
Gista termenung, menatap skema di layar ponselnya. Arka bilang dulu Valery dan Alisya berteman baik. Lalu, apakah Valery punya peran penting dalam kasus ini?
Pikirannya tiba-tiba kacau oleh suara Farel. Gista menolehkan kepala pada Farel yang sedang meninju samsak.
"Apa?"
"Lo dari tadi gak dengerin gue ngomong?" Farel berdecak kesal, pasalnya sejak tadi dia terus mengoceh sendirian.
"Penting?" Gista kembali fokus pada layar ponselnya.
"Gue kapan latihan bela dirinya? Perasaan dari kemarin ninju samsak mulu," gerutu Farel.
Gista mengembuskan napas, lelah. Kenapa Farel harus secerewet ini, benar-benar menyusahkan. Andai saja dia tidak berjanji waktu itu, mungkin Gista tak perlu berurusan dengan bocah tengil ini.
"Lo gedein dulu otot, baru belajar yang lain. Kalo lo mau belajar karate atau bela diri lain, minta papa suruh kirim pelatih. Gue sibuk."
Farel mendengkus, mendengar jawaban Gista. Dia kembali meninju samsak sekencang mungkin, melampiaskan kekesalannya.
Gista kembali termenung, melanjutkan pikirannya yang tadi. Hingga terlintas sebuah ide. Kenapa dia tidak terpikirkan sejak tadi. Farel pasti tahu soal teman-teman Valery. Apalagi, Valery dan Alisya sangat dekat dulu.
"Rel," panggil Gista.
"Hm." Farel hanya bergumam, tanpa mau memalingkn wajahnya.
"Lo kenal semua temen kakak lo?"
"Siapa? Valery atau Tristan?"
"Valery."
"Em ...." Farel tampak berpikir sejenak. "Gue cuma kenal satu orang, yang sering di ajak ke sini dulu. Tapi gue denger dia baru aja meninggal."
Gista terperanjat, jawaban Farel tepat sasaran. "Alisya maksud lo?"
"Iya, Valery dulu anak baik. Tapi semenjak berteman dengan si cabe kering, jadi kaya cabe-cabean mampang," ucap Farel.
Baru Gista akan bertanya lagi, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan Valery tengah berdiri di sana dengan tatapan tak suka.
"Farel, dicari mama!" serunya.
Farel mengembuskan napas, dia melepas sarung tinjunya. "Thank's," ucapnya sebelum pergi.
Gista hanya mengangguk, dia menoleh lagi ke pintu. Valery masih menatapnya dengan tajam. Gista mengedikkan bahu, enggan menanggapi.
Setelah kepergian Farel dan Valery, Gista kembali merebahkan diri. Dia masih berkutat dengan skema yang ia buat. Gista melingkari foto Valery. Sepertinya dia harus bergerak mencari info lebih banyak. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Gista segera mengangkatnya.
"Halo Gas, kenapa?" Gista mengerutkan keningnya, dia tampak terkejut dengan informasi yang diberikan Ragas. "Oke, lo jemput gue sekarang. Tempat biasa."
————
Gista menghela napasnya, kini ia berada di mobil Ragas yang terparkir di tepi jalan. Tatapannya tertuju pada club Lexus di seberang jalan.
"Jadi, bukan Leon pelakunya?" Gista sedikit kecewa, ia pikir akan mudah menangkap pelakunya. Tapi nyatanya masalah ini sangat rumit, karena banyak orang yang terlibat di dalamnya.
"Leon bilang, emang dia yang posting di grup wibo. Waktu itu dia gak sengaja liat Alisya dan Valery ke club ini, karena Leon kecewa ditolak Alisya. Makanya dia lakuin itu." Ragas mengembuskan napasnya sejenak. "Seperti yang lo tahu, Alisya target permainan kami. Siapa yang bisa pacarin Alisya bakal dapet hadiah dari Olan."
"Hadiah?" Gista menolehkan kepalanya pada Ragas.
"Bugatti Veyron," jawab Ragas yang ikut menoleh.
"Daebak!" seru Gista. Gak main-main hadianya, mobil sport mahal. Apa Olan seroyal itu? Pikir Gista.
"Dia emang udah mantau Alisya, di semua akun sosmednya. Makanya cuma dia yang tahu soal postingan Alisya di situs kencan berbayar," jelas Ragas.
"Berarti target kita selanjutnya Valery." Gista langsung mengambil ponselnya, menghubungi seseorang.
"Halo." Gista me-loudspeaker panggilannya. "Gimana?"
"Lo bisa lewat belakang, keamanan di belakang cuma dijaga satu orang. Terus masuk ke ruang kendali, lo pasang flashdisk yang tadi gue kasih. Lo masih inget kan caranya?"
"Udah, gitu doang?"
"Iya, sisanya biar gue yang urus."
"Oke." Gista menutup panggilan telepon dengan Rico. Dia bersiap memakai masker dan topi hitam.
"Kalo lo takut, mending di mobil aja." Gista menepis tangan Ragas dari lengannya.
Ragas mengembuskan napasnya dengan kasar, Gista memang keras kepala. Mau tidak mau dia harus ikut, Ragas tak mungkin membiarkan Gista beraksi seorang diri.
"Biar gue aja, lo yang ngecoh mereka. Kalo gue berhasil besok lo musti jalan sama gue." Ragas langsung merebut flashdisk di tangan Gista.
Dia masuk lewat pintu depan karena memang Ragas sudah punya KTP. Sementara Gista masuk lewat pintu belakang.
Ragas mencari ruang kendali yang dimaksud Toni, dia mengendap-endap agar tak ada yang mencurigainya. Ragas memejamkan matanya saat akan masuk ke ruangan itu, ternyata di dalam ada yang jaga.
"Lo kenapa masih di sini?" bisik Gista yang baru saja datang.
"Lo gak liat di dalam ada yang jaga."
Gista mengintip ke dalam. Benar saja, sepertinya Gista harus mengecohnya. "Biar gue yang urus."
"Permisi." Gista masuk ke dalam. Berjalan sempoyongan. "Boleh minta tolong. Saya sepertinya tersesat ... aduh kepalaku pusing." Gista menjatuhkan tubuhnya ke orang yang duduk di depan layar.
"Mba, ngapain si? Aduh pake segala pingsan." Orang itu sudah akan memanggil bantuan lewat HT, namun dengan cepat Gista menahannya.
"Bisa antar saya keluar. Please. Saya gak suka dikasarin. Penjaga yang lain kasar." Gista memainkan telunjuknya di dada pria itu.
Terdengar helaan napas kasar dari pria itu. Tanpa berkata dia segera merangkul Gista yang berpura-pura mabuk. Mengantarkannya keluar.
Gista mengedipkan sebelah matanya pada Ragas yang tengah bersembunyi dibalik tembok. Ragas pun langsung masuk ke dalam. Dia segera memasang flashdisk ke CPU. Sesekali Ragas akan celingukan, memastikan kondisi aman.
"Yes!" seru Ragas setelah berhasil me-copy semua data. Dia bergegas keluar, memakai hodienya agar tidak ketahuan.
"Gimana?" tanya Gista, ketika Ragas masuk ke dalam mobil.
"Besok gue jemput jam tujuh, dandan yang cantik." Ragas mengedipkan sebelah matanya, dia segera menghidupkan mobilnya dan pergi dari sana.
"Yaaa, maksud lo apa?" tanya Gista. Keduanya dalam perjalanan menuju tempat Toni.
"Gue bershasil." Ragas menunjukkan flashdisk ditangannya. Ragas langsung menyembunyikannya saat Gista berniat merebutnya.
"Ragas, bawa sini," pinta Gista.
"Tepatin dulu janji lo."
"Kyaa!! Gue gak janji, tapi lo sendiri yang mau kan!" Gista mendengkus.
"Yaudah gue lempar keluar nih," ancam Ragas, dia sudah membuka kaca jendela. Bersiap melemparkan flashdisk yang ia pegang.
"Oke, oke. Jam sepuluh. Gue gak biasa bangun pagi waktu weekend."
"Deal." Ragas melemparkan flashdisknya ke Gista.
Tak lama mereka sampai juga di kediaman Toni. Gista dan Ragas menunggu Toni di dalam mobil, pria itu tengah berjalan menghampiri.
"Kalian berhasil?" tanya Toni saat masuk ke mobil Ragas.
"Cepet lo cek sekarang." Gista memberikan flashdisk-nya.
Toni mendengkus, sikap Gista memang sangat menyebalkan. Sok bossy. Dia pun segera memasang flashdisk ke laptop yang dibawanya.
"Lo nyuruh gue ngecek semua rekaman CCTV-nya? Bisa sampai besok juga gak kelar," gerutu Toni.
Gista menghela napasnya, lalu ia teringat dengan postingan itu. Gista segera membuka ponselnya, mencari screenshoot yang ia simpan di galeri.
"Lo cek dari tanggal 14 Januari coba. Sekitaran tanggal segitu lah," ucap Gista.
Toni pun segera mengeceknya. Dia yang memang bekerja dibidang IT, tak kesusahan untuk mencarinya. Dengan cepat Toni bisa menemukan apa yang mereka cari.
"Coba liat mana fotonya?" Gista segera memberikan ponselnya pada Toni. "Perfect." Toni mencocokan foto Alisya dengan rekaman CCTV.
Toni tersenyum lebar, dia menunjukkan rekaman CCTV pada tanggal 12,14,15 Januari. Baik Gista maupun Ragas sama-sama tercengang, melihat rekaman yang menunjukkan Alisya tengah bersama Valery dan Qween.
Bukan hanya itu, fokus Gista justru tertuju pada rekaman tanggal 15 Januari. Alisya tidak datang bersama dengan Valery maupun Qween. Namun sesosok pria yang tidak asing bagi Gista.
"Tristan!"