
Gista mengernyitkan dahi saat membuka buku diari berwarna biru. Dia membaca halaman per halaman dan tak menemukan apa pun kecuali catatan Richo, sisanya hanya lembaran kosong yang belum di isi.
"Kenapa Olan nyuruh lo ambil ini?" tanya Gista pada cowok yang ada di depannya.
Cowok itu tak bisa bergerak karena Gista mengikatnya dengan tali, dia bergerak sambil menggerakkan kepalanya.
"Ngomong apa si lo?" Gista menoleh padanya. "Ah, sorry gue lupa." Ternyata Gista lupa membuka lakban di mulut cowok itu, sehingga dia tak bisa bicara dengan jelas.
Cowok itu terengah, dia mengatur napasnya sejenak. "Lepasin gue!" teriaknya.
"Gue lepasin ntar, tapi jawab dulu pertanyaan gue. Kenapa Olan nyuruh lo ambil ini?" Gista menunjukkan buku yang ada di tangannya.
"Gue gak tahu," jawabnya.
"Yakin?" Gista menaikkan sebelah alisnya. "Lo belum kenal gue? Gue bukan tipikal orang yang sabar dan ...." Gista berjongkok di depan cowok itu, tatapannya begitu tajam. "Gue paling benci sama pembohong." Ucapan Gista terdengar datar tapi cukup membuat cowok itu bergidik ngeri.
"Yaa, serius gue gak tau apa-apa. Gue cuma di suruh ambil itu. Gue juga kepaksa, Olan terus ngawasin gue." Cowok itu mulai putus asa, bahkan ia terlihat ingin menangis. "Cuma satu yang gue tahu, Olan sangat terobsesi dengan buku diari Richo, dia juga sampai pasang CCTV di ruang rawat Richo."
"Apa?" Gista semakin bingung, untuk apa Olan melakukan itu semua? Pasalnya dalam buku diari pun tak ada sesuatu yang mencurigakan.
Gista kembali mengecek buku diarinya, takut ia melewatkan sesuatu. Hasilnya sama, hanya dibagian akhir yang ia lewatkan tapi itu hanya berisi alamat. Gista merobek kertas terkahir, memasukkannya ke saku celana.
"Kalau lo gak mau mati, jangan pernah kasih tau Olan soal kejadian ini. Berpura-pura aja seperti gak ada apa-apa mengerti!" tukas Gista setelah melepaskan ikatan cowok itu.
"Iya," jawabnya.
Gista melemparkan buku diarinya lalu melangkah pergi dari tempat gelap itu. Dia akan pergi menuju alamat yang Richo tulis tadi.
——————
Gista berdiri di depan gerbang, dia mendongak membaca tulisan di gapura atas. Panti asuhan? Gista melangkahkan kakinya ke dalam.
"Cari siapa?" Gista tersentak, dia berbalik menatap orang yang bertanya.
"Em ... apa bener ini rumah Richo?" tanya Gista pada wanita paruh baya seumuran mama Richo.
"Oh, temennya nak Richo ya. Tapi nak Richo nya ada di ru————"
"Saya tahu," potong Gista. Wajah wanita itu berubah jadi bingung. "Saya ke sini cuma mau memastikan satu hal."
"Tentang apa?" tanya wanita itu.
"Alisya." Wanita itu tampak terkejut saat Gista menyebut nama Alisya. "Bu?" Gista melambaikan tangannya di depan wajah wanita itu yang sepertinya syok. "Ibu!"
"Ah, iya. Silahkan ikut saya." Gista pun berjalan mengikuti wanita itu ke ruangannya.
Wanita itu pengurus panti, dia mengurus panti ini bersama mama Richo sejak muda setelah suaminya meninggal karena kecelakaan. Sementara wanita itu janda tanpa anak, suaminya pergi entah ke mana.
Wanita itu menceritakan semua hal tentang Richo dan Alisya. Mereka tumbuh bersama di panti asuhan, keduanya sangat dekat hingga suatu hari Alisya diadopsi dan mereka berpisah sejak saat itu. Orangtua angkat Alisya pergi keluar kota membawanya.
Gista bergegas pamit setelah mendapat semua informasi dari Alisya. Kini dia hanya perlu mencari tahu soal informasi ayah angkat Alisya.
Saat diperjalanan tiba-tiba ponselnya berbunyi, Gista menghela napasnya sesaat. Kenapa juga Ragas terus menghubunginya setiap jam.
"Halo." Gista terdiam karena Ragas memberondongnya dengan banyak pertanyaan. "Gue dari panti, ini lagi mau ke rumah sakit lagi."
" .... "
"Iya." Gista menutup sambungan teleponnya.
Tak lama bus berhenti di halte, Gista segera turun lalu datang mobil mercedes-benz berwarna hitam berhenti di depannya.
Kaca jendela belakang terbuka, Gista memutar bola matanya saat tahu siapa yang ada di dalamnya.
"Masuk," perintah orang itu.
"Papa mau bicara sama kamu." Gista menoleh.
"Gak ada yang perlu dibicarain lagi Pa, anggep aja aku udah mati sama seperti mama."
"Sekali ini saja Gista, papa akan penuhi apa pun yang kamu minta."
"Oh, ya?" Gista menaikkan sebelah alisnya. Papa Gista mengangguk. "Oke. Tapi aku gak bisa lama-lama, aku sibuk." Gista masuk ke mobil.
Sepanjang perjalanan, Gista memilih diam. Mengabaikan papanya, dia memalingkan wajahnya keluar jendela. Hingga mobil itu berhenti di sebuah restoran. Dia turun berjalan masuk mengikuti langkah papanya.
"Kamu mau makan apa?" tanya Papanya saat keduanya sudah duduk di pojok.
"Terserah," jawab Gista.
Papa Gista menghela napasnya, dia pun tak bertanya lagi. "Samain aja Mba," ucap papa Gista pada pelayan.
Setelah kepergian pelayan keadaan kembali hening. Atmosfir ruangan itu begitu menyeramkan. Tampak jelas aura kebencian yang diperlihatkan Gista.
"Maafkan Papa Gista," ucap papanya memecah keheningan. Karena di restoran itu hanya ada mereka berdua, papa Gista sengaja mem-booking-nya.
"Maaf buat apa?" Gista tampak tak berminat dengan pembicaraan itu.
"Karena sudah mengusir kamu———"
"Oh!" sela Gista memotong ucapan papanya.
"Papa gak berniat mengusir kamu, papa hanya ...."
"Hanya apa?" Kini Gista menatap papanya.
"Papa khilaf Gista. Papa menyesal, tidak seharusnya papa mengusir kamu. Maafkan papa, tapi papa hanya ingin melindungi martabat keluarga kita."
"Kita?" beo Gista lalu tertawa sinis. "Martabat keluarga Papa bukan kita, karena aku bukan bagian dari kalian."
"Gista, maafkan papa. Kamu mau pulang kan? Papa sudah siapkan tiket buat kamu study di Amerika. Bukanya kamu pengen banget sekolah di sana."
"Papa mau buang Gista lagi?" Gista segera bangkit. "Aku pikir Papa udah berubah, tapi nyatanya sama saja. Kali ini Gista gak bakal pergi Pa. Cukup mama yang diperlakukan tidak adil."
"Bukan begitu Gista, maksud Papa ...."
"Sudahlah, Gista tahu kok. Papa merasa terancam bukan? Tapi Gista gak peduli, Gista gak bakal mundur Pa. Sekalipun harus jeblosin Papa ke penjara." Gista tersenyum miring.
Gista melangkah pergi meninggalkan papanya tepat saat pesanan mereka datang.
"Papa cuma mau lindungi kamu Gista, terlalu berbahaya untuk kamu ikut dalam lingkaran masalah ini. Cukup papa saja yang terjebak, jangan kamu."
"Pak Kim," panggil William.
"Iya, Tuan." Pak Kim menghadap William.
"Awasi terus Gista, pastikan dia aman. Jangan biarkan kepala sekolah itu mendekat apa lagi sampai mencelaki Gista."
"Baik Tuan."
"Satu lagi, awasi Tristan dan Valery jangan sampai mereka berdua membuat ulah lagi."
"Baik Tuan."
"Duduk, temani saya makan," ujar William.
Keduanya pun makan dengan tenang. Sementara Gista sudah kembali ke rumah sakit saat Ragas meneleponnya.