TARGET

TARGET
BAB 33



Gista menaikkan sebelah alisnya. Menatap Madam Alexa penuh selidik, namun tak ada kebohongan pada ucapannya.


"Siapa?" tanya Gista.


"Tristan Andromeda!"


Sudah Gista duga, jika pria itu memang dalangnya. Tapi Gista butuh bukti konkret untuk menjebloskan Tristan dan membuat tim Elit tak bisa berkutik lagi.


"Tapi ternyata dia menjadikan Alisya sebagai barteran," lanjut madam Alexa, membuat Gista tercengang.


"Barteran?" Gista mengernyitkan dahinya. Untuk apa?


"Ya, bisnis. Memangnya dari mana dia bisa dapat proyek besar jika bukan dengan barteran seperti itu," jelas madam Alexa diiringi gelak tawa yang terdengar menyebalkan.


"Maksud Anda?" Gista masih belum menangkap maksud ucapan madam Alexa.


"I don't know. Ah, tapi saya sering liat Tristan membawa Alisya setiap kali bertemu dengan dua pria itu." Mata madam Alexa menunjuk ke arah foto di tablet Gista.


"Kepala sekolah?" Madam Alexa menggeleng, lalu mengarahkan dagunya ke satu pria yang tak terlihat wajahnya. "Anda kenal?"


Madam Alexa tampak berpikir. "Entahlah, saya hanya menemani mereka sebentar dan gak mau tau urusan mereka. Tapi ...." Madam Alexa menggantungkan ucapannya.


"Tapi apa?" Gista tidak suka bertele-tele, dia sudah tidak sabar mendengar kelanjutannya.


"Mereka sering memanggilnya, mr. Em ... Ander, Sander atau Xander. Entahlah saya lupa tapi Tristan sering mengkodenya dengan sebutan mr. X, salah satu orang penting sepertinya."


Gista semakin penasaran, dia menatap layar tabletnya. Pikirannya berkecamuk memikirkan siapa pelakunya, hingga tiba-tiba pintu terbuka. Gista menoleh, mendapati Ragas berdiri di ambang pintu tengah mengatur napasnya yang tersenggal.


"Gis," panggil Ragas.


"Apa?" Gista menaikkan sebelah alisnya.


"Richo ...."


"Richo kenapa?" Gista refleks berdiri.


"Richo siuman," kata Ragas.


Ragas mengerjapkan mata karena Gista langsung berlari keluar melewatinya begitu saja.


"Gis, tunggu." Ragas bergegas mengejar Gista.


Sementara madam Alexa terus berteriak, memaki Gista yang meninggalkannya tanpa melepas ikatan tangannya.


------


"Richo, kamu musti banyak istirahat ya. Biar cepet sembuh," ucap mama Ragas setelah memeriksa Richo yang sudah sadar dari komanya.


Richo hanya mengangguk, tubuhnya masih terkulai lemas. Bibirnya masih kelu untuk berbicara.


"Terimakasih Bu Dokter, ini semua berkat bantuan Bu Dokter." Mama Richo berulang kali mengucap syukur dan berterimakasih terhadap mama Ragas.


"Ini kuasa Allah SWT Bu, alhamdulilah Richo bisa sadar dan semoga saja cepat sembuh." Mama Ragas mengusap pelan bahu mama Richo.


"Iya, Bu Dokter. Sekali lagi terimakasih."


Tiba-tiba saja ketiganya dikejutkan dengan suara pintu yang dibuka dengan kasar. Tampak Gista berdiri di ambang pintu dengan napas memburu.


"Gista!" pekik mama Ragas.


Gista segera masuk, dia berdiri di samping bankar. Richo menatap heran Gista, dia tampak bingung dengan kehadiran gadis itu.


"Lo inget sesuatu?" tanya Gista to the point. "Lo tahu sesuatu tentang kematian Alisya kan?" Gista terus mencecar Richo dengan pertanyaan seputar kematian Alisya.


"Gista, Richo baru sadar. Dia belum sepenuhnya ingat jadi kamu tanya itu nanti ya," kata mama Ragas, menenangkan Gista.


"Tapi Richo belum sepenuhnya ingat Gista, jadi biarkan dia istirahat dulu ya." Mama Ragas terus memberikan pengertian pada Gista.


"Tapi Tante ... keburu polisi datang." Gista mengusap wajahnya dengan kasar.


"Gista!" Mereka menoleh pada Ragas yang berlarian masuk ke ruangan. "Lo .... " Ragas mengatur napasnya sejenak. "Nanti aja lo interogasinya, lagi pula polisi gak bakal ke sini kan kasusnya udah ditutup."


"Apa?" Richo akhirnya mengeluarkan suara. Matanya melotot mendengar penuturan Ragas barusan. Tapi setelah itu dia tak sadarkan diri.


Melihat anaknya pingsan, mama Richo histeris tampak panik. Beruntung mama Ragas sigap memeriksa Richo.


Melihat situasi tak kondusif, Ragas menyeret Gista keluar tak peduli dengan rontaan gadis itu.


"Ragas lepas!" Gista menghempas tangan Ragas dari lengannya. Kini keduanya berada di koridor tak jauh dari ruang rawat Richo.


"Gis, jangan gegabah," ucap Ragas. "Kita musti sabar, jangan sampai usaha kita selama ini sia-sia."


"Tapi ...." Gista tiba-tiba diam, ia tampak berpikir lalu terlintas kata-kata cowok berhodie waktu itu. "CCTV." Gista langsung berlari menuju ruangan Richo lagi.


"Gista, jangan masuk dulu." Mama Ragas yang baru saja keluar, mencegah Gista agar tidak masuk ke dalam. "Richo butuh istirahat."


"Gak Tante, Gista gak mau ganggu Richo kok. Tapi ada yang perlu Gista pastiin di dalam." Gista menerobos masuk, mengabaikan larangan mama Ragas.


Gista berdiri memperhatikan sekeliling ruangan itu. Matanya begitu jeli melihat ke setiap sudut ruangan. Gista tersenyum tipis saat melihat kamera tersembunyi di sudut ruangan dekat pintu.


Gista menarik kursi dan mengambilnya, namun saat akan turun Gista malah kehilangan keseimbangan sehingga ia terjatuh.


Gista memekik, memejamkan matanya. Beruntung ada tangan kokoh yang menangkap tubuhnya dengan sigap. Gista membuka matanya perlahan saat itu netranya bertemu dengan mata hitam milik Ragas.


"Dasar ceroboh," ucap Ragas, tersenyum tipis membuat Gista tak mampu berkedip pesona Ragas seolah mengikatnya untuk terus menatap cowok itu.


Ganteng.


-------


Olan baru saja pulang, dia bergegas masuk ke ruang rahasia. Ruangan di mana hanya dia yang diperbolehkan masuk. Saat Olan membuka pintu, matanya langsung melotot melihat ke layar monitor.


"Shit!!" umpat Olan, dia berlari ke depan komputernya.


Olan panik saat melihat layar monitornya tak menampilkan apa pun hanya gambar blur. Olan mengotak-atiknya, tapi tetap saja tidak bisa.


"Arrrggg! Berengsek!" Olan mengamuk, menghempas keyboard yang ada di depannya. "Siapa yang berani ganggu rencana gue!!" Olan mengetatkan rahang, emosinya membeludak tak lagi terbendung.


Ia mengambil ponselnya di saku celana, menghubungi seseorang. "Lo di mana?" ucap Olan saat sambungan telepon diterima.


"Temui gue di tempat biasa." Olan mematikan sambungan telepon, lalu bergegas keluar dari ruangan itu.


Olan berlari menuruni tangga, langkahnya terhenti di ujung tangga saat melihat seseorang masuk ke rumah. Dia mendecih ketika melihat wajah orang itu. Tersisrat jelas kebencian di wajah Olan.


"Mau ke mana kamu?" tanya orang itu saat Olan berjalan melewatinya. "Olan!" Orang itu menghardik Olan karena dia mengabaikan pertanyaannya.


"Bukan urusan Papa!" tukas Olan kembali melangkah, namun ia berhenti lagi saat suara bariton papanya menginterupsi.


"Hari ini mamamu ulang tahun, kamu harus datang dan jangan berbuat ulah di sana."


Olan memutar bola matanya, dia malas sekali menghadiri acara seperti itu. Orangtuanya akan berakting menjadi keluarga paling sempurna dan Olan sangat membenci hal itu.


"Aku sibuk!" Olan tak berminat hadir.


"Sesibuk apa pun kamu harus datang, jangan kecewain mama kamu."


Olan mendecih, muak mendengar ucapan papanya yang seolah peduli dengan mamanya. Dia tak menggubris ucapan papanya, Olan melangkah pergi meninggalkan sang papa yang masih berdiri di sana memandangi kepergiannya.