
Malam semakin larut, angin berembus kencang. Hawa dingin menusuk kulit, menimbulkan rasa gelisah ketika mata memandang sekitar. Gista terus berjalan di dalam kabut tanpa tahu ke mana tujuannya.
"Ragas!" teriaknya.
Tapi suaranya hanya akan bergema tanpa mendapat sahutan. Gista mulai putus asa, ia memutar tubuhnya ke segala arah, mengedarkan pandangannya. Gista terus berteriak menyerukan nama Ragas.
Hingga sekelebatan bayangan mengalihkan perhatian Gista, ia langsung berbalik tapi bayangan itu menghilang begitu cepat dan muncul di belakangnya. Gista berbalik lagi, tapi lagi-lagi bayangan itu menghilang dan begitu seterusnya.
Brak!
Gista terbangun bersamaan dengan suara nyaring dari kaca jendela yang pecah. Mata Gista melebar, menatap kosong langit-langit kamarnya. Ditambah deru napas yang memburu dan keringat bercucuran di dahi.
Gista meneguk ludahnya kasar, jantungnya masih berdetak kencang seolah yang baru saja terjadi itu nyata bukan mimpi. Ini bukan yang pertama kali Gista mengalami mimpi buruk, ini mungkin sudah kesekian kali semenjak kejadian naas itu.
"Gista." Terdengar suara ketukan pintu dan suara papanya yang memanggil. "Gista, buka. Kamu baik-baik saja, Nak?"
Gista melirik ke samping, kaca jendelanya kembali pecah. Gista beralih menatap ke lantai, ia bangun menyibakkan selimutnya. Gista mengambil gumpalan kertas yang membalut batu besar.
Betapa terkejutnya Gista saat membuka kertas itu.
Tinggalkan Ragas atau Ragas yang akan pergi.
Kertas bertuliskan ancaman dengan warna merah yang Gista yakini itu darah, entah darah ayam atau darah manusia karena baunya yang begitu amis.
"Gista, buka!" Suara ketukan berganti dengan gedoran yang semakin kencang. "Gista, kamu baik-baik saja?" Suara papanya terdengar panik.
Gista menyembunyikan kertasnya ke saku, ia berjalan ke pintu dan membukanya.
"Gista, kamu gak kenapa-napa? Ada yang luka?" tanya papa, memegang kedua bahu Gista dan memperhatikan seluruh anggota tubuhnya. Memastikan Gista baik-baik saja.
"Gista baik-baik saja Pa, cuma kaca jendelanya pecah lagi," jawab Gista, menunjuk kaca jendela kamarnya.
"Lagi?" beo papanya, mengalihkan pandangannya ke kaca jendela. Ia berdecak. "Udah gak bisa dibiarin, papa akan lapor polisi besok, sekarang kamu tidur di kamar tamu saja."
Gista mengangguk, tiba-tiba suara dering ponsel menginterupsi keduanya. Gista menoleh, melihat ponselnya yang berada di atas nakas menyala.
Gista meraih ponselnya, menekan tombol hijau untuk mengangkat telepon dari rumah sakit. "Halo," ucap Gista ketika panggilan tersambung. "Apa?" Mata Gista melebar saat mendengar penuturan dari pihak rumah sakit.
Melihat reaksi Gista yang tampak syok, papanya mendekat. Melemparkan tatapan penuh tanya saat Gista menoleh ke arahnya.
"Pa, Ragas," lirih Gista, menghambur memeluk papanya.
————————
Gista menatap nanar sosok yang terbujur lemas di atas tempat tidur. Matanya terpejam dengan berbagai selang tertancap di tubuh yang jadi alat bantunya. Bunyi detak dari monitor seperti suara bom yang sewaktu-waktu akan meledak. Gista takut ... takut saat waktu itu tiba semua sudah terlambat.
Gista menggenggam tangan Ragas yang begitu dingin, tanpa terasa air matanya kembali jatuh. "Maaf," ucap Gista, satu kata yang akhirnya terucap setelah dua jam hanya berdiam diri dengan bibir membisu.
Gista menelan ludahnya kasar, dadanya terasa sesak dan nyeri. Ia tak kuasa menahan air mata yang menerobos di pelupuk matanya. Tanpa bisa Gista kendalikan air matanya luruh membasahi pipi, mungkin ini akan jadi air mata terakhir yang akan ia tumpahkan di depan Ragas.
"Maaf telah membuatmu seperti ini, maaf, maaf ...." Bibir Gista bergetar, tak mampu melanjutkan ucapan yang telah ia rangkai di dalam benaknya. Semua yang ingin Gista ucapkan tercekat di tenggorokannya.
Belaian di rambutnya membuat Gista refleks mendongak, ia semakin menangis saat melihat sosok wanita yang berdiri di sampingnya. Gista memeluknya erat.
"Tante, maaf. Maafin Gista, ini semua salah Gista." Lagi-lagi kata maaf yang terucap dari bibirnya, rasa penyesalannya begitu besar sampai ia tak tahu bagaimana cara menebusnya.
"Ini bukan salah kamu Gista, ini semua takdir, cobaan untuk tante, kamu dan juga Ragas. Tidak ada yang salah, sudah tante bilang bukan jangan menyalahkan diri sendiri. Ragas gak akan suka jika dia tahu kamu seperti ini." Mama Ragas mengusap kedua pipi Gista, membelai lembut layaknya seorang ibu yang tengah menenangkan anaknya.
"Tapi tetap saja Tante, Ragas gak akan seperti ini jika bukan karena Gista. Ini semua salah————"
"Sssuuut." Mama Ragas menekan telunjuknya di bibir Gista, membuat Gista mengatupkan bibirnya. "Cukup Gista, tante gak suka kamu nyalahin diri kamu terus. Kita doakan saja Ragas agar cepat siuman."
"Tidak Tante." Gista menundukkan kepala, meremas jemarinya berusaha menguatkan diri. "Ragas gak akan sembuh jika Gista masih disamping dia. Gista akan pergi demi keselamatan Ragas."
"Apa?" Mama Ragas menatap Gista dengan alis saling bersahutan, ia tak akan menyangka jika akhirnya Gista akan menyerah setelah satu tahun berjuang menghadapi semua.
Gista mendongak, menatap sayu mama Ragas. "Gista akan kembali ke Korea."