik. Dia segera merapat ke samping Gista, mengawasi sekitarnya yang sangat gelap. Hingga mereka tiba di depan sebuah rumah kecil yang lusuh.


"Sebenernya ini rumah siapa si Gis?" tanya Ragas. Dia cukup penasaran dengan pemilik rumah ini, pasalnya Gista jadi sering ke sini. Sepenting apa emang orang itu? Pikir Ragas, yang tiba-tiba merasa cemburu.


Apa dia lebih ganteng?


"Informan," jawab Gista, menyadarkan Ragas dari lamunan singkatnya.


"Informan?" beo Ragas.


"Suuut!!" Gista menginteruksi Ragas agar diam. Ia segera mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu di room chat pribadi.


Gue dah sampe.


Tak lama pintu terbuka, Gista segera masuk diikuti Ragas yang berjalan hati-hati di belakangnya. Ragas terus waspada, mengamati seisi ruangan rumah kecil itu.


Cukup berantakan!


Tempat ini mirip seperti gudang rongsokan, bengkel atau tempat penimbunan barang rusak. Banyak komputer dan barang-barang elektronik yang sudah tak terpakakai.


"Kopi?" Suara seorang pria menginterupsi keduanya, Ragas yang sedang fokus sampai terlonjak mundur saking kagetnya.


"Siapa?" bisik Ragas, bertanya pada Gista tentang pria yang kini berdiri di hadapan mereka sembari memegang cangkir kopi.


"Temennya Toni," jawab Gista.


Ragas kembali melihat orang di depannya, mengamati penampilannya penuh selidik.


"Temen lo?" tanya pria itu pada Gista, dia berjalan ke depan komputernya.


"I———"


"Pacar," tukas Ragas menyela ucapan Gista.


Pria itu menoleh, melihat Ragas dengan pandangan mengamati dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Selera lo boleh juga, tapi biasanya yang kaya gitu lembek," komentarnya.


Ragas mengeraskan rahangnya. Apa-apaan tuh orang, seenak jidat bilang dirinya lembek. Belum tahu aja sejago apa Ragas berantem. Bisa-bisa aset masa depan tuh orang hancur tak bersisa.


"Gue gak ada waktu dengerin omongan lo yang gak penting." Gista menyodorkan ponsel Alisya pada orang itu. "Lo butuh waktu berapa lama buat buka password-nya?"


Orang itu mengambil ponsel yang disodorkan Gista dan menyalakannya. "Pola?" Orang itu melihat Gista dengan kening berkerut.


"Ya."


Dia menghela napas, lalu meletakkan kembali ponselnya ke meja. "Besok lo bisa datang."


"Oke, gue ambil besok."


———————


Alarm berbunyi nyaring memekakkan telinga, Gista yang baru saja terlelap satu jam yang lalu mengerang kesal dan berniat melempar alarm itu. Namun seseorang dengan sigap menahannya.


Gista perlahan membuka mata, memicingkan matanya untuk melihat siapa pelakunya.


"Ragas!" Gista menghela napas kasar, lalu bersembunyi dibalik selimut.


"Udah tiga alarm yang lo hancurin Gis dan ini bisa jadi yang ke empat kalau gue terlambat datang," celetuk Ragas, menarik selimut Gista.


"Kyaaa, gue masih ngantuk Gas." Gista berusaha menarik selimutnya kembali tapi Ragas lebih gesit mengambil selimut itu dari Gista.


Sekolah?


Gista berhenti berontak dan melihat Ragas. "Sekolah?" beonya, sembari mengingat-ingat. Seingat Gista, dirinya masih punya empat hari untuk bersantai.


"Cepetan bangun, nanti telat." Ragas tak memberikan kesempatan Gista berpikir lama, dia langsung menyeret Gista ke kamar mandi.


"Kyaaa!! Ragas ngeselin!!!"


Pagi yang sangat menyebalkan bagi Gista. Setelah selesai mandi dan mengenakan seragamnya, Gista segera keluar kamar. Ia tampak seperti zombi dengan kantung mata lebar dan menghitam.


"Kunti!" pekik Zee yang kaget saat hampir bertabrakan dengan Gista.


"Ini gue." Gista mendengus.


"Uupss, sorry." Zee menyengir. "Abis muka lo serem," cicitnya.


Gista memutar bola matanya, ia sudah akan menuruni tangga tapi Zee menahannya.


"Apa?" Gista menatap datar Zee.


"Lo mau sekolah? Bukannya lo————"


"Skorsing gue udah dicabut," sela Gista, ia kembali melangkah tapi lagi-lagi Zee menahannya. "Apa lagi?" Wajah Gista mulai tampak kesal, siap memakan Zee hidup-hidup.


"Lo mau ke sekolah kaya gini?" tanya Zee, memandang Gista dari atas sampai bawah.


"Kenapa emang?" Gista melihat penampilannya. "Gak ada yang salah."


"Ikut gue." Zee langsung menyeret Gista ke kamarnya.


Zee yang sudah gatal dengan penampilan Gista langsung me-make over Gista. Dia memakaikan berbagai make-up ke kulit wajah Gista.


Gista jelas berontak, tapi Zee terlalu gigih. Akhirnya Gista mengalah, ia membiarkan Zee mendadaninya. Seandainya rasa kantuk tak mendominasi, maka habis sudah Zee diterkam Gista.


Sepanjang koridor, semua anak tampak heboh. Mereka saling berbisik dan menatap Gista terang-terangan. Hal itu sangat membuat Gista risih, ia akan melototi cowok-cowok yang menatapnya dengan tatapan lapar.


"Pada kenapa si?" gerutu Gista. "Gas, lo tahu mereka kenapa?" tanya Gista.


Tak ada sahutan membuat Gista refleks menoleh ke samping. Gista berhenti melangkah, menatap Ragas dengan kening berkerut.


"Gas lo tahu mereka kenapa? Semua anak ngeliatin gue."


"Karena lo cantik banget hari ini."


"Hah?"


"Apa?" Ragas gelagapan saat tersadar. Barusan dia keceplosan.


"Lo dengerin gue gak si dari tadi?"


"Denger kok."


"Apa?"


"Em ... anu ... itu ...." Ragas bingung sendiri, pasalnya dia memang tak mendengarkan. Ragas terlalu fokus dengan pesona yang Gista pancarkan.


"Ah, sudahlah." Gista mengibaskan tangannya dan berjalan meninggalkan Ragas. Namun beberapa langkah ia berhenti saat berpapasan dengan kepala sekolah.


Kepala sekolah menatapnya dengan datar, terpancar kebencian dari kedua bola matanya. Gista menyeringai, ia melangkah maju ke samping kepala sekolah.


"Selamat pagi Pak," sapa Gista. "Udaranya cukup segar ya?" Gista tersenyum miring. "Kayanya Bapak gak kaget lihat saya di sekolah, padahal jelas-jelas tiga hari yang lalu Bapak skors saya satu minggu." Gista tertawa garing, melirik ekspresi kepala sekolah yang tampak kesal.


"Padahal saya lebih suka di skors," lanjut Gista.


"Oh, ya?" Kepala sekolah menoleh ke Gista, mengembangkan senyum palsunya. "Haruskah saya skors kamu lagi?"


"Tentu," jawab Gista. "Tapi sebelum hal itu terjadi, saya akan beri Bapak kejutan," bisik Gista.


Gista menyeringai, dia memang sengaja menyulut amarah kepala sekolah. Tindakan yang tak mungkin dilakukan oleh murid lain, tapi mengingat itu Gista, hal itu bisa jadi mungkin.


Karena Gista itu gila.


"Saya yakin Bapak akan suka dengan kejutan dari saya." Gista tersenyum lebar. "Yang pasti ini ada hubungannya dengan Alisya." Mata kepala sekolah seketika melotot, tangannya terkepal.


Jika saja Ragas tak datang mungkin kepala sekolah sudah menyeret Gista dan menghajarnya.


"Gis," panggil Ragas.


"Ya." Gista menoleh ke belakang. "Kalo begitu saya pamit ke kelas Pak." Gista tersenyum pada kepala sekolah lalu menggandeng Ragas menuju kelasnya.


Selangkah lagi, semua kebusukan lo akan terbongkar. Tanpa Ragas sadari Gista menyeringai, senyumnya terlihat seperti Joker.