
Gista menggerutu sepanjang jalan, ia benar-benar kesal dengan Richo. Hingga Gista tersadar ada yang mengikutinya dari belakang, Gista menarik sudut bibirnya. Sepertinya hari ini ia butuh peregangan.
Gista sengaja mengambil koridor menuju kamar jenazah, di mana koridor itu sangat sepi di waktu petang seperti ini. Sesuai prediksinya, orang itu masih mengikuti. Gista berbelok di tikungan depan dan langsung bersembunyi di balik dinding.
Orang yang mengikutinya tampak celingukan, ketika kehilangan jejak Gista dan saat itulah Gista tiba-tiba muncul dari persembunyiannya. Ia langsung memiting tangan orang itu ke belakang punggung.
"Awww ...!" pekik orang itu.
Gista mengernyitkan dahi, ia seperti pernah mendengar suara itu. Tapi di mana? Siapa? Gista tampak mengingat-ingat tanpa melepas cengkramannya yang semakin kuat, tak peduli dengan erangan kesakitan orang itu.
Anak buah Olan!
Sial!
Ya, Gista ingat. Ia yakin jika orang ini sama dengan cowok berhodie waktu itu. Gista langsung menarik kupluk hodie dan melempar masker yang dikenakan orang itu.
"Wow!"
"Lo, ternyata?" Gista terkekeh, ketika dugaanya benar. "Lo belum kapok?"
"Arghh, ampun ... gue terpaksa ngelakuin ini." Cowok itu meringis, menahan sakit akibat pitingan tangan Gista.
"Jangan-jangan ... lo yang ngancem Richo?" tuduh Gista blak-blakan.
Cowok itu tak menjawab, dia memilih bungkam. Hal itu jelas membuat Gista kesal. Gista menendang kaki cowok itu sampai refleks berlutut.
"Lo gak mau jawab? Atau lo mau gue pakai cara kasar," bisik Gista di belakang telinga cowok itu.
Mendengar suara Gista cukup membuatnya bergidik ngeri, apalagi membayangkan apa yang akan di lakukan Gista. Akhirnya cowok itu pasrah, ia mengangguk.
"Good." Gista menyunggingkan senyumnya. Sepertinya ia punya ide untuk menyelesaikan kendala soal Richo.
"Lo mau bawa gue ke mana?" Cowok itu berontak saat Gista menarik kupluk hodienya, membuat dia ikut terseret.
"Diem!" bentak Gista. Ia terus menyeret cowok itu ke ruangan Richo, mengabaikan orang-orang yang melihatnya.
Sesampainya di ruangan Richo, Gista langsung menghempas cowok itu sampai terjatuh di samping ranjang. Richo yang memang tidak tidur segera membuka matanya, ia mengernyitkan dahi. Bingung melihat Gista berdiri di depan pintu.
Seolah tahu arti tatapan Richo, Gista berjalan mendekat, menarik hodie cowok itu agar berdiri. "Dia yang ngancam lo," tukas Gista.
"Apa?" Richo tak paham apa maksudnya, ia menoleh melihat cowok yang berdiri di samping Gista. Cowok itu terus menunduk, menyembunyikan wajahnya.
"Heh! Ayo ngaku! Atau lo mau gue————"
"Oke, oke," sergah cowok itu ketika Gista kembali mengancam. Ia mengangkat wajahnya dan saat itulah Richo melebarkan matanya. "Maaf," lirih cowok itu.
"Rian!" pekik Richo.
"Lo kenal?" tanya Gista, lalu menoleh pada cowok di sampingnya. "Nama lo Rian?" Cowok itu mengangguk.
"Dia temen sebangku gue," ucap Richo, matanya masih melihat Rian.
"Oh, oke. Gue kasih waktu kalian bicara kalo gitu." Gista langsung keluar meninggalkan Richo dan Rian yang masih saling diam.
———————
"Lo lagi main futsal?" Gista menyenderkan bahunya di dinding, tampak lelah dengan semua yang dilalui hari ini. "Em ... oke. Gue tunggu di lobi." Gista mematikan sambungan telepon dengan Ragas.
Ia menghela napas sejenak, lalu berbalik menuju ruangan Richo. Rian sudah pulang saat Gista memasuki ruangan Richo. Sementara Richo sendiri tampak terduduk dengan pandangan kosong ke depan.
"Ehem!" Gista berdehem, mengisyaratkan keberadaannya tapi sepertinya itu tidak mempengaruhi Richo. Dia sama sekali tak bergerak atau menoleh pada Gista.
"Kalian akrab?" tanya Gista, ia berdiri ke dekat nakas. Memperhatikan foto Richo dan Alisya.
"Dari kelas X," jawab Richo tanpa memalingkan wajahnya. "Dulu gue nolongin dia waktu dibulli." Gista mengangguk, tampak tak berminat dengan percakapan tentang Richo dan Rian.
"Terus?" Gista mengangkat foto Alisya dan Richo. Saat Richo tak bicara barulah Gista menoleh dan mendapati Richo tengah menatapnya. "Why?"
"Lo saudara Valery bukan?" tanya Richo.
Gista meletakkan kembali foto itu. "Saudara tiri."
"Terus kenapa lo mau ngungkap kasus Alisya, bukankah itu beresiko buat Valery dan Tristan?"
"Kenapa?" Richo mengernyitkan dahinya, bingung.
"Karena memang mereka pantes buat dapetin itu." Tatapan Gista begitu tajam, tersirat jelas dendam membara di kedua matanya.
"Gue gak bisa bantu."
"Gak mau bukan gak bisa." Gista mencebikkan bibirnya. Gista membuang mukanya, malas bertatapan dengan Richo.
"Tapi gue bisa kasih petunjuk." Gista segera berbalik, wajahnya tampak antusias. "Ponsel."
"Ponsel?" beo Gista.
Kenapa ponsel?
"Ponsel Alisya. Lo musti cari ponsel Alisya," ucap Richo.
"Kenapa?" Gista menatap heran Richo.
"Karena semua bukti tersimpan di ponsel Alisya."
"Lo yakin?" Richo mengangguk.
"Diari dan ponsel, tapi gue yakin yang dibuku diari sudah diambil. Jadi tinggal di ponsel, kecuali ponselnya bisa dibuka dan dihapus."
"Tapi, polisi aja gak nemuin ponsel Alisya."
"Gue yakin ada yang ngambil, ponsel Alisya berwarna pink dengan gantungan hati setengah," jelas Richo.
Gista terdiam, berusaha mengingat-ingat. Sepertinya ia pernah melihat gantungan kunci berbentuk setengah hati selain di ruangan Richo. Tapi di mana? Gista terus berpikir keras, hingga sekelebatan memori melintas di pikirannya.
Laci!
Gista melihat Richo yang sama sedang menatapnya. "Gue tahu di mana ponsel Alisya."
"Di mana?" tanya Richo yang penasaran.
"Ada, lo tenang aja. Gue bakal temuin ponsel Alisya dan seret para bedebah itu!" seru Gista sebelum pergi meninggalkan ruangan Richo.
Gista berlarian di koridor rumah sakit, ia terus memacu langkah kakinya sampai di depan lobi bertepatan dengan Ragas yang baru saja tiba.
"Gis." Ragas melambaikan tangannya. Ia turun dari motor melepas helmet.
"Gas, gue pinjem motor lo dulu." Ragas melongo saat Gista merebut kunci motor dari tangannya, hingga ia tersadar saat suara mesin motornya berbunyi.
"Lo mau ke mana?" Ragas menahan lengan Gista.
"Bentar doang kok." Gista memutar motornya.
"Tapi Gis—————"
"Bye, Ragas." Gista memacu motornya meninggalkan Ragas.
————————
Hujan lebat mengguyur komplek perumahan Olan. Hal itu membuat Olan urung untuk keluar, ia kembali masuk dan merebahkan diri di atas ranjang.
Olan mendengus geli, mengingat bagaimana seharian ini ia menghabiskan waktunya bersama Gista. Tiba-tiba perasaan aneh itu kembali menyergap, menghangatkan hatinya.
Apa mungkin Olan jatuh cinta? Sepertinya begitu.
Olan melihat layar ponselnya, ia tersenyum geli saat menatap wallpaper ponselnya. Foto yang ia ambil tadi sore, foto ketika Olan mencuri ciuman Gista. Meski berakhir mendapat tinju dari Gista.
Olan mengusap bibirnya, membayangkan bibirnya mengecup sekilas sudut bibir Gista. Hal yang selalu Olan sukai. Hingga suara bel membuyarkan lamunan Olan.
Olan berdecak, ia segera turun dari ranjang. Olan menggerutu saat bel terus berbunyi, mengingat di rumah ini tidak ada pelayan yang menginap mau tidak mau Olan harus membuka sendiri.
Olan membuka pintu, ia melebarkan matanya saat mendapati seseorang berdiri di depan rumahnya dengan keadaan basah kuyup.
"Gista!"