
Gista memutar bola mata, jengah melihat dua mahluk di depannya yang sedang berdebat. Dia turun dari motor, melangkahkan kakinya menuju kelas.
Terdengar teriakan Qween yang memanggilnya. Tapi Gista tak peduli, dia tetap berjalan. Tiba-tiba dia berhenti, menatap sebal cowok yang menghadangnya.
Saga!
Emosi Gista mencuat seketika. Cowok menyebalkan itu menatapnya dengan ekspresi datar. Gista tersentak saat tangannya di tarik paksa oleh Saga.
"Lepas!" pekik Gista. Berusaha menahan tubuhnya, namun Saga terlalu kuat. Cowok itu dengan mudah menyeretnya. "Cowok rese! Osis gila! Lepas!!" Gista terus berteriak hingga mereka berdua jadi pusat perhatian.
"****!" umpat Gista ketika tubuhnya di hempas. Dia menatap Saga dengan penuh kebencian. "Mau lo apa si?!" teriak Gista, tak mampu lagi membendung emosi yang berkobar.
Saga mengembuskan napasnya kasar, menatap Gista dengan tajam. "Kenapa lo gak pake atribut MOS?"
Gista mendecih. "Males," jawabnya, memalingkan wajahnya ke arah lain. "Lagian suka-suka gue lah mau pake atau gak? Ngapain lo sewot narik gue segala!" gerutu Gista.
Saga mengetatkan rahang, Gista benar-benar memancing kemarahannya. "Ganti!" Saga menyodorkan seragam pada Gista.
"Ogah!" Gista mendorong seragam itu, melipat tangan di depan dada. Dia melirik sinis Saga yang semakin geram dibuatnya.
"Ganti! Atau ...." Saga menaikkan sebelah alisnya, menyeringai pada Gista. "Lo mau gue yang gantiin," bisik Saga.
Gista melotot, lalu tersenyum miring. "Ogah! Kok lo maksa si!" Gista semakin sewot.
"Oke, gue ...." Saga mengerjapkan mata karena ulah Gista.
"Apa? Lo mau bukain? Nih gue bukain!" Gista membuka kancing bajunya.
Saga mengumpat dalam hati, merutuki tindakan gadis gila di depannya. Dengan cepat dia membalik tubuh Gista menghadap pintu masuk toilet.
Gista berdecih. Melirik Saga yang memunggunginya. "Kenapa lo? Katanya mau ...."
"Gak napsu gue!" sela Saga. Susah payah dia mengontrol emosinya. Deru napas yang semakin menggebu, keringat mulai bercucuran di dahi. Sial!
"Yakin?" Gista berbalik, lalu menarik Saga agar menghadapnya. "Katanya gak napsu, ngapain tutup mata?" Gista terkekeh, menertawakan tingkah Saga. "Buka, ni gue buka ... mau lihat?"
"****!" Saga menggeram, dia langsung membalik tubuh Gista. Mendorongnya masuk ke salah satu bilik. "Ganti! Atau lo gue garap di sini!" Saga memberikan seragam kepada Gista, setelah itu bergegas keluar.
Saga bersandar di tembok, mengatur napasnya yang memburu. Dia memegangi dadanya, detak jantungnya tak karuan. "Gila!" Saga tak habis pikir dengan tingkah Gista yang kelewat frontal.
Tak lama Gista keluar, dia sibuk menarik-narik seragamnya. "Lo gak salah kasih gue baju?!" celetuk Gista, menyadarkan Saga dari lamunannya.
Cowok itu menoleh. Sesaat Saga terdiam, menatap Gista dari atas sampai bawah. Meskipun garang, gadis itu terlihat cantik. Terlebih seragam yang diberikannya, sangat pas di tubuh gadis itu. Terlihat jelas lekuk tubuh Gista yang indah.
"Kenapa lo? Malah bengong!" Gista mendengkus, dia merasa tak nyaman dengan seragamnya yang agak ketat.
"Pake!"
"Apaan nih?" Gista menatap heran pada dua pita yang ada di tangan Saga.
"Pake! Gue gak mau tau! Atau lo gue hukum lagi!" ucap Saga, lalu pergi meninggalkan Gista.
"Dasar ketos GILA!!" teriak Gista.
———————
Gista benar-benar risih, semua anak memperhatikannya. Menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kenapa lo semua? Mau gue culek mata kalian!" sarkas Gista pada anggota kelompoknya.
Dia memandang papan nama yang di kalungkan di lehernya. Kaktus! Gak ada nama yang bagusan dikit apa? Tak lama Saga datang menghampiri kelompoknya.
"Kalian semua udah dapet misinya?" tanya Saga. Serempak mereka menggeleng. "Gimana sih si Qween," gerutu Saga. "Yaudah kalian bentuk tim, satu tim dua orang."
Anak-anak langsung berpencar mencari pasangan masing-masing. Terisa dua orang, Gista dan Zee. Terlihat Zee menekuk wajahnya pasrah.
"Kamu." Saga menunjuk Zee. "Kamu sama dia, kalian selesain misi ini!" perintah Saga menunjuk Gista, sembari memberikan kertas pada Zee.
Gista tampak tak peduli, dia segera melenggang pergi. Diikuti Zee yang berlari mengejarnya. Mereka berdua harus menemukan tiga benda yang tertulis di kertas.
"Pulpen!" teriak Zee, menunjuk pulpen yang di ikat di tiang. Dia segera mengambilnya.
"Berapa lagi?" tanya Gista. Mereka kembali melangkah menuju belakang sekolah.
"Sapu tangan udah, pulpen udah. Berarti satu lagi, surat pink!" seru Zee.
Mereka mencari-cari keberadaan surat yang di maksud tapi tak kunjung di temukan. Gista menyeka keringat yang membasahi dahi. Dia menoleh pada Zee.
"Ngapain lo lihatin gue kaya gitu?" Zee yang kepergok langsung salah tingkah.
Zee memejamkan mata, merutuki kesialannya karena ketahuan oleh Gista. "Em ... anu ...." Zee mengusap tengkuknya, tampak gugup.
"Lo kenapa si? Lo takut sama gue? Gue gak gigit kalee!" Gista duduk di samping Zee. "Kenapa semua anak juga ngeliatin gue aneh banget, emang gue salah apaan coba!" gerutu Gista.
"Karena lo dapet kartu merah ... mmpb." Zee refleks membekap mulut. Mengumpati mulutnya yang keceplosan.
"Maksud lo?" Gista menaikkan sebelah alisnya, menatap heran Zee.
"Ah itu ... ayo cari lagi, bentar lagi bel istirahat bisa dihukum kita kalo gak dapet." Zee segera bangkit, namun Gista dengan cepat menarik rambutnya. Hingga gadis itu memekik memegangi rambut yang dijambak Gista.
"Aaaaa ... sakit!" jerit Zee.
"Kasih tahu gue, maksudnya kartu merah apa?" Gista semakin menarik kasar rambut Zee.
"Okeh, lepasin dulu," cicit Zee. Mau tidak mau dia menceritakan semua yang dia tahu tentang kartu merah.
Gista berdecak. "Jadi ... maksud lo karena gue dapet kartu merah, semua anak gak boleh deket-deket sama gue!" kata Gista. Zee langsung mengangguk. "Aturan dari mana?"
"ALASTOR!" sahut Zee.
ALASTOR?
Mereka siapa si? Gista gak habis pikir dengan aturan konyol itu. Apalagi dia juga merasa tidak membuat masalah apapun dengan mereka. Aneh!
"Yah bentar lagi bel, kita masih kurang satu lagi." Suara Zee menyadarkan Gista.
Keduanya bangkit lanjut mencari. Mereka berjalan ke samping gudang. "Lo yakin di sini?" tanya Gista. Zee mengangguk.
"Kalo sesuai denah si, di sekitar sini." Zee tampak celingukan. "Nah itu dia!" seru Zee menunjuk ke atas pohon. "Gis ...." Gadis itu menatap Gista dengan tatapan memohon.
Gista mendengkus. "Iya gue yang naik, puas!!" Zee terkekeh. Lalu tanpa banyak omong, Gista langsung naik ke atas pohon.
"Hati-hati Gis," teriak Zee dari bawah.
Sial! Gista mengumpati para osis yang mengerjai dirinya. Bayangkan saja surat itu di letakkan diujung ranting, mau tidak mau Gista musti hati-hati mengambilnya. Karena kalo salah langkah dia bisa terjatuh.
"Gis," teriak Zee. Gista menoleh ke bawah. "Gue kebelet pipis, boleh ke toilet dulu gak?" rengek gadis itu.
Gista menghela napasnya kasar. "Yaudah sono!" Zee langsung berterimakasih lalu lari terbirit-birit menuju kamar mandi.
Gista dengan hati-hati meraih surat yang diikat di ranting, dia berpegangan dengan ranting pohon yang lain. "Yes, dapet!" seru Gista saat mendapatkan surat pink itu.
Tiba-tiba saja Gista merasakan ada sesuatu yang merayap di tangannya. Dia menoleh, matanya seketika membulat sempurna. Gista memekik, panik saat melihat ulat bulu di tangannya.
Gista mengibas-ngibaskan tangan, hingga pegangannya terlepas. Dia hilang ke seimbangan, dan terjatuh.
"Aaaaaaaaa ...." jerit Gista.
Dia sudah pasrah jika akan berakhir jadi perkedel saat terjatuh ke bawah. Gista memejamkan matanya. Kasur, kasur gue batuh kasur!
Gista mengerjapkan mata saat tubuhnya ditangkap seseorang. Dia mengangkat wajahnya, menatap cowok yang menolongnya.
Gista melirik bed nama cowok itu.
Alfa sadewo!